Indonesia

Bukan Pameran Virtual Biasa

JawaPos.com – Manifesto VII masih terbuka untuk mereka yang tertantang mengirim karya. Pameran daring yang diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia ini didesain menjadi sebuah arena virtual tak biasa. Manifesto VII bukan sekadar pameran berupa pemajangan berkas digital dari sekumpulan karya seperti yang banyak ditemukan dalam pameran-pameran daring belakangan ini.’’Kami mencoba menawarkan bentuk yang tidak sama dengan pameran-pameran daring lain,’’ kata Bayu Genia Krishbie, salah satu kurator Manifesto VII. Menurutnya, harus diakui pameran daring memiliki persoalan yang tak bisa menggantikan keintiman khas pameran luring. Namun demikian, kelemahan tersebut bukan berarti menutup kemungkinan munculnya pengalaman anyar dalam interaksi antara karya dengan apresiatornya. Bayu memilih tak membuka detil seperti apakah pameran daring Manifesto VII ini nantinya.

Selain Bayu, Manifesto VII menempatkan Sujud Dartanto, Citra Smara Dewi, Rizki A. Zaelani, dan Teguh Margono sebagai kurator. Rizki menyebut Manifesto VII menjadi pameran yang berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya. ’’Kali ini Manifesto membuka kesempatan kepada kalangan yang lebih luas. Tidak hanya seniman,’’ katanya. Keputusan memberi kesempatan mereka yang bukan seniman tersebut menjadi salah satu cara bagaimana meneguhkan seni sebagai milik semua orang dan menjauh dari eksklusifitasnya.

Citra Smara Dewi memberi catatan serupa. ’’Di dunia seni rupa modern hari ini banyak galeri dan museum yang membuka kesempatan arus bawah untuk dapat terlibat,’’ katanya. Arus bawah itu adalah rupa-rupa karya berikut ide di belakangnya yang tidak hanya terkungkung pada batasan-batasan konvensi seni tinggi dan predikat kesenimanan penciptanya. Citra menambahkan, Manifesto VII sekaligus mengambil siasat kuratorial saling melengkapi antara bingkai kurasi dari para kurator dengan karya yang masuk.

Sujud menambahkan, tema Pandemi dalam Manifesto VII tidak hanya berkutat pada persoalan wabah Covid-19 belaka. ’’Karya dalam Manifesto VII dapat bertolak dari pengalaman subyektif yang sangat privat sekaligus bernegasi dengan kenyataan obyektif berupa dampak pandemi bagi kehidupan hari ini,’’ katanya. Menurutnya, karya-karya dalam Manifesto VII sepatutnya merujuk pada situasi semacam itu.

Pandemi Korona yang terjadi saat ini memang mengubah banyak hal. Bukan tak mungkin situasi ini juga dapat memantik lahirnya karya-karya kuat. Teguh Margono menyebut sejarah seni telah mencatat pandemi mampu menjadi sumber inspirasi para seniman berkarya. ’’Kita tahu di ranah sastra wabah flu Spanyol yang terjadi di masa lalu melahirkan Frankenstein oleh Mary Shelley. Di seni rupa, The Scream karya Edvard Munch juga tercipta saat flu Spanyol mewabah,’’ katanya.

Panggilan terbuka Manifesto VII masih dibuka hingga 14 Juli 2020 mendatang. Karya terpilih akan diumumkan pada 1 Agustus 2020. Panggilan terbuka Manifesto VII ditujukan kepada semua warga negara Indonesia. Warga negara asing yang menetap di Indonesia selama masa pandemi Korona juga dibolehkan ikut. Karya yang diajukan wajib milik sendiri dan bebas dari pelanggaran hak cipta. Tiap peserta dapat mengajukan antara satu hingga tiga karya sekaligus. Karya berbentuk video berisi proses penciptaan karya seni, pernyataan sikap atau tanggapan atas perubahan situasi kehidupan terkait pandemi, dan karya tidak boleh mengandung hasutan atau hinaan bersifat SARA maupun ideologi terlarang dan pornografi. (tir)

Football news:

Pirlo or Simone Inzaghi could lead Juventus
Ronaldo's sister: You can't do everything alone. You are still the best 🙌
Juve may fire sporting Director Paratici after Sarri
Juventus sacked Sarri (Nicolo Skira)
Messi sleeps on an anti-coronavirus mattress. The tissue is coated with nanoparticles that destroy the virus
Andrea Agnelli: Ronaldo will stay at Juventus. He's the mainstay of the club
Mbappe got into PSG's yawn for the match with Atalanta in the Champions League