logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Menyelisik IPO Aramco yang Disebut-sebut Terbesar di Dunia

Meski akan menjadi IPO terbesar, perusahaan milik negara itu berisiko bagi investor.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Perusahaan minyak milik pemerintah Arab Saudi, Aramco merilis dokumen sebagai dasar investor membeli saham perusahaan yang paling menguntungkan di dunia tersebut. Namun, sampai saat ini belum diketahui berapa total saham yang mereka tawarkan.

"Persentase yang ditargetkan dari Saham Penawaran yang dialokasikan untuk investor individu akan mencapai 0,5 persen," kata perusahaan tersebut dalam prospektus yang dirilis Ahad (10/11).

Belum diketahui berapa yang akan ditawarkan kepada investor institusional. Kemungkinan besar saham yang dijual oleh Aramco kurang dari 2 persen. Meskipun demikian, ini tetap akan menarik banyak perhatian dan menjadi Initial Public Offering (IPO) terbesar di dunia.

Aramco adalah produsen minyak dan gas kerajaan Arab Saudi. Menghasilkan 10 juta barel per hari atau setara dengan 10 persen permintaan global.

Masih ada pertanyaan tentang valuasi dan berapa banyak saham perusahaan itu akan dijual ke bursa saham Arab Saudi Tadawul. Tapi besar dan cadangan minyak perusahaan itu tetap sangat menarik bagi investor potensial.    

Keuntungan bersih perusahaan minyak dan gas tersebut pada tahun lalu sebesar 111 miliar dolar AS. Lebih besar dibandingan gabungan keuntungan Apple, perusahaan energi Belanda Shell dan perusahaan energi Amerika Serikat (AS) Exxon Mobil.

Menurut media-media setempat penjualan saham akan dilakukan pada 11 Desember. Aramco tampaknya tidak memiliki rencana untuk segera mendaftar ke bursa saham international. Walaupun beberapa tahun terakhir ada pembicaraan mengenai hal itu.

Berdasarkan propektus setebal 658 halaman tersebut Aramco mengatakan periode penawaran akan dimulai pada  17 November, berakhir pada 28 November untuk investor individu dan pada 4 Desember untuk investor institusi. Sedangkan harga final per saham final ditentukan pada 5 Desember.

Perusahaan itu mengatakan pada 2020 mereka akan mulai membayar dividen sebesar 75 miliar dolar AS per tahun. Tapi masih ada pertanyaan tentang sebesar apa Aramco.

Putra Mahkota Pangeran Arab Saudi Mohemmed bin Salman mengatakan nilai perusahaan itu sebesar 2 triliun dolar AS. Akan tetapi, para analis memperkirakan nilainya lebih dekat dengan 1,5 triliun dolar AS.

Penjualan saham Aramco merupakan bagian dari rencana Arab Saudi merombak perekonomiannya ke bidang yang lebih luas. Ini adalah upaya mereka dalam menciptakan aliran pendapat baru selain minyak terutama karena harga minyak semakin sulit mencapai 75 sampai 80 dolar AS per barel.

Para analis mengatakan hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan anggaran Arab Saudi. Harga minyak mentah pada hari Jumat (8/11) lalu ditutup dengan harga 62 dolar AS per barel.

Pangeran Mohemmed bin Salman mengatakan mendaftarkan Aramco ke bursa saham salah satu cara Arab Saudi mendapatkan modal untuk kekayaan negara. Modal tersebut akan digunakan untuk membangun kota-kota dan proyek menguntungkan di seluruh Arab Saudi.

Mohammed bin Salman memastikan kepemilikan Aramco akan pindah ke Public Investment Fund atau pusat investasi pemerintah Arab Saudi. Artinya pemerintah Arab Saudi tetap sebagai pemilik saham terbesar perusahaan tersebut.

Angkos produksi minyak yang rendah dan cadangan yang luar biasa besar membuat Aramco membantu Arab Saudi masuk 20 perekonomian terbesar di dunia. Tapi badan usaha milik negara itu masih berisiko bagi investor.  

Serangan terhadap dua infrastruktur Aramco pada bulan September lalu menunjukkan stabilitas dan keamanan perusahaan itu berhubungan langsung dengan pemiliknya yakni pemerintah Arab Saudi dan keluarga kerajaan. Arab Saudi menuduh Iran sebagai dalang dari serangan tersebut.

Prospektus Aramco memuat daftar risiko yang harus dipertimbangkan calon investor. Termasuk bagaimana cashflow perusahaan sangat dipengaruhi pada pasokan dan permintaan minyak mentah internasional serta harga jual minyak mentah.

Dokumen tersebut mencatat pemerintah Arab Saudi yang akhirnya memutuskan produksi minyak mentah perusahaan. Kerajaan juga akan memangkas produksi Aramco ketika mereka harus meningkatkan harga minyak.

"Terlepas dari harga minyak, tentu risiko utamanya adalah sejauh mana Aramco harus memikul beban pengendalian output OPEC Plus," kata kepala strategi ekuitas di Tellimer Hasnain Malik.

Prospektus Aramco juga mencatumkan risiko keuangan lainnya. Seperti kekhawatiran atas perubahan iklim dapat mereduksi permintaan hidrokabon, ketidakstabilan politik dan sosial serta terorisme, konflik bersenjata di Timur Tengah.

"(Bagaimana) mengalokasikan modal ke proyek-proyek yang memaksimalkan nilai untuk Arab Saudi secara keseluruhan sebagai lawan dari pemegang saham minoritas Aramco, resiko keamanan fisik dan rasio pembayaran dividen dalam jangka panjang,” tambah Malik.

Aramco tidak dapat mendaftar saham tambah selama enam bulan usai perdagangan di mulai. Mereka juga dilarang menerbitkan saham tambahan selama 12 bulan.

Kantor berita Reuters melaporkan banyak investor pontesial yang mengatakan sudah menunggu Aramco IPO berbulan-bulan. Mereka menambung, menjual tanah dan saham perusahaan lain. Bank-bank Arab Saudi kebanjiran panggilan telepon yang bertanya bagaimana caranya berpartisipasi dalam pembelian saham Aramco. 

sumber : Reuters/AP

Themes
ICO