Indonesia

Sepasang Kekasih dan Kebenaran Bersahaja

Solopos.com, SOLO -- Sepasang kekasih bersimpang jalan. Mereka sebenarnya pasangan pas. Yang lelaki tipe taktis, rasional, yang kadang-kadang menjadi seperti tak berperasaan. Hakikatnya dia selalu berhitung aspek teknis. Urut-urutan bertindak. Menuju hasil dan kesimpulan yang baik bagi mereka berdua.

Yang perempuan juga tipe taktis, namun berperasaan halus dan sangat memperhatikan detail. Perasaan yang halus itu sering membuat dirinya terjebak pada pertanyaan-pertanyaan dan perasaan negatif kala yang laki-laki terlalu taktis sehingga seperti tak berperasaan.

Mereka sebenarnya bisa saling mengisi. Mereka komplementer. Kata wong Jawa mereka berdua dari sisi masing-masing sebenarnya adalah tumbu oleh tutup. Yang laki-laki jadi mood booster bagi yang perempuan. Yang perempuan jadi inspirasi nyaris setiap hari bagi yang laki-laki.

Mereka bersimpang jalan karena komunikasi yang macet. Kemacetan komunikasi itu bukan tersebab sarana yang tak memadai. Sarana komunikasi tersedia melimpah ruah. Gadget. Internet. Tiap hari sebenarnya nyaris selalu bertemu.

Persoalannya pada keyakinan akan kebenaran. Yang laki-laki punya keyakinan yang dilakukan sejalan dengan visi dan misi berdua. Ia sedang menapak kebenaran untuk menuju sebuah hasil yang dia yakini akan sangat baik bagi mereka berdua. Begitulah kebenaran yang diyakini yang laki-laki.

Yang perempuan merasa kekasihnya abai, bahkan timbul perasaan sangat kuat bahwa kekasihnya telah meninggalkan dirinya. Ya, itu tadi. Tersebab yang lelaki asyik “bekerja” demi kebaikan mereka berdua berefek sesuatu yang sederhana, bahkan sepele: merasa terabaikan. Yang laki-laki lalai memperhatikan perempuan kekasihnya.

Perempuan itu sebenarnya hanya butuh disapa. Ditanya. Dikomentari. Sekadar dipamiti. Dalam kondisi demikian, yang perempuan merasa menghadapi “kebenaran” bahwa kekasihnya telah menjauh. Tak mencintai dirinya lagi. Indikatornya tak ada lagi perhatian detail sebagaimana banyak hari sebelumnya. Begitulah kebenaran yang diyakini yang perempuan.

Sarana komunikasi menjadi tak berguna. Keyakinan masing-masing, kebenaran yang diyakini, membuat mereka enggan mengambil inisiatif untuk mencairkan kebekuan. Pada titik kulminasi, penjelasan yang laki-laki, yang disampaikan dengan rasional, taktis, dan terukur, tak bisa diterima begitu saja oleh yang perempuan.

Penjelasan yang perempuan tentang keterabaian juga tak bisa diterima begitu saja oleh yang laki-laki. Yang laki-laki merasa tak pernah mengabaikan kekasihnya. Ia memang beberapa lama ”sangat terfokus” pada kerja-kerja taktis yang dia yakini adalah kebaikan besar yang akan dia berikan kepada kekasihnya.

Yang perempuan telanjur merasa terluka karena rasa terabaikan. Macetlah komunikasi. Mereka bersimpang jalan. Konsep tentang kebenaran yang mereka yakini ternyata tak tersambung. Masing-masing merasa tersakiti.

Sementara waktu mereka saling menjauhi. Dalam diam. Sesungguhnya keduanya saling merindukan. Dalam senyap. Mereka berada dalam kondisi lumrah, yakni silang pendapat karena merasa diri sendiri yang paling benar.

Argumentasi-argumentasi yang dikemukakan mentok pada mempertahankan keyakinan tentang kebenaran versi masing-masing. Argumentasi ilmiah berhamburan. Ada pula argumentasi yang tak ilmiah. Ada argumentasi berlogika. Ada pula argumentasi yang tak berlogika. Siapakah yang benar atau siapakah yang paling benar?

***

Kebenaran jamak dimaknai sebagai sesuatu yang bisa diterima akal dan pikiran. Sesuatu yang masuk akal. Sesuatu yang tinemu nalar. Akal, nalar, pikiran seseorang selalu dipengaruhi referensi pengetahuan yang mengendap dalam akal, nalar, dan pikiran itu.

Sebut saja itu sebagai kerangka acuan berakal, bernalar, dan berpikir. Jamak pula disebut term of reference. Pengalaman hidup juga menyumbang peran penting dalam konstruksi kebenaran. Pengalaman hidup setiap individu pasti berbeda-beda. Sepasang kekasih berasal dari pengalaman hidup yang pasti berbeda. Mereka punya field of experience yang berbeda.

