Indonesia

KPK Berharap Pimpinan Jilid V Diisi Perempuan

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap sosok perempuan dalam kembali menjadi pimpinan KPK jilid V. Saat ini, proses seleksi tengah berlangsung.

Perempuan dianggap dapat memberi keseimbangan gender di Lembaga Antirasuah.

"Apalagi KPK selama ini cukup intens membangun gerakan antikorupsi bersama jaringan-jaringan perempuan," kata juru bicara KPK Febri Diansyah kepada wartawan.

KPK sendiri memang kerap mengajak sejumlah organisasi perempuan dalam menjalankan program pencegahan korupsi. Beberapa elemen masyarakat perempuan yang digandeng antara lain, Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK), Perempuan Indonesia Antikorupsi (PIA).

Bahkan, organisasi lain dari unsur masyarakat, akademisi, polwan, anggota TNI, Kepala Daerah hingga bidan dan tenaga kesehatan di pelosok-pelosok daerah yang konsern dengan semangat pemberantasan korupsi kerap dilibatkan KPK dalam program pencegahan tersebut.

"KPK berharap keseimbangan gender juga menjadi perhatian dalam seleksi pimpinan KPK ini," kata dia.

Di sisi lain, Komisi Antikorupsi berharap Pansel menghasilkan pimpinan jilid V terbaik. Proses seleksi diharap jadi ajang pencarian calon-calon yang mampu membawa Indonesia terbebas dari praktik rasuah.

"Harapan kami proses seleksinya itu menghasilkan tahapan-tahapannya itu bisa menghasilkan pimpinan yang terbaik bagi pemberantasan korupsi," pungkasnya.

Football news:

Atalanta controlled the ball for 8 minutes and 11 seconds before the first goal against Juventus
Jovic will be able to play with Villarreal if the third test for the virus is negative
Hodgson on Zaa threats: He did the right thing when he let people know. There is no excuse for this
Setien on Messi's rest: Of course, he needs it. But the score in the match against Valladolid was too slippery
Immobile – the fans of Lazio: Some people seem to have too short a memory. Leave my family alone
Holand was kicked out of a nightclub in Norway
Zinedine Zidane: real is real. The most important club in history