Indonesia

Susur Sungai, Enam Siswa Meninggal Terseret Arus

FAJAR.CO.ID,JOGJA– Dunia pendidikan dan Praja Muda Karana (Pramuka) di Jogjakarta berduka. Enam siswa SMPN 1 Turi, Sleman, yang sekaligus anggota Pramuka, meninggal dunia saat mengikuti kegiatan susur sungai di Sungai Sempor yang terletak di Pedukuhan Dukuh, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, kemarin (21/2).

Mereka terseret arus. Mereka hanyut.

Hingga pukul 22.00, berdasar informasi dari Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman dan Basarnas DIJ, siswa yang meninggal dunia ada enam siswa. Empat siswa sempat dirawat di Klinik SWA. Mereka yakni Sofia Aulia, siswa kelas 8 yang tinggal di Sumberejo; Arisma (kelas 7/Ngentak Tepan), Nur Aizah (kelas 8/Kembangarum); dan Latifa (Kembangarum).

Seorang korban meninggal dunia lainnya yakni Khoirunisa Nur Cahyani. Siswi kelas kelas 7 tersebut ditemukan sekitar pukul 18.30.

Sekitar pukul 21.20, ditemukan lagi seorang siswa dalam keadaan meninggal dunia. Yakni, Evieta Putri Larasati.

Selain itu, hingga tadi malam, tercatat ada lima siswa belum ditemukan. Keberadaan mereka masih terus dicari.

Enam siswa yang sempat hanyut berhasil selamat. Mereka hanya mengalami luka ringan. Mereka sudah dibawa pulang oleh keluarga masing-masing.

Ada pula empat siswa yang dirawat di Puskesmas Turi. Mereka adalah Naswa, Gama, Farah, dan Meisa.

Seorang siswa lainnya dirawat di Puri Husada. Identitas siswa tersebut belum diketahui.

“Jadi, tersisa lima orang yang belum diketahui keberadaannya. Kami tidak tahu apakah mereka terbawa arus atau tidak. Kami terus berusaha mengkonfirmasi pihak sekolah,” jelas Kepala Basarnas Jogjakarta Wahyu Effendi.

Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto menyatakan, ada lima siswa yang dinyatakan meninggal. “Jadi, siswa meninggal di RS SWA ada empat orang,” ujarnya.

Hingga tadi malam, petugas dan relawan yang dikoordinasi Badan Search And Rescue (SAR) DIJ terus melakukan pencarian. “Kami akan terus melakukan pencarian. Untuk saat ini (tadi malam) belum ada kendala serius bagi kami,” ujarnya.

Susur sungai SMPN 1 Turi tersebut diikuti siswa kelas 7 dan kelas 8. Totalnya 256 siswa. Rinciannya, siswa kelas 8 sejumlah 127 orang dan kelas 7 sebanyak 129 orang.

Dari 127 siswa kelas 8, tercatat ada 120 orang yang sudah melapor. Ada 7 orang yang belum melapor.

Sedangkan dari 129 siswa kelas 7, terdapat 66 orang yang sudah melapor. Sebanyak 63 orang belum melapor.

Kepala Dusun Dukuh, Desa Donotirto, Kecamatan Turi, Tartono, 54, menyatakan, ada lebih dua ratus peserta dalam kegiatan yang dilaksanakan di desa tersebut. Kegiatan digelar sekitar pukul 14.00. Sedangkan musibah hanyutnya sejumlah siswa terjadi sekitar pukul 15.00.

Dia menyatakan, kegiatan susur sungai merupakan insiatif pihak sekolah. “Susur sungai di luar kegiatan outbond. Saya justru malah belum tahu,” ujarnya di loksi kejadian.

Dia menyatakan, saat susur sungai, kondisi di sekitar Sungai Sempor belum turun terlalu deras. Hanya gerimis.

Tartono menduga, air dengan debit cukup besar datang dari wilayah utara. Air datang secara tiba-tiba.

Berdasar penuturan Tartono, dalam kondisi biasa kedalaman Sungai Sempor tidak sampai satu meter. Namun, saat terjadi banjir, air bisa bertambah sekitar satu meter lebih tinggi.

Kepala Basarnas Jogjakarta Wahyu Effendi menyatakan, pihaknya melakukan pencarian korban hanyut melalui air dan darat. Diperkirakan masih ada sekitar empat siswa yang belum ditemukan. Personel yang dilibatkan sebanyak seratus orang.

Basarnas DIJ juga terus melakukan konfirmasi ke pengelola SMPN 1 Turi. Terutama untuk memastikan apakah mereka benar terbawa arus sungai atau tidak.

Terkait dengan jumlah total siswa yang ikut dalam kegiatan susur sungai, Wahyu menyatakan ada 256 siswa.

“Jadi, tersisa lima orang yang belum diketahui keberadaanya. Kami tidak tahu apakah mereka terbawa arus atau tidak. Kami terus berusaha mengkonfirmasi pihak sekolah,” ujarnya.

Pencarian para siswa yang belum ditemukan akan dilakukan dengan mengikuti alur sungai. Pencarian melibatkan personel dari berbagai elemen dan dibagi melalui jalur darat serta air. “Untuk kondisi sungai belum terlalu deras. Kami juga belum menemukan kendala serius,” katanya.

Wahyu menyatakan, untuk siswa yang sedang dalam perawatan di klinik dan puskesmas. Hanya mendapat luka ringan dan saat ini sedang dalam perawatan. (inu/amd/by/JPC)