Indonesia

Kapal Barang Disulap Jadi Angkutan Penumpang

JawaPos.com - Sepanjang 2018 transportasi perairan kerap diwarnai dengan kejadian kecelakaan kapal. Setiap kejadian selalu ada korban meninggal dan penumpang hilang. Kejadian yang terus berulang itu sepertinya tidak mengubah kondisi manajemen bisnis dan keselamatan pelayaran.

Diketahui, kapal menjadi alat transportasi utama di sebagian besar wilayah Indonesia. Terutama di wilayah kepulauan. Hal yang wajar. Apalagi sekitar 70 persen wilayah Indonesia merupakan perairan. Meski menjadi pilihan utama, standar keamanan sering kali diabaikan.

Padahal, akibatnya sangat fatal: kematian.

Kapal Barang Disulap Jadi Angkutan Penumpang
LOLOS DARI MAUT: Korban KM Fungka Permata V yang selamat dievakuasi ke KM Furka 7 menuju desa Togong Sagu, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Jumat (14/9). (BASARNAS FOR RADAR SULTENG/Jawa Pos Group)

Evakuasi korban kecelakaan kapal itu paling sulit. Pertolongannya juga pasti lambat. Sebab, kecelakaannya jauh dari jangkauan. Korban tewas pun acap kali puluhan orang.

Standar keamanan yang diabaikan itu terasa sekali ketika Jawa Pos melakukan perjalanan laut di Sulawesi Selatan Senin lalu (10/9). Saat itu, Jawa Pos menyeberang dari Pelabuhan Bira, Bulukumba, menuju Pelabuhan Pamatata, Kepulauan Selayar, pada pagi. Sorenya melakukan perjalanan sebaliknya. Di jalur tersebut, di perairan Selayar, sebelumnya KM Lestari Maju kandas. Peristiwa 3 Juli 2018 itu menelan korban tewas 34 jiwa.

Setelah kandasnya KM Lestari Maju, penyeberangan dilayani dua kapal. Yakni, KM Kormomolin dan KM Bontoharu. Namun, saat ini yang beroperasi hanya KM Kormomolin. Kapal buatan 1999 itu berkapasitas 262 penumpang dan 22 unit kendaraan berbagai jenis. Kapal jenis tersebut terbagi menjadi tiga dek. Bawah untuk kendaraan dan barang. Tengah untuk penumpang. Paling atas untuk kru kapal.

Pelayanan yang tidak sesuai prosedur terjadi sejak pembelian tiket. Penumpang ditarik Rp 25.000 di Pelabuhan Bira. Ada selisih seribu rupiah dengan harga di tiket. Meski tahu, para penumpang cuek. Tidak komplain. Mereka maklum saja soal hal tersebut. Seolah itu hal umum dan sudah berlangsung lama. "Mungkin nggak ada kembaliannya," jawab enteng seorang penumpang ketika Jawa Pos menanyakan selisih harga tiket tersebut.

Hal melenceng juga terjadi saat pembelian tiket rombongan. Tak perlu beli satu per satu. Bisa beli borongan. Identitas bisa asal tulis. Tinggal tulis nama penumpang dan umur di kertas. Kertasnya apa pun. Bekas pun diterima. Kemudian, data itu disetorkan kepada petugas. Tidak perlu menunjukkan identitas masing-masing penumpang. Apalagi menghitung jumlahnya. Petugas percaya saja kepada si pembeli.

Di Pelabuhan Bira, pengecekan tiket agak ketat. Petugas meminta setiap penumpang membawa satu tiket. Tapi, sebatas itu. Identitas yang berbeda tak menjadi soal. Yang penting pegang tiket. Pemandangan berbeda terjadi di Pelabuhan Pamatata. Tidak ada pengecekan tiket saat masuk. Bahkan, tanpa tiket bisa masuk. Bebas.

