Indonesia

Ketergantungan Promotor pada Sponsor Bikin Tinju Profesional Indonesia Mati Suri

JAKARTA - Bisnis tinju profesional Indonesia tampaknya sudah tak lagi dilirik oleh para sponsor. Ini disebabkan lantaran para promotor di Tanah Air yang tidak punya kemampuan untuk menggelar pertarungan dan mereka sangat bergantung dengan adanya dukungan sponsor.

Akibatnya, petinju yang memiliki kualitas tidak bisa beradu jotos menunjukkan kemampuannya. Mereka hanya rajin berlatih tapi miskin pertarungan.

Pemandangan inilah yang menjadi pembahasan menarik saat Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI), Tommy Halauwet berbicara dalam podcast V’s Boxing Indonesia di bawah promotor tinju Internasional, Milasari Kusumo Anggraini, dengan host Ary Sudarsono, dengan tema 'Peran KTPI Mengawasi Tinju Profesional Indonesia', Senin (28/9/2020).

Ary Sudarsono menyinggung mengenai bisnis tinju profesional Indonesia yang mulai sepi. Dikatakannya, ketika tinju profesional di Tanah Air masih punya panggung di tahun 1990-an, para sponsor berdatangan. Ini disebabkan lantaran rating setiap pertarungan mampu mengalahkan sinetron. (Baca juga: Jelang Duel Lawan Justin Gaethje, Khabib Nurmagomedov Rajin Berlatih Hilangkan Depresi)

Kini kondisinya tak sama. Orang tak lagi menonton tinju, baik melalui televisi maupun datang langsung ke arena, meski semua itu gratis. Sponsor menarik diri. Stasiun televisi mengambil langkah mundur dan menghentikan tayangan tinju profesional.

"Memang betul, sebelum Covid-19 memang pertandingan tinju profesional kita terutama di televisi yang ada selama ini jauh menurun. Pertama, masalah sponsor. Kedua, promotor kita banyak, tapi kemampuan untuk menggelar pertandingan keliatannya sangat bergantung dengan adanya dukungan sponsor. Sebelumnya, ada beberapa promotor yang berani dengan tidak tergantung dengan sponsor," ungkap Tommy.

"Komisi tinju tidak bisa melakukan apa-apa kalau promotor tidak aktif untuk melakukan suatu pertandingan. Komisi tinju hanya sebagai komisi yang membantu promotor untuk menjalankan pertandingan itu sesuai aturan main, termasuk legal aspek."

Tak hanya tentang siaran tinju di televisi dan keberanian promotor tanpa bergantung pada sponsor. Ada satu poin menarik ketika Tommy berpesan pada petinju untuk tidak melibatkan keluarga dalam memulai kariernya sebagai petinju profesional. (Baca juga: Soal Duel vs Pacquiao, McGregor: Tinju Saja, Tapi Dana White Masih Bungkam)

"Dalam peraturan seharusnya petinju jangan mau dilatih sama keluarganya. Kasihan petinjunya yang tadinya cukup punya kualitas, matinya, mati muda," pungkas Tommy.

(sha)

Football news:

Pep on the criticism: Defeat is becoming a disaster these days because of social media. Sometimes the opponent is better than us, this is life
FIFA about Bartomeu's words about the European super League: we do not know about any agreement
Brother, don't give up on him. He's playing against us. Benzema asked Mendy not to give the ball to Vinicius at half-time of the match with Borussia
In 2010, Pirlo negotiated with Barca. The main playmaker of the generation was ready to go to Pep even in the rotation
Chugainov about Loko in the Champions League: there are Chances to get out of the group. The team looks confident and worthy
Bayern and Alaba failed to agree a new contract for the third time
Atalanta and Ajax showed smart football: a lot of traps and subtle changes on the move