Indonesia

Jumlah Investor Soloraya Melejit di Tengah Covid-19, Ini Penyebabnya

Solopos.com, SOLO — Jumlah investor dan nilai transaksi di pasar saham Soloraya melejit di tengah pandemi wabah Covid-19. Kenaikan tersebut dipicu masyarakat yang kian paham cara berinvestasi di pasar modal di tengah turunnya sebagian besar harga saham sebagai dampak adanya Covid-19.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Tengah II, Wira Adibrata, mengatakan masyarakat semakin paham momentum sehingga mereka beramai-ramai berinvestasi saat harga saham turun karena terimbas Covid-19. Hal ini berbeda dengan 2008 lalu saat banyak orang melakukan aksi jual saham.

Jadwal Pemadaman Listrik PLN Surakarta 11-13 Agustus, Ini Wilayah Yang Terdampak

“Di awal Covid-19 masuk Indonesia [Maret 2020], hampir semua harga saham anjlok hingga 40% - 50%. Jika dulu [2008] saat harga saham turun, masyarakat ikut panik, maka mereka jual [saham]. Alhasil, harganya semakin turun. Sekarang ini masyarakat semakin bisa melihat momentum. Saat harga saham turun seperti ini sebenarnya it is time to buy karena banyak saham undervalued,” katanya, saat ditemui wartawan di kantor BEI, Senin (10/8/2020).

Wira memaparkan KP BEI Jateng II mencatat pada Januari – Februari 2020 atau sebelum pandemi Covid-19, nilai transaksi saham sekitar Rp800-an miliar per bulannya. Sedangkan penambahan (growth) investor sekitar 170 – 200-an per bulannya. Namun demikian, angka ini justru naik pada Maret – April saat kasus Covid-19 meledak hingga sekarang ini.

Misalnya, pada Maret 2020 ada penambahan sebanyak 420 investor dengan nilai transaksi total senilai Rp1,08 triliun. Sedangkan pada April 2020 tambah 405 investor dengan nilai transaksi Rp1,030 triliun. Sementara Mei 2020 tambah 404 investor dengan nilai transaksi Rp791 miliar, Juni 2020 tambah 760 investor senilai Rp1,99 triliun, dan Juli 2020 tambah 824 investor dengan nilai transaksi Rp1,68 triliun.

Usung Kustini-Danang, PAN dan PDIP Satu Suara di Pilkada Sleman

Investor Soloraya

Sebelumnya, Branch Manager Trimegah Sekuritas Solo, Antonius Cahyo Santoso, mengatakan pada perusahannya tidak terlalu banyak investor yang melakukan penjualan di tengah jebloknya harga saham lantaran efek wabah Covid-19. Menurutnya, ini justru saat yang tepat bagi para investor untuk membeli saham-saham unggulan.

“Memang ini saat yang tepat untuk berinvestasi jangka panjang, menilik beberapa perusahaan blue chips yang biasa memberi deviden besar, valuasinya sedang di bawah. Akan tetapi, kita jangan grusa-grusu memborong semua. Memang pasar sudah antisipasi jika ini berlangsung hingga kuartal II, tapi kalau lebih lama bagaimana. Tentu butuh kecermatan,” katanya.

Sementara itu, salah satu investor pasar saham, Erwin, mengaku investasi di pasar saham ia bagi dua, yakni ivestasi jangka panjang dan trading. Menurutnya, khusus trading ini ia memilih wait and see sambil melihat penurunan harga saham.

“Investasi jangka panjang, saya beli emiten perbankan BUMN, seperti BBRI, BBNI, dan BMRI. sejak Mei. Jadi sudah naik lumayan harganya sekarang. Jadi, kalau sekarang harganya turun enggak masalah karena harga masih jauh lebih tinggi dibanding saat beli dulu ketika IHSG jatuh karena corona pada Maret,” paparnya.

Erwin menjelaskan selain investasi jangka ia juga melakukan trading, tapi dengan persentase lebih kecil. Pada sektor ini ia memilih membeli saham BBTN dan ISIP (perkebunan sawit). Namun demikian, ia juga wait and see sambil melihat harga saham merah atau turun baru beli dan jual kembali saat harga hijau (naik).

“Pasar jenuh jual atau jenuh beli, saya tunggu saat turun [harga saham]. Sekarang volatilitas tinggi, justru kesempatan. Tapi, saya cenderung ke blue chip, jadi main aman saja enggak agresif. Saya juga enggak berani pilih saham gorengan. Kalau sekarang ini rata-rata saham yang masih undervalued seperti properti dan konstruksi,” jelasnya.

Football news:

It's time to learn the names of new Borussia heroes. Now there are 17-year-old boys making goals
Paulo Fonseca: it's Important to bring Smalling back to Roma. We have only 3 Central defenders
Arteta about 2:1 with West ham: Arsenal made life difficult for themselves with losses, but they fought and believed in victory
Palace midfielder Townsend: Could have beaten Manchester United with a bigger difference. We had moments
Philippe Coutinho: I am motivated and I want to work hard to make everything work out well on the pitch
Torres on Chelsea: I Thought I could remain a top player, but I was unstable. Although there were enough successes
Neville on the broken penalty against Manchester United: an Absolute disgrace