logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Pengamen Ondel-ondel di Pusat Ibu Kota

Jakarta: Dari kejauhan, 5 'manusia raksasa' itu terlihat mentereng dan menyolok di antara kemacetan jalan Sabang, Jakarta Pusat. Mereka berjalan berlawanan arah, dan berjarak sedikitnya 50 meter satu sama lainnya.

'Manusia raksasa' itu kepayahan melewati himpitan mobil dan sepeda motor, serta pejalan kaki yang mampir di warung tenda seafood. Meski melawan arah, mereka nekat, tak jarang tubuh mereka menghentikan laju kendaraan.

Tidak terdengar lagi suara musik yang biasanya mengiringi 'manusia raksasa' itu, dan mereka juga tidak lagi leluasa berjoget. Sebaliknya, bunyi klakson pengemudi mobil dan sepeda motor kerap terdengar di sepanjang jalan pusat jajanan kuliner itu. Mereka memberikan tanda peringatan kepada 'manusia raksasa' dan pejalan kaki agar menepi ke bahu jalan.

Pantauan di lapangan, Sabtu, 15 Desember 2018 malam, kawasan Jalan Sabang yang terkenal sebagai pusat pelbagai kuliner malam itu tengah ramai. Kondisi itu, dimanfaatkan sejumlah anak-anak remaja untuk mengamen.

Remaja itu berbagi tugas. Setiap rombongan, mereka hanya butuh tiga orang untuk menjalankan aksinya. Satu orang bertugas mendorong gerobak kecil, yang mengeluarkan suara cempreng dari kaset rekaman. Di seberang jalan diikuti goyangan dari seseorang yang berada di balik kostum ondel-ondel.

Sementara itu, seorang anak berusia sekitar 12 tahun bertugas menyodorkan ember kecil kepada setiap orang-orang yang ditemuinya.

Keberadaan ondel-ondel malam itu terasa diabaikan. Para pengunjung di Jalan Sabang, sepertinya lebih menikmati hidangan di atas meja mereka daripada harus mengalihkan perhatiannya ke boneka khas Betawi. Satu per satu ondel-ondel berlalu.

Arak-arakannya saat ini lebih sederhana. Dulu, untuk mengarak sepasang ondel-ondel, setidaknya ada delapan orang yang berpartisipasi.

Tujuh orang memegang alat musik masing-masing tehyan, dua gendang, gong besar, gong sedang, kenong, dan kecrek.

Tentunya satu orang menjadi manusia di balik ondel-ondel. Namun, kini posisi pemegang alat musik telah digantikan oleh rekaman kaset. Bahkan kelima ondel-ondel yang ngamen malam itu, tidak berpasangan.


Hanya ada satu ondel-ondel bertampang merah dengan kumis tebal. Selebihnya berwajah putih.

Ondel-ondel yang terbuat dari anyaman bambu setinggi 2,5 meter dengan diameter kurang lebih 80 cm itu, tidak lagi bertampang cakil, bengis dan menakutkan. Kini boneka khas Betawi menjelma lebih humanis dan bertampang menarik.

Sebagai ikon kesenian Betawi, tak bisa dipungkiri bahwa ondel-ondel masih bertahan dalam kemajuan zaman dan modernitas Jakarta.

Jika dulu ondel-ondel sebagai bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang hanya ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Seiring berjalan waktu, kini ondel - ondel-ondel mudah ditemui di jalanan.


Mirisnya, fenomena ondel-ondel yang ngamen di jalanan menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat.

Salah seorang warga Jakarta Selatan, Rosiana, mengatakan sebenarnya keberadaan ondel-ondel yang semakin marak di Jakarta sangat membantu dalam pelestarian budaya Betawi. Pasalnya, mereka terus ada untuk mengingatkan generasi sekarang jika ondel-ondel itu bagian dari kehidupan warga Jakarta.

"Bagus ya, untuk mereka melestarikan budaya Betawi. Itu juga anak-anak yang terlibat. Jadi dari kecil sudah suka ondel-ondel bagus kan," kata Rosiana di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Rosiana yang kebetulan mampir bersama keluarga di jalan Sabang. Turut menyaksikan arak-arakan ondel-ondel tetapi kehadiran mereka tidak semeriah seperti berkeliling kampung-kampung. "Sebenarnya jalan ini kan macet, jadi ondel-ondel itu susah masuk ke sini," sebutnya.

Meski begitu, Rosiana tetap menyisihkan uangnya untuk pengamen ondel-ondel tersebut. Dia tidak mempermasalahkan keberadaan ondel-ondel di jalan raya, asal tidak menganggu ketertiban umum dan lalu lintas.

Sementara itu, Abdul Kadir warga lainnya tidak sependapat dengan Rosiana. Dia justru menilai cara yang dilakukan para pengamen dengan mengunakan ondel-ondel keliru. Bahkan, yang terlibat dalam kelompok ondel-ondel justru tidak mengerti soal budaya tersebut.

"Saya mah enggak setuju, masa kesenian dan budaya dibikin ngamen. Apalagi mereka yang ikut ngak ngerti apa-apa soal ondel-ondel," jelas Abdul Kadir.

Dia juga kerap menemukan kelompok ondel-ondel saling berkelahi. Mereka saling berebutan lokasi untuk meminta-minta hingga berujung rusuh. "Sering itu, biasanya berebutan tempat ngamen, atau saling bertemu bisa rusuh itu," lanjutnya.

Media Indonesia, Sabtu, 15 Desember 2018 mengikuti tiga orang, bahkan satu diantaranya masih mengunakan seragam olahraga sekolah ngamen ondel-ondel di kawasan Jalan Kemanggisan-Palmerah Jakarta Barat.

Mereka hanya mengandalkan satu alat pengeras suara yang diputar lagu sirih didorong mengikuti satu boneka ondel-ondel berwajah merah dari belakang. Sedangkan seorang anak lainnya, masuk ke sejumlah warung-warung dan kafe untuk menyedorkan kaleng bekas.

Di dalam kaleng bekas itu, hanya terdapat sekitar empat lembar uang kertas Rp2 ribu. Selebihnya uang receh Rp200 rupiah dan Rp 500 Rupiah.

Syaiful pemilik salah satu kafe di jalan KH Syahdan mengaku miris melihat upaya degradasi budaya yang dilakukan pengamen ondel-ondel. Meski bukan asli Betawi, ia menyayangkan jika kesenian yang dulu digunakan untuk tujuan baik dan sakral tetapi kini digunakan untuk turun mengamen. "Miris saja, itu ondel-ondel fungsi sakral bagi kebudayaan Betawi jaman dulu, sekarang gampang sekali dibawa ngamen," terangnya.

Para pengamen ondel-ondel dinilai kerap tidak tahu waktu dan aturan. "Kebanyakan pengamen anak-anak dan remaja ya, mana tahu aturan. Yang penting dapat duitnya, belum juga tahu diapakan itu duit," lanjutnya.

Oleh karena itu, dia sependapat dengan kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menertibkan pengamen ondel-ondel. Selain menganggu ketertiban umum, keberadaan pengamen ondel-ondel itu juga diperlukan pembinaan agar tidak memanfaatkan kesenian dan kebudayaan Betawi untuk mencari keuntungan pribadi.

(YDH)

All rights and copyright belongs to author:
Themes
ICO