logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Tiket Domestik Mahal, Warga Urus Paspor untuk Transit ke Luar Negeri

Tiket Domestik Mahal, Warga Urus Paspor untuk Transit ke Luar Negeri

Suasana pengurusan paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Pekanbaru, Selasa (22/1). (Virda Elisya/JawaPos.com)

JawaPos.com - Mahalnya tiket penerbangan domestik membuat beberapa orang memilih untuk mengurus paspor. Gunanya, jika bepergian ke luar kota akan transit ke negara tetangga dulu. Sebab, harga tiket lebih miring jika transit dahulu ke luar negeri.

Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian, Kantor Imigrasi Kelas I Pekanbaru Erwin mengakui hal itu. Ada sebagian warga Pekanbaru yang mengurus paspor karena melonjaknya harga tiket dalam negeri.

"Iya memang ada beberapa yang mengurus paspor untuk keperluan transit di luar negeri, seperti di Kuala Lumpur. Tapi tidak terlalu signifikan, tidak banyak," kata dia, Selasa (22/1).

Erwin tak mengetahui secara pasti berapa jumlah masyarakat yang mengurus paspor hanya karena ingin transit saja. "Sekitar belasan orang kemarin itu. Katanya mau ke Bali, tapi karena tiket domestik mahal jadinya dia mau ke KL dulu, lebih murah," sebutnya.

Meski begitu, hingga kini belum tampak adanya kenaikan yang signifikan. Sejauh ini, pembuatan paspor di Imigrasi Klas I Pekanbaru masih terbilang normal. 

Sebab, warga banyak mengurus paspor untuk kebutuhan umroh dan wisata. "Destinasi yang paling banyak masih didominasi ke Malaysia, Singapura, dan Thailand," bebernya.

Jika dihitung, dalam sehari warga yang mengurus paspor mencapai 200 pemohon. Jumlah ini disebut Erwin berkurang dari tahun sebelumnya karena adanya pengurusan paspor melalui sistem online. 

"Jadi kuota minggu lalu sekitar 180, ditambah 30-an lansia jadi 200-an lah. Dibandingkam tahun 2017 dan 2018, ada penurunan sekitar 2 persen," rincinya.  Di mana, tahun 2017 sekitar 53 ribu. Tahun 2018 hanya 51 ribu. Turun 2 ribu.

Editor           : Yusuf Asyari
Reporter      : Virda Elisya

Themes
ICO