Indonesia

Alami Krisis Kemanusiaan, Yaman Hadapi Covid-19 di Tengah Perang, Kolera, dan Kelaparan

Suara.com - Perang sipil, kolera, dan kelaparan selama lima tahun telah menghancurkan Yaman sementara blokade dan kampanye pemboman yang dipimpin Arab Saudi telah membuat sistem layanan kesehatannya hampir tidak berguna.

Dilansir dari Aljazeera, Yaman menjadi negara yang mengalami krisis kemanusiaan tapi tetap harus menghadapi Covid-19 yang telah menyerang lebih dari 900 orang.

Konflik Yaman pecah ketika pemberontak Houthi melawan kubu pro-pemerintah yang didukung oleh koalisi militer dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Pertempuran itu telah menyebabkan sekitar 24 juta orang Yaman bergantung pada bantuan.

Yaman sejauh ini melaporkan 902 infeksi virus corona yang telah menelan 244 kematian.

"Tetapi angka tersebut tertinggal dan mungkin tidak mencakup semua kasus di daerah-daerah yang dikendalikan oleh Houthi di utara," kata jurubicara hak asasi manusia PBB Rupert Colville dalam sebuah pengarahan di Jenewa.

Baca Juga: Zimbabwe Hadapi Pandemi dalam Kemiskinan, Kelaparan, dan Kekeringan

Situasi yang menantang diperparah oleh kapasitas pengujian yang sangat terbatas di negara itu.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Komite Penyelamatan Internasional, Yaman memiliki salah satu tingkat pengujian terendah di dunia, bahkan dibandingkan dengan negara-negara yang dilanda konflik lainnya dengan hanya 31 tes per satu juta warga.

Virus corona di Yaman (BBC)
Virus corona di Yaman (BBC)

Sementara itu, PBB mencatatat sekitar 137.000 kasus kolera dan diare telah mewabah. Hampir seperempat dari wabah kolera dan diare terjadi pada anak di bawah lima tahun.

Baca Juga: Mewabah Lagi di Kongo, Mengenal Ebola yang Tak Kalah Bahaya dari Covid-19

Sementara itu, konflik perang saudara telah menewaskan lebih dari 100.000 orang dan membuat jutaan warga kehilangan tempat tinggal, mendorong negara miskin itu ke ambang kelaparan dan menghancurkan infrastruktur.

PBB mengatakan sistem kesehatan negara itu pada dasarnya runtuh, dengan rumah sakit kekurangan tempat tidur dan obat-obatan dasar, bahkan hanya memiliki 200 ventilator per 30 juta orang.

Populasi negara yang kekurangan gizi memiliki tingkat kekebalan terendah di dunia terhadap penyakit. Tak hanya itu, pemakaman meluap di Aden saat Covid-19 melonjak di Yaman.

Badan anak-anak dunia, UNICEF, mengatakan layanan air, sanitasi, dan kebersihan untuk empat juta orang akan mulai ditutup pada Juli jika tidak mendapatkan bantuan 30 juta USD pada akhir bulan Juni.

Anak di Yaman selama diserang konflik, Kolera, kepalaran, hingga Corona (BBC)
Anak di Yaman selama diserang konflik, Kolera, kepalaran, hingga Corona (BBC)

"Krisis ini dalam proporsi yang dahsyat," kata Sara Beysolow Nyanti, perwakilan UNICEF untuk Yaman kepada Al Jazeera.

Dia mengatakan kurangnya tes Covid-19 memperburuk situasi kemanusiaan yang terjadi di Yaman, di mana anak-anak adalah yang paling berisiko.

"Anak-anak di Yaman lebih buruk daripada semua anak di dunia dan bagi kami, ini darurat," tambahnya,

"Ada situasi yang sudah ada sebelumnya di mana anak-anak sudah sangat membutuhkan dan sekarang anak-anak dihadapkan dengan banyak masalah , Covid-19 hanya menambah kehidupan mereka yang kompleks menjadi sangat sulit," imbuhnya.

Football news:

Bayer sports Director Feller on Havertz: We agreed that if possible, he could leave this summer
Roma midfielder under has agreed a 5-year contract with Napoli for 3.5 million euros a year
Baros will end his career at the end of the season
Pogba and Brunu were injured when they collided in training. The Bournemouth game is in question (Daily Mail)
Ex-President of Barca Gaspar: Messi has a few more years to be the best player in the world
Morata scored a double for Atletico for the first time since March last year
Rummenigge on Tiago: there have been no Contacts with Liverpool, but he wants something new