logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Dochi Pee Wee Gaskin, Dari Anak Band Sukses Berbisnis Kaos dan Kuliner

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani

JawaPos.com – Vokalis band Pee Wee Gaskin, Dochi Sadega, masih eksis. Kali ini dia berhasil menunjukkan sisi lainnya sebagai wirausahawan muda. Ternyata ada kisah inspiratif di balik bisnisnya berupa bisnis kaos dan merchandise label Sunday Sunday dan kuliner resto Home Ribs yang dimilikinya. Semuanya itu berawal dari hobi dan pembuktiannya pada orang tua serta calon mertuanya dulu.

Menjadi narasumber inspiratif dalam gerakan ‘Teman Juara ‘yang digagas generasi muda dan milenial, Sabtu (25/8) di Jakarta, Dochi berbagi kisah sukses dan inspiratif. Dia digandeng Teman Juara untuk berkolaborasi dengan Pemerintah (misalnya Kementerian Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian UMKM, dan Kementerian Desa).

Ketua Umum Teman Juara Samsul B. Ibrahim, mengajak Dochi untuk menjadi inspirasi bagi anak-anak muda di era industri 4.0 mewadahi kreasi generasi muda, mempromosikan, menciptakan tren dan membuat generasi muda bangga sebagai kreator muda. Dochi, kata dia, sudah membuktikan bahwa anak muda bisa menjadi kreator membuka lapangan pekerjaan.

“Anak muda dibuktikan oleh Dochi bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mendukung program pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja,” tegas Samsul.

Sang vokalis band, Dochi menceritakan jalan hidupnya yang tumbuh dari orang tua yang menjunjung tinggi pendidikan. Maka Dochi diwajibkan bersekolah setinggi mungkin untuk mengejar ilmu akademis. Namun ayah dari Anila Kamaishtara Decca itu punya pilihan laim.

“Saat masuk kuliah saya sempat pindah jurusan ke advertising. Dan memang sejak SMP sudah dekat dan hobi bikin sesuatu. Desain grafis bikin buku tahunan, kaos, dan baju kelas, dan lainnya,” ujar Dochi.

Saat kuliah, dia pun tak menyelesaikan kuliahnya. Dochi hanya sibuk nongkrong, berbagi pengalaman dan membangun jaringan dengan junior, senior, dan dosen. Dia ingin mempertahankan ego untuk membantah ayahnya yang menilai belajar harus dari akademis.

“Saya juga punya ego bahwa saya bisa tanpa Diploma walaupun saya menyesal juga sih, enggak mendapat Diploma saya,” ungkapnya.

Hingga dirinya memutuskan untuk membentuk band Pee Wee Gaskin pada 12 tahun lalu. Dari sanalah, Dochi mengenal Indonesia yang memiliki beraneka ragam pantai dan kuliner. Semuanya menambah khasanah inspirasi untuknya membuka gerai resto. Lalu dia bertemu seorang tambatan hatinya yang kini menjadi istrinya, Tasya. Saat itu, dia kembali dihadapkan oleh calon ayah mertua yang mengutamakan sosok pria mapan, bukan anak band.

“Gimana caranya saya bisa meakinkan orang tuanya untuk serius. Bahwa 5 tahun lalu saya lamar ajak serius. Terminologi anak band saya ganti sebagai saya ini pelaku musik bisnis yang sukses lho,” tegasnya.

Bisnis lini kaosnya yakni Sunday Sunday juga berawal dari ketidaksengajaan. Logo dan ciri khas kaos tersebut adalah gambar es krim dengan konsep ice cream on the cotton.

“Saat bikin Sunday Sunday itu kebetulan memang hari Minggu. Lagi beres-beres rumah berantakan banget banyak sambil makan eskrim, eh esnya jatuh di kaos. Saat itu desainnya harus relate sama es krim,” ungkap pria kelahiran tahun 1985 itu.

Maka menurut Dochi, dirinya bukan sekadar anak band, tetapi anak band yang bisa melakukan sesuatu yang menginspirasi. “Dari awalnya jadi konsumen, kita bisa kok menjadi produsen. Mental konsumtif itu harus diubah,” jelasnya.

All rights and copyright belongs to author:
Themes
ICO