Indonesia

Wahai Menteri Susi Dengarkan Seniormu, Rokhmin

INILAHCOM, Jakarta - Pengamat kelautan dan perikanan Abdul Halim menilai, masukan dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri untuk Menteri Susi Pudjiastuti, layak diperhatikan.

"Rokhmin Dahuri dan kawan-kawannya punya analisa, pun demikian dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Jika semangatnya untuk memajukan kepentingan nasional, duduk bersama dan rumuskan solusi bersama," kata Halim, Jakarta, Minggu (16/9/2018).

Halim yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan itu berpendapat, sebaiknya Menteri Susi lebih membuka diri terhadap masukan dari berbagai pihak. Karena, tidak ada kalah dan menang dalam mengurus kepentingan bangsa dan kemaslahatan usaha perikanan dalam negeri.

Sebelumnya, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri mengusulkan memperkuat langkah deregulasi kebijakan dalam rangka meningkatkan ekspor komoditas sektor kelautan dan perikanan.

"Jika pemerintah melakukan deregulasi, nilai ekspor perikanan bisa kembali masuk dalam daftar 10 penyumbang devisa terbesar di Indonesia, dengan nilai sebesar 5,8 miliar dolar AS, menduduki peringkat ke-9," kata Rokhmin.

Rokhmin memaparkan, saat ini, dari ekspor kelapa sawit dan produk oleochemical, menghasilkan devisa terbesar. Disusul sektor pariwisata, tekstil dan garmen, migas, serta batubara.

Dia mengingatkan, pada 2014, ekspor produk perikanan Indonesia berada di peringkat 6 dari 10 besar devisa.
Ironisnya, sejak 2015 hingga 2018 ekspor perikanan tidak lagi masuk 10 besar komoditas penghasil devisa Indonesia.

Menurut dia, anjloknya produksi perikanan disebabkan oleh berbagai regulasi yang kontraproduktif, seperti moratorium perpanjangan izin kapal nelayan yang diimpor secara legal, larangan "transshipment", larangan pengiriman kepiting ukuran tertentu dan betina, dan hambatan akses kapal buyer ikan kerapu hidup hasil budidaya.

Selain deregulasi, ia juga menyarankan agar dilakukan langkah lainnya yaitu mempercepat proses perizinan dan perpanjangan perizinan, serta mengembangkan aquaculture, atau perikanan budi daya yang potensi ekonomi sebesar US$240 miliar per tahun.

Langkah lainnya adalah menerapkan teknologi modern untuk tambak garam sehingga produktivitasnya naik hingga 400%, dan kualitasnya naik agar bisa memasok seluruh kebutuhan garam dapur dan industri dengan target bisa menghemat devisa dari impor garam sebesar US$1,4 miliar per tahun.

Kemudian, mengoptimalkan kapasitas terpasang industri pengolahan ikan dengan menjamin pasokan bahan baku ikan dari dalam negeri yang potensi tangkapan ikannya 12.5 juta ton per tahun, dengan potensi ekspor US$12 miliar per tahun.

Rokhmin berpendapat bahwa jika langkah-langkah itu dijalankan, maka dalam waktu 6 hingga 24 bulan sektor perikanan Indonesia bisa menghasilkan devisa sekitar US$5,8 miliar. Dalam waktu 5 tahun bisa meningkat hingga US$52 miliar, serta dalam waktu satu hingga dua dekade bisa melompat menjadi US$252 miliar per tahun. "Devisa sebesar ini ekuivalen dengan 12 kali devisa dari sawit, atau sekitar 164 persen dari APBN RI tahun 2018," ucapnya. [tar]

Football news:

Alisson: the points Record was not Liverpool's goal. We are still Champions
Inter want to extend Sanchez's lease and are willing to pay extra for him to Manchester United if the clubs play in the Europa League final
Don't talk behind our backs, go out on the field and fight with us. Pep's possible appeal to Jose, Klopp and the world
Robertson Pro 1:2 with Arsenal: the Result is disappointing. But next week, the 30-year wait will end!
Bruno Fernandes: Ronaldo is the most technical player I have seen
Solskjaer on Chelsea: They have 48 hours more rest before the Cup semi-final. It's not fair
Bayer wants about 100 million euros for Havertz. He will not be released until the end of the Europa League draw