Indonesia

Kebersamaan Komunitas 031 Brompton Surabaja, Bersepeda ke Mana-Mana

Komunitas 031 Brompton Surabaja wadah yang mengumpulkan semua penggiat Brompton tanpa mengenal jenis dan tipenya. Mereka mengayuh sepeda ke mana-mana. Demi kebersamaan.

MUHAMMAD AZAMI RAMADHAN, Surabaya

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental selama pandemi Covid-19. Salah satunya bersepeda bersama kolega dan komunitas. Menjalin silaturahmi dan membangun jejaring menjadi bonus dalam aktivitas tersebut. Itu pulalah yang dilakukan 031 Brompton Surabaja. Meski latar belakang member dari kalangan atas, mereka menanggalkan label jabatan atau pekerjaan dalam berinteraksi.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa yang memiliki sepeda lipat kelas premium itu adalah kalangan berduit. Meski demikian, tidak semua di antara mereka memiliki sepeda tersebut dalam keadaan baru. Tak sedikit yang membeli bekas.

Contohnya, founder 031 Brompton Surabaja Amalia Astrid yang memiliki sepeda lipat asal Inggris itu dengan harga sekitar Rp 12 juta. Dia mengaku memiliki sepeda lipat putih itu pada 2012. Menurut dia, harga tersebut terbilang murah dan dapat dijangkau semua kalangan. Tidak seperti saat ini yang harganya dua kali lipat, bahkan melebihi harga normal.

”Mahalnya itu mungkin ya karena banyaknya permintaan dan stok barangnya menipis. Jadi berkali-kali lipat,” ungkapnya Sabtu malam (11/7).

Perempuan yang juga membuka praktik dokter gigi itu mengatakan, tingginya harga sepeda Brompton terbilang satu hingga dua bulan terakhir. Terlebih lagi saat pandemi Covid-19 dan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya.

Ibu dua anak itu juga sempat kaget ketika melihat tingginya animo bersepeda di Surabaya. Meski demikian, kala itu Liya −sapaan akrabnya− mengimbau kepada dulur-dulur 031, sebutan untuk member 031 Brompton Surabaja, untuk tetap berada di rumah.

Mereka diminta mematuhi anjuran pemerintah. Kesadaran untuk tidak bersepeda sementara waktu harus dipatuhi anggota komunitas.

”Karena orang orang lama ya. Dulur-dulur ini tetap stay di rumah. Ada sih yang gowes, tapi enggak berpeleton. Malah ada yang gowes dengan roller statis di rumah,” tutur perempuan yang menggowes dengan menggunakan Brompton sejak 2012 itu.

Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unair itu mengungkapkan, 031 Brompton Surabaja berdiri sejak 2017. Mayoritas dulur 031 sudah melakukan aktivitas gowes dengan menggunakan jenis sepeda lainnya, seperti mountain terrain bike (MTB), sepeda balap, sepeda road bike, dan lain lain.

Nah, kata dia, sepeda lipat jenis Brompton dinilai lebih efektif dan sederhana untuk orang-orang yang sebelumnya memakai jenis sepeda selain sepeda lipat. ”Simpel dan mendukung mereka sekali. Perjalanan dinas ke mana gitu kan bisa sambil bawa sepeda. Sembari berdinas juga olahraga,” tuturnya, lantas terbahak.

Dia mengungkapkan, sejak itulah jalinan komunitas semakin kuat. Setidaknya menjadi wadah bagi orang asli Surabaya yang menggunakan Brompton untuk aktivitas transportasi. Meski, banyak yang tersebar di luar Kota Surabaya.

Keputusan membentuk wadah 031 Brompton itu setelah dokter Liya mengikuti berbagai event gowes Brompton di sejumlah kota di Indonesia. Dari event tersebut, dia bertemu dengan banyak profesional. Karena itu, menurut dia, wadah dengan ikon khusus Surabaya dirasa perlu untuk ditempelkan. Tujuannya, selain memperluas jaringan, juga bisa mempererat persaudaraan.

Ketika 2017, lanjut dia, ada tujuh orang asal Surabaya yang berkiprah di berbagai instansi untuk mendukung terbentuknya 031 Brompton Surabaja. Saat itu, pembentukan 031 tidak memedulikan jenis dan tipe Brompton. Semua penggiat dapat bergabung. Juga tidak memedulikan status dan jenis pekerjaan. Meski pada akhirnya banyak yang mengetahui bahwa pemilik Brompton merupakan petinggi di perusahaan dan instansi masing masing.

”Apa pun tipenya, kalau dulur pakai Brompton ya mari gabung. Itu sampai sekarang ya. Siapa pun ayo gabung. Kita seduluran bareng-bareng,” tutur perempuan yang pertama memiliki tipe Brompton M6R folding bike itu. Dia mengatakan, salah satu tradisi yang terbangun hingga saat ini di 031 Brompton Surabaja adalah menyambut, melayani dulur Brompton.

Hal itulah yang menjadi karakter khas dulur 031. Pihaknya tidak pernah menolak jika ada dulur Brompton, baik member 031 maupun bukan, yang meminta ditemani gowes. Bahkan, semua permintaan tamu itu selalu dituruti, tak terkecuali gowes di lokasi lokasi tertentu. Dengan begitu, kata dia, persaudaraan antar pengguna Brompton begitu erat satu sama lain tanpa memandang jabatan.

”Iya, masing masing tahu kok. Ada yang jadi petinggi di kepolisian, BUMN, dokter spesialis, bahkan menjadi profesional di negara tetangga. Tapi, kami tidak melihat itu,” ungkapnya.

Dia melanjutkan pernah mendapat kabar bahwa dulur 031 dari Singapura hendak datang ke Surabaya. Pihaknya pun tidak tanggung-tanggung menyervis saudara jauh tersebut. Mulai pemilihan rute hingga lokasi makan. ”Wis gak ngetoki lah kalau mereka ternyata pejabat atau apalah itu. Pangkat hilang semua. Gowes ya gowes,” tutur perempauan 36 tahun itu.

Ketika ditanya jumlah anggota 031 Brompton Surabaja, kata dia, jumlahnya sudah tidak terhingga. Bahkan, grup WhatsApp sudah penuh, 256 peserta.

Saksikan video menarik berikut ini:

Football news:

Ødegård prematurely returned to the real world of rental Sociedade
Arsenal and Roma are discussing the exchange of Torreira for diavar
The trained bear was brought to the dressing room of the Sakhalin Resident
De Ligt had shoulder surgery and will miss 3 months
Modibo – infected with coronavirus Barcelona player. The disease passes without symptoms
Lichtsteiner finished his career. The former Juve and Arsenal defender is 36 years old
Matuidi left Juventus. The midfielder will move to Inter Miami Beckham