logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Hati-hati Jangan Jajan Sembarangan, HIV/AIDS di Indonesia Terus Naik

BANDUNG - Kasus mayarakat terinfeksi HIV/AIDS tercatat terus meningkat di Indonesia. Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), organisasi di bawah naungan PBB yang fokus menangani masalah HIV/AIDS menyebut, jumlahnya dua kali lipat lebih tinggi dari data yang dirilis Kementerian Kesehatan, yaitu mencapai 690.000 orang.

Praktisi Kesehatan Teddy Hiadayat Dr Sp KJ (K) mengatakan, pada 2007 ditemukan 2.947 kasus, kemudian naik pada 2009 menjadi 17.699 kasus. HIV/AIDS kembali naik pada 2017 ditemukan 242.699 kasus HIV dan 87.453 AIDS (P2P Kemenkes RI). Namun pada periode yang sama, UNAIDS menyebut terdapat 690.000 kasus.

"Sayangnya, yang mengetahui dirinya terinfeksi HIV hanya 30% saja. Kemudian dari jumlah tersebut, yang mendapat terapi ARV hanya 8% atau 65.825 orang. Angka ini paling kecil di Asia Pasifik," kata Teddy dalam siaran persnya, Senin (2/12/2019).

Menurut dia, banyak faktor yang menyebabkan kasus HIV/AIDA terus meningkat. Salah satunya di banyak negara, pengobatan ARV akan menurunkan infeksi baru HIV (treatment is prevention). Namun di Indonesia meskin telah diperkuat dengan Permenkes No 21/2013 angka infeksi baru HIV terus meningkat.

"Kesadaran masyarakat dan akses untuk mendapatkan tes HIV masih terbatas, sehingga pasien tidak terditeksi, tidak minum ARV dan akan menularkan HIV pada orang lain. Juga masih ada gap atau kesenjangan yang besar antara orang yang terinfeksi HIV dengan orang yang tahu status HIV-nya," beber dia.

Teddy menjelaskan, infeksi baru HIV tinggi, disertai cakupan terapi ARV rendah menyebakan angka kematian akibat HIV/AIDS tinggi. Hal ini menjadi bukti kegagalan kolektif program HIV. Saat ini HIV/AIDS telah menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat.

Hal lain yang menyebabkan infeksi baru HIV meningkat adalah karena trend penularan HIV yang berubah. Bila dahulu didominasi oleh penularan melalui jarum suntik (IDU), saat ini berubah ke penularan melalui hubungan seksual berisiko. Untuk itu, para pria diminta jangan "jajan" sembarangan.

"Data epidemiologi di Indonesia, termasuk di Jawa Barat, menunjukkan adanya peningkatan secara konsisten kasus baru HIV ditemukan pada kelomok perempuan berisiko rendah yang tertular dari pasangan seksualnya dan kelompok laki-laki berhungan seks dengan laki-laki," jelas dia.

Teddy menambahkan, pencegahan penularan HIV adalah kunci percepatan pencapaian zero new infection. Perubahan perilaku merupakan rekomendasi strategis pencapaian target SDGs mengakhiri HIV/AIDS tahun 2030.

(saz)

Themes
ICO