Indonesia

Ada Sejak 2015, SMA Negeri Ini Ternyata Belum Miliki Gedung

BORONG, TIMEX – Miris, sejak dibentuk tahun 2014, SMA Negeri 8 Poco Ranaka, belum memiliki gedung. Untuk bisa KBM, terpaksa numpang di SMP Negeri 7 Poco Ranaka.

Sebelum Bupati Matim, Yoseph Tote menerbitkan surat izin operasional sebagai dasar atau legalitas hukum tahun 2014, masyarakat sudah serahkan lahan untuk dibangun gedung SMA Negeri 8. Luas lahan 10.000 meter persegi.

Lokasinya lahan SMA Negeri 8 Poco Ranaka, tidak jauh dari SMP Negeri 7 Poco Ranaka. Tepatnya di Kampung Nul Desa Pocolia. Selama empat tahun, KBM dilaksanakan sore hari. Sedihnya, jika ada kegiatan ekstra dari SMP Negeri 7 Poco Rana, maka terpaksa KBM SMA diliburkan.

Tokoh masyarakat Poco Ranaka, Hariyanto Taris kepada Timor Express, Jumat (1/6) mengatakan,  sudah empat tahun SMA Negeri 8 Poco Ranaka terkesan tidak pernah diperhatikan pemerintah. Baik Pemkab Matim maupun Pemerintah Provinsi NTT. Pasalnya, sekolah itu belum ada gedung.

“Sangat kasihan dengan kondisi SMA Negeri 8 Poco Ranaka. Sejak 2014 berdiri dan sampai sekarang belum juga ada gedung sendiri. Sepertinya ini sekolah tidak ada perhatian dari pemerintah. Padahal, lahan untuk bangun sekolah sudah diserahkan oleh masyarakat,” kata Hariyanto.

Menurutnya, selama kewenangan masih di Pemkab Matim, tidak ada tanda-tanda gedung dibangun. Saat ini, sudah jadi kewenangan Pemerintah Provinsi NTT, namun belum juga ada tanda-tanda untuk dibangun. Masyarakat sangat kecewa. Karena alasan gedung, banyak anak atau siswa tamatan SMP asal wilayah sekitar Pocolia memilih SMA di tempat lain.

“Banyak anak-anak tamatan SMP asal sekitar wilayah ini senang untuk sekolah di SMA Negeri 8. Alasannya karena dekat. Tapi karena belum ada tanda-tanda dibangun gedung, mereka terpaksa cari SMA di luar. Mereka tidak sekolah sore hari dan sangat tidak mau untuk nebeng. Kami harap pemerintah provinsi untuk perhatikan nasib SMA 8,” katanya.

Kepala SMA Negeri 8 Poco Ranaka, Hendrikus Jemi kepada Timor Express, Jumat (1/6) mengatakan, sekolah yang dipimpinya berdiri sejak Juli 2014. Sampai usianya sudah empat tahun, belum mendapat bantuan sarana berupa fisik gedung.

Selama ini kata Hendrikus, KBM masih terus nebeng di sekolah terdekat, yakni SMP Negeri 7 Poco Ranaka.

“Sejak sekolah ini berdiri, kami menjalin kerja sama dengan SMP Negeri 7. Beruntung pihak SMP masih mau terima kami untuk nebeng. Kami KBM sore hari dan pagi harinya dipakai SMP,” ujarnya.

Ia tidak tahu kapan pemerintah intervensi bangun gedung untuk SMA Negeri 8 Poco Ranaka.  Tahun 2016 lalu, saat masih menjadi kewenangan Kabupaten Matim, sempat dialokasikan dana alokasi khusus (DAK). Tapi setelah dianalisa oleh konsultan teknis dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, hasil kajian tidak sesuai dengan besarnya anggaran. Sehingga informasinya, dana itu dialihkan ke tempat lain.

“Tahun 2016, kami diinformasikan bahwa ada DAK untuk bangun gedung sekolah. Tapi kami tidak tahu besarnya dana itu. Tim teknis datang analisa lapangan dan hasil kajian, kami diinformasikan bahwa dana terlalu sedikit,” katanya.

Ia sempat bertemu dengan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Matim, Frederika Soch saat itu untuk bicara soal rencana penggunaan DAK. Tapi Frederika tetap memutuskan untuk mengurung niat pembangunan gedung SMA Negeri 8 Poco Ranaka. Frederika berjanji untuk dana yang lebih besar pada tahun 2017.

“Waktu itu, ibu kadis bilang jatah untuk SMA Negeri 8 Poco Ranaka diputuskan untuk dialihkan ke SMA Negeri 6 dan 7 Kota Komba. Tapi pada tahin 2017, semua SMA dialihkan kewenanganya ke Pemerintah Provinsi NTT,” bilangnya.

Dengan pengalihan itu, sehingga janji dari dinas dibatalkan. Sejauh ini, selama dialihkan kewenanganya, belum juga ada tanta-tanda untuk dibantu pembangunan gedung SMA Negeri 8 Poco Ranaka dari Pemerintah Provinsi NTT. Usulan dari sekolah lewat sejumlah proposal maupun lewat dapodik belum juga ada respon dari Pemerintah Provinsi NTT maupun pemerintah pusat, melalui Kementerian Pendidikan.

Untuk lokasi lahan atau tanah milik SMA Negeri 8 sudah disediakan dengan luas mencapai 10.000 meter persegi. Sementara data jumlah guru dan pegawai sebanyak 15 orang, di mana PNS sebanyak dua orang. Untuk jumlah siswa sebanyak 132 orang. Besar harapannya, Pemerintah Provinsi NTT bisa mengalokasikan anggaran pembangunan gedung SMA Negeri 8 Poco Ranaka.

“Jujur pak, saya sungguh kecewa, karena setiap permintaan data sarana prasarana hampir tiap bulan dari pemerintah kepada kami di sekolah untuk dikirim, tapi hasil akhirnya nihil. Kami sangat membutuhkan gedung sekolah biar kami bisa melaksanakan KBM dengan aman dan baik. Kalau SMP Negeri 7 tidak izin lagi untuk nebeng, saya tidak tahu kami KBM di mana lagi,” bilang Hendrikus. (krf3/ays)

Football news:

The new Bundesliga season starts on September 18
Thomas Tuchel: Atalanta is pressing and scoring a lot. PSG must play carefully
Barcelona have agreed with Lautaro, but the transfer depends on the sale of Coutinho
Mourinho about the Amazon documentary: I don't like the feeling that I'm in Big brother
Aguero will not have time to recover for the match with Real Madrid
Marcelo will miss the rest of the season in La Liga due to an adductor muscle injury
Telephone Interview, disinfection of the rails, the ban lifts. We checked-antivirus measures in the NPL really work (well, almost)