logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Buta Huruf Tingkatkan Risiko Demensia

Kemampuan baca tulis berhubungan dengan kesehatan otak dan menekan risiko demensia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- OECD Report mengungkapkan bahwa sekitar 14 persen populasi dunia mengalami buta huruf pada 2016. Kondisi buta huruf dapat mempengaruhi beragam aspek di dalam kehidupan, termasuk kesehatan.

Seperti diungkapkan dalam jurnal Neurology, orang-orang yang buta huruf cenderung memiliki risiko demensia yang lebih tinggi. Ketidakmampuan seseorang untuk membaca atau menulis ternyata berhubungan dengan kesehatan otak.

"Kemampuan membaca dan menulis memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam lebih banyak aktivitas yang menggunakan otak, seperti membaca koran dan membantu anak serta cucu mengerjakan PR," terang salah satu peneliti Jennifer J Manly PhD dari Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons, seperti dilansir Medical News Today, Jumat (15/11).

Sebaliknya, orang-orang dengan buta huruf lebih sedikit terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan membaca atau menulis. Padahal kegiatan-kegiatan ini merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan otak dan dapat menurunkan risiko demensia.

Studi yang dilakukan oleh Manly melibatkan 983 orang dengan tingkat pendidikan formal yang rendah. Para partisipan ini memiliki rerata usia 77 tahun dan hanya bersekolah paling lama empat tahun. Dari seluruh partisipan, sebanyak 237 di antaranya buta huruf atau tidak bisa membaca dan menulis.

Para partisipan diminta unutk menjalani tes daya ingat dan kemampuan penalaran secara berkala. Tes ini diulang setiap 18 bulan selama dua hingga empat tahun.

Di akhir masa studi, sebanyak 114 dari 237 partisipan buta huruf mengalami demensia. Artinya sekitar 48 persen dari partisipan buta huruf terkena demensia. Di sisi lain, hanya 27 persen dari kelompok partisipan yang bisa baca-tulis mengalami demensia.

Dari data-data yang terkumpul, tim peneliti juga melakukan penyesuaian terhadap beberapa faktor risiko lain terkait demensia. Hasilnya, tim peneliti menyimpulkan bahwa orang-orang buta huruf memiliki risiko dua kali lipat lebih besar untuk terkena demensia.

"Temuan ini mengindikasikan bahwa membaca dapat membantu memperkuat otak dalam berbagai cara yang kemudian dapat membantu mencegah atau memperlambat kejadian demensia," terang Manly.

Manly menambahkan, lama bersekolah tidak memiliki dampak berarti dalam risiko demensia selama seseorang mampu mempelajari baca-tulis ketika bersekolah. Kemampuan baca-tulus, lanjut Manly, memiliki manfaat jangka panjang di dalam kehidupan.

Studi lebih lanjut tentu diperlukan untuk mengetahui apakah program literasi dapat membantu menurunkan risiko demensia. Temuan pada studi saat ini belum mencakup soal bagaimana dan kapan partisipan yang bisa baca-tulis mempelajari kemampuan tersebut.

Themes
ICO