Indonesia
This article was added by the user Anna. TheWorldNews is not responsible for the content of the platform.

BMKG: Terjadi 3 Kali Gempa Susulan di Bali, Akibatkan Bangunan Rusak

JawaPos.com – Gempa bumi dengan magnitudo 4,8 mengguncang Karangasem, Bali sekitar pukul 04.18 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi tiga kali gempa susulan.

“Hingga pukul 7.30 WIB pagi ini, hasil monitoring BMKG menunjukkan ada 3 aktivitas gempa susulan (aftershock) magnitudo 3,8 (dirasakan di Karangasem III MMI), magnitudo 2,7 dan magnitudo 1,7 yang terjadi pada pukul 3.52.53 WIB,” kata Kepala Badan Mitigasi Gempa Bumi dan Bencana BMKG, Daryono dalam keterangannya, Sabtu (16/10).

Daryono menjelaskan, hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa ini memiliki magnitudo 4,8. Episenter terletak pada koordinat 8,32° LS dan 115,45° BT tepatnya di darat pada jarak 8 km arah barat laut Karangasem, Bali, dengan kedalaman hiposenter 10 km.

“Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktifitas sesar aktif di wilayah Rendang, Karangasem,” ucap Daryono.

Menurutnya, dengan memperhatikan bentuk gelombang seismik (waveform) yang tercatat pada sensor gempa Karangasem (KHK), tampak adanya gelombang geser (shearing) yang nyata dan kuat, menunjukkan aktivitas gempa tektonik.

Guncangan gempa dirasakan di wilayah Karangasem, Denpasar, dan Lombok Utara dalam skala intensitas IV MMI.
Sedangkan di Negara, Tabanan, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur dalam skala intensitas III MMI.

Daryono mengungkapkan, saking kuatnya guncangan gempa banyak warga yang terbangun dari tidur dan lari berhamburan ke luar rumah. Bahkan, gempa ini juga menimbulkan kerusakan bangunan rumah di berbagai tempat di Kabupaten Karangasem dan sekitarnya.

“Gempa Rendang Karangasem ini tidak hanya berdampak menimbulkan kerusakan bangunan rumah, tetapi gempa juga memicu dampak ikutan (collateral hazard) seperti longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rockfall) di beberapa tempat,” papar Daryono.

Gempa ini juga mengakibatkan, pada kawasan pegunungan yang terdapat perbukitan dan tebing curam, dampak ikutan gempa kuat berupa longsoran dan runtuhan batu lazim terjadi. Sehingga efek topografi semacam ini patut diwaspadai saat dan pasca gempa.

“Dampak ikutan yang dipicu gempa ini dilaporkan menyebabkan korban jiwa akibat tertimbun tanah longsor di Desa Trunyan, Kintamani,” pungkas Daryono.