Jakarta (ANTARA) - Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Totok Amin berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memilih menteri di kabinetnya, yakni orang yang mampu meningkatkan pembangunan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi.

"Presiden Jokowi harus memilih menteri yang memiliki keahlian di bidang pendidikan serta paham dan pernah menangani masalah peningkatan mutu pendidikan dan pembangunan kapasitas SDM dalam menghadapi tantangan global pasca-modern saat ini," kata pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Totok Amin kepada ANTARA, Jakarta, Minggu.

Menurut Totok, menteri itu juga harus memiliki integritas dan tidak pernah terindikasi korupsi, kolusi dan nepotisme.

Hal senada juga dikatakan Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Andreas Tambah. Dia menuturkan selain mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila, menteri di kabinet Jokowi mendatang harus merupakan orang yang memahami betul tentang karakteristik dan potensi bangsa Indonesia.

Menurut Andreas, menteri di kabinet 2019-2024 juga harus memahami tantangan dan hambatan untuk mengubah karakter bangsa.

Menteri di kabinet Jokowi mendatang harus merupakan orang yang visioner dan mengetahui peluang-peluang di masa depan untuk membawa Indonesia mencapai lompatan-lompatan kemajuan.

Sebelumnya, menurut rencana, pasangan capres dan cawapres terpilih hasil pemilihan umum Joko Widodo-Ma'ruf Amin akan dilantik pada Minggu (20/10).

Setelah itu, akan diumumkan kabinet baru yang di antaranya diisi kalangan profesional dan milenial.

Jokowi belum memastikan berapa orang yang akan masuk ke kabinet, ia hanya memastikan akan ada perwakilan orang Papua.

Baca juga: Ma'ruf Amin: Struktur kabinet sedang disempurnakan

Baca juga: PKB siapkan kader untuk posisi menteri kabinet Jokowi-Amin

Baca juga: Jokowi pastikan tetap ada orang Papua di kabinet


 

Presiden pastikan ada perwakilan Papua dalam kabinetnya

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019