keseluruhan tiga fase ini tertuju pada satu integrasi jaringan

Jakarta (ANTARA) - Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengungkapkan, Kota Jakarta sudah pernah memiliki jalur sepeda di beberapa tempat sebelum jalur sepeda yang sekarang dibuat  di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, tetapi jalur yang dulu itu tidak saling terintegrasi.

Jalur yang pernah ada itu adalah di area Kanal Banjir Timur (BKT), Melawai dan Sunter, sementara tahun 2019 ini, Pemprov DKI menargetkan jalur sepeda sepanjang 63 kilometer (km) yang saling terintegrasi.

“Di Jakarta itu sebelumnya sudah ada jalur sepeda di BKT, sekitar 9 km, kemudian Melawai 2 km, artinya dulu sempat ada pembangunan jalur sepeda, tetapi tidak dilakukan secara terintegrasi dalam satu kesatuan rute atau jaringan,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo di Jakarta, Sabtu.

Karena belum terintegrasi tersebut, kata Syafrin, Pemprov DKI Jakarta melakukan sesuatu yang baru dan berguna bagi masyarakat yakni mulai membangun jaringan jalur sepeda (dua arah) yang dibagi tiga fase untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat bergerak dari rumah ke tujuan perjalanannya.

“Jika kita lihat, keseluruhan tiga fase ini tertuju pada satu integrasi jaringan (yang terhubung),” kata Syafrin.

Baca juga: Anies resmi luncurkan fase dua jalur sepeda Jakarta bareng artis
Baca juga: Pelanggar jalur sepeda ditilang mulai 20 November 2019

Setelah ketiga fase jalur sepeda era Anies ini selesai dibangun, lanjut Syafrin, pihaknya akan segera mengintegrasikannya dengan jalur yang telah ada sebelumnya. Dia mencontohkan jalur sepeda yang ada di BKT akan diintegrasikan dengan fase ketiga antara Tomang-Bundaran HI dan akan menyentuh Matraman hingga Jatinegara.

“Dari BKT nanti diarahkan sedikit ke Kampung Melayu, nanti akan menjadi satu kesatuan, begitu juga yang di Melawai,” ucapnya.

Sementara untuk jalur sepeda yang berada di Sunter, Syafrin menyatakan pihaknya sedang mendorong agar di sana dibentuk terlebih dahulu pola jaringan yang kemudian akan dihubungkan ke arah Pemuda-Pramuka (fase satu) sehingga ini menjadi satu kesatuan.

“Memang kalau kita lihat dari sekarang, untuk wilayah utara itu belum tersentuh, tapi sedang kami inisiasi. Perlu dipahami bahwa wilayah utara itu mayoritas kendaraan bermotor adalah truk berat, di sana berbahaya untuk pengguna sepeda,” ujar Syafrin.

Oleh sebab itu, tutur Syafrin, pihaknya sedang mengkaji kira-kira rute mana yang memenuhi standar untuk aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan.

“Ini kami akan kaji kembali, kemudian bisa saja jalurnya dihidupkan, tetapi kami lakukan beberapa rekayasa. Sehingga fungsi jalur itu kembali pada tujuan awalnya untuk pesepeda,” kata dia.

Baca juga: Jalur sepeda hanya berupa garis, DKI jelaskan fungsi hingga sanksinya
Baca juga: Kerap dipepet pemotor, pesepeda mengeluh

​​​​​​​DKI Jakarta menargetkan akan memiliki sekitar 500 km jalur sepeda (dua arah) pada 2022. Dan pada tahun 2019, ditargetkan ada sekitar 63 kilometer yang terintegrasi.

Dari 63 kilometer, selain fase kedua sepanjang 23 kilometer antara Fatmawati Bundaran HI (dua arah) yang diluncurkan hari ini, jalur sepeda fase satu sudah dimulai tanggal 20 September lalu mulai dari Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Tugu Proklamasi, Jalan Diponegoro, Imam Bonjol, masuk ke Merdeka Selatan, hingga MH Thamrin sepanjang 25 kilometer (dua arah).

Adapun untuk fase tiga, akan dibangun mulai dari Jalan Tomang Raya, Simpang Tomang kemudian belok kanan di Cideng, Cideng Jalan Kebon Sirih, Kebon Sirih dan masuk ke Jalan MH Thamrin yang juga akan menyentuh Matraman hingga Jatinegara-Kampung Melayu, sepanjang 15 kilometer (dua arah) akan diluncurkan akhir Oktober atau awal November mendatang.

Baca juga: Anies bagikan tips bersepeda di Jakarta
​​​​​​​
Baca juga: Masyarakat masih enggan memanfaatkan jalur khusus sepeda

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019