Indonesia
An article was changed on the original website

Dulu Dapat Omzet Rp 5 Juta Sehari, Sekarang Rp 300 Ribu Sudah Bagus

JawaPos.com- Gedung utama setinggi sembilan lantai itu paling mencolok diantara bangunan yang ada di sekitarnya. Bangunannya terlihat masih baru, didominasi warna kuning menyala. Halaman parkirnya juga terbilang cukup luas.

Kondisi kontras tampak dengan beberapa bangunan yang ada di sekitarnya. Persis di depan pintu masuk, beberapa lapak pedagang berjejer. Kumuh. Bangunan semi permanen itu memakan jalan, sehingga menganggu pemandangan gedung.

Ya, begitulah wajah Pasar Turi Baru Surabaya. JawaPos.com mengunjungi pasar legendaris itu beberapa waktu lalu. Meski terlihat megah di luar, kondisi di dalam Pasar Turi Baru sepi. Mirip kuburan.

Ketika masuk ke dalam, stan-stan kosong melompong. Rolling door stan-stan itu banyak yang digembok rapat. Ditinggalkan penjual karena sepinya pembeli.

Dari pantauan, kios di lantai satu sampai dengan sembilan hanya sebagaian kecil saja yang  dibuka. Lainnya tertutup rapat. Bahkan, di beberapa lantai, hampir tidak ditemukan seorang pembeli sama sekali. ”Kondisinya sekarang memang sepi sekali. Banyak penjual yang tutup karena rugi,” kata Ita Sulistiani, salah satu pedagang di sana.

Ita merupakan sebagaian kecil pedagang yang masih bertahan di tempat itu. Banyak teman-teman pedagangnya yang lebih memilih tutup.

Hal senada juga disampaikan oleh Sulistyowati. Penjual nasi yang menggelar dagangannya di lantai empat juga merasakan kelesuhan ekonomi. Perempuan asal Waru, Sidoarjo, itu mengaku omzet dagangannya menurun drastis.

"Sekarang sudah sangat menurun, karena nggak ada pembeli. Paling yang makan cuma pekerja-pekerja di sini. Ya kadang kadang memang ada dari luar pulau. Setelah belanja naik kesini dan makan. Tetapi nggak tiap hari," ujarnya setengah curhat.

Pemilik warung Bu Ninik itu menambahkan, tiga tahun lalu di lantai empat sangat ramai. Ratusan pedagang memenuhi tempat itu. "Pembelinya pun banyak. Kalau pengunjung habis belanja, pasti makannya di sini. Dulu ada sekitar 600 stan penuh," tambah Sulistyowati.

Sayangnya, kondisi itu  tidak bertahan lama. Lambat laun, para pengunjung mulai berkurang. "Kalau dulu dalam sehari bisa dapat Rp 5 juta. Sekarang Rp 300 ribu saja sudah bagus," lanjutnya.

Menurut Sulistyowati, sejak setahun lalu, puluhan pedagang mulai tutup dan meninggalkan stan mereka. "Waktu ramai saya dulu sempat bayar orang untuk bantu-bantu. Tapi sekarang sudah nggak. Semua ditangani sendiri, nggak ada (uang) buat bayar," keluhnya.

Sulistyowati melanjutkan, manajemen Pasar Turi Baru menggunakan sistem syariah. Artinya mereka tidak memungut biaya sewa dari pedagang. Sebagai gantinya, pedagang wajib menyetor 15 persen dari total omzetya. “Kami tidak bayar listrik dan sewa. Hanya sistem bagi hasil, manajemen cuma narik 15 persen. Tetapi tetap tidak ada yang mau," katanya.

Dia berharap agar Pemkot Surabaya bisa membuat terobosan untuk memajukan Pasar Turi. Menurutnya, Pasar Turi harus tetap berdiri. "Saya berharap agar ada kebijakan yang bisa membuat lebih maju. Bagaimanapun ini kan ikon Surabaya. Kalau Jakarta punya Tanah Abang. Surabaya punya pasar Turi," pungkasnya.

(mkd/JPC)

Football news:

Antonio Conte: I will not hesitate before leaving if Inter are not happy with what I am doing
Diego Godin: Inter will do everything to keep second place. Now we need to think about how to catch up with Juventus
Harry Maguire: Manchester United want to fight for trophies
Zidane on the victory over Granada: real suffered as a team. Two more games, we haven't won La Liga yet
Real have won 11 games with a minimum score in La Liga for the first time in 11 years
Akinfenwa after Wycombe's exit to the championship: the Only person who can charge me even more is Klopp
Ramos on the title: I hope that Real Madrid will celebrate the championship on Thursday. Everything is in our hands