Berbeda dengan patin biasa, Patin Perkasa memiliki berbagai keunggulan

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencetuskan inovasi berupa komoditas perikanan Patin Perkasa yang merupakan singkatan Patin Super Karya Anak Bangsa, hasil riset Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat.

"Berbeda dengan patin biasa, Patin Perkasa memiliki berbagai keunggulan," kata Peneliti BRPI Evi Tahapari dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Ia mengungkapkan, berbagai keunggulan tersebut antara lain tingkat pertumbuhan lebih cepat 16,61-46,42 persen; produktivitas lebih tinggi 11,27–46,41 persen, dan rasio konversi pakan lebih rendah 5,6-16,3 persen.

Keunggulan lainnya adalah Harga Pokok Produksi lebih rendah 4,45–17,92 persen; serta B/C ratio pembesaran lebih tinggi 14,71-48,48 persen.

Menurut Evi Tahapsri, sebelum 2010, perkembangan patin sangat heterogen di Indonesia, serta terjadi pertumbuhan yang berbeda-beda di berbagai lokasi di Indonesia.

"Seiring dengan perkembangan patin di Indonesia, masyarakat yang sudah bisa melakukan pemijahan sendiri menjadi tidak terkendalikan. Akibatnya terjadi penurunan genetik dan sejak pertama patin masuk ke Indonesia pada 1972 belum ada upaya untuk memperbaiki genetik tersebut," paparnya.

Untuk itu, ujar dia, pada 2010-2017, tim penelitian melakukan seleksi ikan patin, dengan benih yang berasal dari Sukamandi, Jambi, dan Palembang, sebanyak dua generasi.

Hasilnya, menurut Evi, sangat bagus, yakni respons seleksi menunjukkan angka 38,86 persen, sudah memenuhi persyaratan respon seleksi minimal 30 persen.

Ia mengemukakan, hasil uji lapangan ikan patin di empat lokasi, yaitu Tulungagung, Kuningan, Bandar Lampung, dan Sukamandi, ternyata memberikan berbagai keunggulan dibanding patin biasa yang selama ini terdapat di masyarakat.

Ia dan tim menyebutnya sebagai ikan patin tumbuh cepat dan pada 2018 diterbitkan Surat Keputusan (SK) rilis dengan nama Patin Perkasa.

Setelah rilis SK tersebut, hasil riset ini perlu disebarluaskan ke masyarakat. BRPI melakukan riset pengembangan pembenihan di Subang dan pembesaran di Tulungagung pada tahun 2020.

"Hasilnya waktu lebih cepat, pakan lebih hemat, dan harga pokok produksi lebih rendah," ujarnya.

Baca juga: KKP berkoordinasi dengan Polri ungkap kasus penyelundupan ikan patin

Baca juga: Peternak ikan binaan Pertagas panen bibit patin senilai Rp7 juta/panen

Baca juga: KKP gandeng UNIDO buat pelatihan pembenihan ikan patin dan lele


 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020