logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Kemkominfo soal 5G: Siapkan Dulu Ekosistemnya

Frekuensi 5G

Pemerintah merencanakan frekuensi 5G memiliki 3 layer. Untuk kapasitas rendah, sedang, dan tinggi. Masing-masing layer untuk frekuensi 5G memiliki kandidat mulai dari 26 Ghz sampai dengan 3,5 Ghz.

"Nah masing-masing layer punya kandidat, yang middle band itu ada di kandidat 3,5 dan 26 GHz. Jadi setiap operator seluler itu butuh lower band butuh middle band butuh upper band. Nah kita kandidatnya untuk tiap layer tuh ada," jelasnya.

Sebelumnya, Konferensi Komunikasi Radio Dunia atau World Radio Communications Conferences (WRC) 2019 yang diselenggarakan di Mesir menetapkan tiga pita frekuensi baru di milimeter wave untuk 5G yaitu 26 GHz (24,5 - 27,5GHz), 40 GHz (37- 43,5 GHz) dan 66 GHz.

[faz]

Merdeka.com - Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Ismail mengatakan, pihaknya menginginkan penerapan 5G dilakukan setelah ekosistem pendukungnya sudah siap. Menurutnya, persoalan implementasi 5G bukan sekadar network semata.

"Ya, kita siapkan dulu ekosistem-nya. Karena kalau 5G ini bukan persoalan network saja, bukan persoalan connectivity saja. Nanti kalau sudah ada connectivity tapi ujung-ujungnya kita pake aplikasi-aplikasi asing semua, kan sayang. Makanya inginnya bangun dulu ekosistem 5G itu di Indonesia," ujar Ismail saat di sela-sela acara Selular Telco Outlook 2020 di Jakarta, Senin (2/12).

Menurutnya, sejauh ini pemerintah sedang mendorong operator seluler untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi yang nantinya berjalan di jaringan teknologi generasi kelima ini. Dengan dikembangkannya ekosistem 5G terlebih dahulu, maka akan banyak manfaat yang bisa didapatkan daripada sekadar terkesan buru-buru.

"Itu harapan kita, jadi Indonesia dapat gain dan menjadi tuan rumah sendiri di penerapan teknologi 5G ini," jelas Ismail.

Di sisi lain, Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menghendaki pemerintah untuk segera melelang frekuensi untuk 5G pada tahun 2020. Usulan itu juga ditanggapi pemerintah. Kata Ismail, pemerintah tidak ingin dibilang terburu-buru, juga disebut telat.

"Teman-teman ini kepentingannya, penting cepat atau penting sukses? Kalau saya kan yang penting tepat. Saya selalu bilang jangan buru-buru tetapi juga jangan telat. Soal usulan itu, ya usulan boleh, kan kita kaji dulu. Intinya, kalau ekosistem-nya sudah siap. Jangan cuma nanti lelang, frekuensi hanya dipegang tapi gak dibangun juga," jelasnya.

1 dari 1 halaman

Themes
ICO