Indonesia

Mariani Memaklumi Gugatan 3 Anak Pada Dirinya Setelah Rumah Diagunkan

JawaPos.com – Mariani Tanubrata mengakui bahwa rumah di Jalan Kertajaya Indah Timur Nomor 155-157 merupakan harta warisan setelah suaminya, Kuncoro Tanubrata, meninggal sebulan lalu. Warisan itu juga belum dibagi kepada empat anaknya, Linda Tanubrata, Welly Tanubrata, Sandy Tanubrata, dan Ferra Tanubrata.

Karena itu, dia memaklumi apabila ketiga anaknya Linda, Sandy, dan Ferra menggugat dirinya dan anak keduanya, Welly. Sebab, ketiga anak lain itu memang tidak tahu kalau rumah warisan tersebut dijaminkan untuk utang piutang Welly dengan Tee Costaristo. Terlebih, kini rumah itu dilelang Tee setelah Mariani tidak sanggup melunasi utang Welly.

”Bu Mariani tidak apa-apa anak-anaknya sebagai ahli waris menggugatnya dengan Welly yang telah menjaminkan harta gono-gini itu tanpa persetujuan ahli warisnya,” ujar pengacara Mariani, Trisno Hardani, Kamis (13/8).

Trisno menambahkan, rumah itu sebelumnya merupakan harta gono-gini mendiang Kuncoro dan Mariani. Selama Kuncoro masih hidup, tidak ada dampak hukum bagi keempat anaknya. Namun, ketika Kuncoro meninggal, anak-anaknya berhak atas aset itu.

”Ketika Pak Kuncoro masih hidup, tidak ada dampak hukum bagi mereka (anak-anak, Red). Tapi, ketika bapaknya meninggal, mereka punya hak separo dari nilai aset itu,” ungkapnya.

Mariani diakui memang tidak melibatkan ketiga anaknya saat menjaminkan rumah itu untuk utang Welly. Ketiga anaknya juga tidak ikut tanda tangan di notaris saat menjaminkan rumah itu karena tidak tahu. ”Ketika dijaminkan tanpa sepengetahuan ahli waris, otomatis ahli warisnya menggugat,” katanya.

Sementara itu, Aris Eko Prasetyo, pengacara tiga anak Mariani, menyatakan bahwa Tee tidak berhak melelang rumah warisan tersebut. Meskipun, Pengadilan Niaga Surabaya telah memutus Mariani pailit. Alasannya, masa insolvensi sudah lewat. Aris menggunakan pendapat pakar hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya untuk menguatkan dalil gugatannya.

”Masa insolvensi yang terhitung sejak 26 Maret sudah lewat, maka kewenangan menjual benda jaminan ada pada kurator dan hasil penjualan untuk membayar utang pada kreditur pemegang jaminan,” ujar Aris.

Di sisi lain, Tonic Tangkau, pengacara Tee Costaristo, menyatakan bahwa masa insolvensi berdasar penetapan Pengadilan Niaga Surabaya sejak 9 Juli lalu. Tee melelang rumah itu pada Agustus. ”Artinya, sekarang belum lewat masa insolvensi dua bulan,” katanya.

Sebagaimana diberitakan, perkara tersebut muncul ketika Mariani tidak bisa membayar utangnya kepada Tee sebesar Rp 47 miliar. Utang itu diajukan dengan mengagunkan rumah yang beralamat di Kertajaya Indah Timur Nomor 155-157. Saat utang tak terbayar, rumah tersebut dilelang untuk menutupi utang.

Saksikan video menarik berikut ini:

Football news:

Ronald Koeman: It's normal for Messi to be sad about a friend leaving. Leo is a model for everyone in training
Brighton are the kings of bad luck. Set a Premier League record on bars (5 times per match!), lost to Manchester United due to a penalty after the final whistle
Solskjaer on 3-2 with Brighton: Manchester United deserved one point, no more. Good thing there is no Mourinho to measure the goal
Brighton coach on 2:3 with Manchester United: Sometimes life is unfair. We dominated
The referee blew the final whistle, but after VAR awarded a penalty in favor of Manchester United. Bruno scored in the 99th minute after Brighton's goal in the 95th
Koeman on Suarez's departure: I'm not the villain in this movie. This is the club's decision
Maguire scored the 2nd goal for Manchester United in the Premier League and the first since February