Kelonggaran juga berlaku untuk kendaraan muatan barang. Tidak ada proses timbangan. Di Pelabuhan Bira ada fasilitas itu, tapi mangkrak. Berubah jadi tempat parkir sambil menunggu masuk kapal. Sementara itu, di Pelabuhan Pamatata tidak ada timbangan. "Langsung beli tiket, nanti petugas yang menghitung beratnya. Tidak perlu nimbang," ujar Fauzan, salah seorang sopir truk.

Ketika sudah berada di kapal, pengaman kendaraan hanya mengandalkan rem tangan. "Semua kendaraan wajib dipasangi tali lasing," kata Manajer Operasional dan Teknik PT ASDP Indonesian Ferry Pelabuhan Bira Supriadi. Tapi, fakta berbicara lain. Hanya kendaraan tertentu yang diikat tali pengaman. Misalnya, truk fuso.

Di luar problem itu, jaket keselamatan tak sesuai jumlah penumpang. Terdapat 185 buah jaket untuk dewasa. Sebanyak 16 jaket untuk anak-anak. Padahal, Senin itu penumpang anak-anak lebih dari 20 orang. Jumlah APAR pun setali tiga uang. Di tempat penumpang hanya ada dua unit. Di tempat kendaraan cuma ada satu unit. Itu pun penempatannya sulit dijangkau. Terjepit kendaraan yang parkir.

Syahbandar Pelabuhan Bira tidak memungkiri bahwa ASDP sering kali tidak patuh aturan. "Beberapa kali menemukan praktik pelanggaran. Seperti penjualan tiket yang melebihi kuota," ungkap Kepala Wilayah Syahbandar Bulukumba Umar Rahman.

Pemandangan miris juga tampak di pelayaran Bulukumba (Sulawesi Selatan) ke Kendari (Sulawesi Tenggara). Kapal berangkat dari Pelabuhan Leppe'e, Ujung Bulu, Bulukumba. Bukan kapal khusus penumpang yang digunakan. Melainkan kapal barang. Lengkap dengan katrol di bagian depan. Namanya KM Satria Nusantara.

Di bagian tengah kapal itu ada geladak. Tempat barang. Tempat tersebut diubah menjadi tempat penumpang. Geladak yang berukuran sepertiga panjang kapal itu dipasangi tenda dengan rangka besi. Penutupnya terpal plastik biru. Dibentuk seperti atap rumah. Persis tenda darurat. Di dalam tenda, orang-orang lesehan. Kalau ingin empuk, bisa sewa kasur. Biayanya Rp 25 ribu sekali jalan.

Penumpangnya bukan hanya orang dewasa. Melainkan juga bayi. Salah seorang penumpang yang ditemui Jawa Pos bernama Lutfi. Dia mengajak bayinya yang baru berumur satu bulan. "Naik kapal lebih murah dan barang bawaan juga banyak," ungkapnya. Karena itu, dia tidak ambil pusing jika sejatinya kapal yang ditumpangi merupakan kapal barang.

Tidak ada petugas berseragam di lokasi pelabuhan. Dermaga itu hanya dipenuhi kuli angkut dan orang yang naik turun kapal. Karena itu, soal keselamatan tidak banyak yang bisa diharapkan dari kapal tersebut. Pelampung memang ada. Namun, jumlahnya tidak cukup untuk semua penumpang. Mentok sesuai jumlah awak kapal. Jangankan jaket pelampung, life raft hanya ada dua di atas kapal. Apalagi APAR. 

(gal/c6/fim)

Football news:

Barcelona will lose 100 million euros due to the coronavirus. The club expected to make 200 million euros in profit
Police have opened a case against Ronaldo's 10-year-old son. He was self-driving a jet ski (The Sun)
Lampard on the cancellation of city's ban: I Never hoped that an extra team would get into the Champions League
Thibaut Courtois: to take the title, you have to suffer. It is not easy to win every match
Antonio Conte: I will not hesitate before leaving if Inter are not happy with what I am doing
Diego Godin: Inter will do everything to keep second place. Now we need to think about how to catch up with Juventus
Harry Maguire: Manchester United want to fight for trophies