Berbasis term of reference dan field of experience itulah setiap individu akan mengonstruksi kebenaran. Setiap hal akan dikaji benar atau tidak benar dengan perangkat term of reference dan field of experience itu. Individu yang punya term of reference dan field of experience yang mumpuni akan merumuskan kebenaran yang tentu berbeda dengan individu yang punya basis term of reference dan field of experience tergolong minim.

Tentu ada kemungkinan individu memiliki term of reference yang mumpuni tetapi minim field of experience, atau sebaliknya. Dalam kondisi demikian pasti konstruksi kebenaran yang dihasilkan juga berbeda. Setiap individu akan memberdayakan term of reference dan field of experience yang dimiliki untuk menjaga eksistensi diri sekaligus memengaruhi individu lain.

Di sinilah benturan konstruksi kebenaran acap kali muncul. Lalu, apa yang harus dilakukan agar konstruksi-konstruksi kebenaran yang berbeda, bahkan acap kali berbenturan, itu tak merusak? Setiap individu punya empat bekal yang diberikan Tuhan. Empat bekal itu adalah pancaindra, akal pikiran, suara hati (suara nurani), dan sukma atau roh.

Pancaindra jelas tak bisa mengukur kebenaran yang absolut. Fatamorgana begitu mudah menipu pancaindra. Akal pikiran juga tak bisa mengukur kebenaran absolut karena perbedaan dua basis itu tadi. Suara hati atau suara nurani nyaris mampu mengukur kebenaran absolut, sayangnya suara hati atau suara nurani ini tak bisa dipanggil sewaktu-waktu dibutuhkan.

Sukma atau roh juga tak bisa merefleksikan kebenaran absolut. Konstruksi kebenaran ala roh ini ketika dikomunikasikan dengan individu lain membutuhkan alat pancaindra dan akal pikiran. Dua alat ini jelas tak mampu mengukur kebenaran absolut. Dengan demikian, kebenaran yang bersumber dari sukma atau roh sifatnya menjadi subjektif, terfokus pada diri sendiri.

Sampai di sini rasanya tak ada jalan keluar yang taktis bagi sepasang kekasih yang bersimpang jalan tadi.  Penulis terkenal asal Inggris, Charles Dickens, pernah menulis there is nothing so strong of safe in an emergency of life as the simple truth. Ketika kita berada dalam masa penuh bahaya, tak ada yang begitu kuat dan begitu melindungi selain kebenaran bersahaja.

Kebenaran bersahaja bisa dimaknai sebagai kebenaran yang tidak dibumbui pernyataan hiperbolis, pernyataan bombastis. Kebenaran bersahaja adalah kebenaran yang tidak dibungkus dengan informasi yang tanpa bukti. Kebenaran bersahaja adalah kebenaran yang tidak dibingkai pandangan ideologis.

Dalam kondisi darurat, dalam kondisi bahaya, dalam kondisi terancam, satu-satunya cara manusia bertahan adalah berpijak pada dua hal. Pertama, kebenaran tentang apa yang sedang terjadi. Kedua, kebenaran tentang apa yang harus dilakukan.

Dengan bekal dua hal ini sepasang kekasih tadi bisa berefleksi secara individual tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Dengan niat tanpa pretensi, saya menyarankan sepasang kekasih tadi untuk saling melepaskan kebenaran masing-masing, saling memaafkan, dan memahami bahwa yang sedang terjadi adalah merusak dan yang harus dilakukan adalah mencegah dan menghentikan kerusakan.

Tentu saran yang saya yakini tanpa pretensi ini sebenarnya konstruksi kebenaran ala saya yang berbasis term of reference dan field of experience ala saya pula. Anda bebas menganalogikan benturan kebenaran sepasang kekasih tadi dengan peristiwa politik aktual di sekitar kita.

Rasanya sangat aktual dan pas, misalnya tentang konstruksi kebenaran ala pemerintah dan DPR yang mengesahkan UU Cipta Kerja dan konstruksi kebenaran berbagai elemen masyarakat yang menolak UU yang disusun dengan metode omnibus law itu.

Dalam kasus besar ini, term of reference dan field of experience saya menyatakan suara nurani akan berperan penting. Bagi sepasang kekasih tadi, suara nurani mereka pasti menghendaki rindu yang menggumpal butuh segera dicairkan dan disalurkan. Kanalnya adalah tetaplah saling mencintai.

Football news:

Anton Ferdinand was racially abused in comments to a post about a documentary about racism and Terry
Zlatan is named player of the year in Sweden for the 12th time
Ronaldo scored the 70th goal in home matches of the Champions League, repeating the record of Messi
Brunu on the penalty given to rashford: it was important for Him to gain confidence. It doesn't matter who kicks if the team scores
De Ligt on 2:1 with Ferencvaros: Juventus needed to move the ball faster and act more assertively
The minges on debut for Barca: Very happy. I hope this is the beginning of something big and meaningful
You can ask in the locker room if you have the guts. Tuchel-journalist asked about the quality of the PSG game