...Kami sangat mengkhawatirkan anak-anak kami kehilangan jati diri bangsa ini...

Jakarta (ANTARA) - Gerakan Emak Emak Pecinta Tanah Air (Gempita) mengaku prihatin dengan banyaknya generasi muda yang terpengaruh dengan paham radikal dan intoleransi, sehingga dengan mudah melakukan perundungan dan ujaran-ujaran kebencian.

"Sebagai kaum perempuan dan ibu yang melahirkan generasi muda, kami sangat mengkhawatirkan anak-anak kami kehilangan jati diri bangsa ini yang dulu sangat terkenal dengan sopan santun dan keadaban dalam berperilaku," kata Koordinator Gempita Yuliana Zahara Mega, dalam pernyataannya, di Jakarta, Sabtu.

Yuliana mengakui, maraknya berita-berita bermuatan radikalisme dan intoleransi di berbagai media sosial dapat mempengaruhi pemikiran generasi muda.

Lewat ujaran-ujaran yang bermuatan kebencian, radikalisme, dan intoleran di media-media sosial, kata dia, telah mempengaruhi pemikiran generasi muda sehingga bila ada temannya yang berbeda paham langsung dirundung (bully).

"Melalui Gempita, kami ingin mengajak ibu-ibu dan perempuan Indonesia untuk bisa melakukan pengawasan kepada anak-anaknya, terutama memberi nasihat agar tidak mudah termakan omongan-omongan yang tidak selayaknya," kata Yuliana.


Baca juga: Puluhan emak-emak di Surabaya gelar aksi bela Wali Kota Risma

Gempita juga mendukung pembubaran Front Pembela Islam (FPI) yang telah lama meresahkan masyarakat, serta mengancam persatuan dan kesatuan bangsa

"Kelompok ini, baik secara langsung maupun melalui media-media sosial selalu melontarkan hal-hal yang provokatif. Ini sangat tidak baik, terutama bagi generasi muda," ujarnya.

Selain dibubarkan, Gempita juga mendukung pihak kepolisian untuk memproses hukum kembali kasus-kasus yang selama ini tenggelam karena itu melukai rasa keadilan di masyarakat, seperti ceramah di Mega Mendung yang berisi ujaran kebencian, fitnah, menghasut, dengan kata-kata tidak pantas untuk diucapkan dalam forum pengajian.

Yuliana menegaskan, Gempita akan secara konsisten mendengungkan pentingnya peran ibu-ibu dalam mengawal generasi muda sehingga tidak terpapar paham-paham radikal dan ujaran-ujaran yang menghasut.

"Kami tidak ingin generasi bangsa 'dicuci otaknya' dengan hal-hal yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa," katanya lagi.


Baca juga: Kodam Jaya libatkan emak-emak sosialisasi protokol kesehatan
Baca juga: Ribuan emak-emak di Surabaya siap jadi relawan Eri-Armuji
Baca juga: "Keluarga Cemara" reuni di film "TETA"

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020