logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Tarif Murah Jadi Tantangan Berat Realisasi 5G dan Kesehatan Korporasi

JawaPos.com – Indonesia disebut memiliki tarif data internet yang paling terjangkau. Bahkan, tarif data internet di Indonesia dikatakan berada di bawah India dan Bangladesh per GB-nya.

Hal tersebut disampaikan oleh Board Member Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Arief Musta’in. Dia mengatakan, harga data (tarif data) di Indonesia termasuk yang terendah di dunia. Malahan tarif data internet Indonesia di bawah India dan Bangladesh per GB-nya.

Dengan kondisi demikian, lanjut Arief, hal itu menjadi tantangan serius bagi pengembangan teknologi ke depan, dalam hal ini 5G di Indonesia. Tak hanya itu, masyarakat yang terbiasa dengan tarif murah juga dikatakannya menganggu kesehatan korporasi dengan penghasilan yang tipis.

“Secara volume meningkat, tapi dengan yield yang sangat rendah ini akan jadi persoalan kesehatan korporasi. Tantangan lainnya karena kita juga harus tumbuh, apalagi ada teknologi baru (5G),” ujar Arief pada acara Telco Outlook 2019 bertajuk Megatrends in Telecom: Targeting Blue Ocean for Growth, Senin (2/12) di Jakarta.

Arief melanjutkan, yield yang rendah juga mendorong konsumsi besar-besaran. Dengan konsumsi yang besar ini, harusnya menaikkan ekonomi secara agrerat atau membangun dampak sosial.

“Misal Bangladesh, GDP di bawah kita, tapi mereka sekarang jadi tech talent yang besar. Itu kan dampak sosial dari konsumsi data,” imbuh Arief.

Soal tarif data internet murah, yield yang tipis bagi operator, dan tantangan menghadapi era 5G juga disampaikan oleh
Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Ismail. Pada acara yang sama, dirinya menyinggung soal kebiasaan konsumen yang ingin selalu murah tapi bagus.

“Lalu soal 5G, sama dengan IoT, bicara solusi juga. Teknologi baru yang tidak terbanyangkan kalau cuma conectivity. Kalau ditanya mau nggak naik speed, mau. Tapi mau nggak naik dua kali lipat biaya kuota? Nggak ada. Maunya WiFi gratis. Ini global juga begitu, maunya conectivity gratis, yang mereka mau bayar kontennya,” jelas Ismail.

Hal tersebut juga dikatakannya membebani operator. Itulah salah satu alasan mengapa dirinya tak ingin Indonesia terburu-buru mengimplementasikan 5G. Hal tersebut lantaran masih mencari skema yang pas dari segi frekuensi, bisnis model, dan hal lain yang mesti diselesaikan agar 5G bisa dimanfaatkan semuanya tanpa membebani siapapun.

Menurutnya, ada beberapa model adopsi 5G yakni stakeholder utama, pemerintah, operator, dan vendor. Semuanya harus saling memperkuat. Kalau vendor saja yang mendorong, pemerintah tidak ambil lead inisiatif, Ismail menyebut 5G akan sulit terlaksana.

“Maka betul tadi pemerintah harus aktif dalam 5G ini. Saya harus konsultasi dengan keuangan (Kementerian Keuangan). Jangan sampai ada isu spektrum dijual murah. Harus menemukan balancing, kita yang penting dapat gaun dari 5G ini, bukan hanya dari sektor conectivity,” tandas Ismail.

Themes
ICO