Indonesia

Membangunkan Kembali Kejayaan Kopi Sumowono dari Tidurnya

Nanti hanya ada satu brand 'ASKAS' yang mewakili cita rasa kopi lokal khas Sumowono.

REPUBLIKA.CO.ID, Sebagai salah satu wilayah penghasil bijih kopi di Kabupaten Semarang, Kecamatan Sumowono terus mendorong optimalisasi produksi kopi rakyat. Saat ini, di wilayah kecamatan yang ada di lereng barat gunung Ungaran, tersebut memiliki lahan  perkebunan kopi rakyat seluas 1.000 hektare.

Dengan produktivitas rata-rata mencapai lima ton per hektare, menjadikan Kecamatan Sumowono memiliki sejumlah merek kopi, yang dikelola kelompok tani maupun UMKM pengolahan kopi lokal. Sebut saja Kopi Sukorini, Lempuyangan, Esensa, Kopi Jlegong, Candisongo, Gumukdali dan Kopi Biyung.

Terlebih lagi, cita rasa kopi lokal Sumowono sudah cukup familier dan sejatinya pernah mencapai masa kejayaan, sejak dipopulerkan bangsa kolonial sebagai salah satu komoditas hasil bumi andalan. Hingga akhirnya kopi asli Sumowono juga familier bagi penikmat kopi di Eropa, pada saat itu.  

Namun, seiring berjalannya waktu, nama kopi Sumowono belakangan sempat meredup. Bahkan, kian tenggelam di antara produk kopi lokal Kabupaten Semarang yang lebih berani berinovasi dalam pengolahan pascapanen.

Berangkat dari persoalan ini, para pemerhati dan pelaku usaha kopi di Kecamatan Sumowono tergerak untuk berbuat lebih banyak, guna mengoptimalkan hasil produksi kopi lokal tersebut.

Mereka pun berfusi dan membangun sinergi dengan membentuk Asosiasi Kopi Asli Sumowono (ASKAS). "Misi asosiasi ingin mengembalikan kejayaan kopi Sumowono seperti pada eranya, yang dikenal karena cita rasa dan kualitasnya," ungkap Giyono, salah satu inisiator ASKAS, Ahad (16/2).

Menurutnya, jika sekarang ada sekitar sepuluh merek produk kopi Sumowono yang beredar di pasaran, maka nanti hanya ada satu brand 'ASKAS' yang mewakili cita rasa kopi lokal khas Sumowono.

Terkait hal ini, dukungan pemangku kepentingan dan petani dan pelaku UMKM produk kopi di wilayahnya pun terus mengalir. Setidaknya, itu sudah dibuktikan dengan menginisiasi penyelenggaraan 'Sumowono Ngopi Bareng', yang digelar di kantor Kecamatan Sumowono, baru- baru ini.

Hajat ini menjadi salah satu forum bagi stakeholder perkopian di Kecamatan Sumowono guna menyatukan persepsi serta masukan terkait dengan lahirnya ASKAS. Ternyata, sambutan pemangku kepentingan, petani dan pelaku UKM kopi di Kecamatan Sumowono sangat positif.

Apalagi, acara yang digagas asosiasi ini juga mempertemukan puluhan pengusaha, para petani kopi serta para pemangku kepentingan. "Sehingga urun rembug, gagasan hingga konsep kebijakan apa yang bisa mendorong kejayaan kembali kopi lokal Sumowono nge-blend di kegiatan tersebut," tegasnya.

Nantinya, asosiasi yang kini telah beranggotakan 18 pelaku usaha perkopian bakal bergerak bersama dari hulu hingga hilir. Tak hanya soal pemasaran, para anggota ASKAS yang bekerja sama dengan kelompok tani akan melakukan edukasi bercocok tanam dan pengolahan kopi pascapanen yang baik kepada para petani kopi rakyat.

Misalnya, terkait dengan penggunaan pupuk non pestisida, menghindari petik hijau. Hingga pada penjemuran biji kopi yang higienis dan mampu menghasilkan kualitas kopi yang bagus, agar mutu biji kopi lokal Sumowono bisa terjaga.

Giyono juga menyampaikan, dengan produktivitas mencapai lima ton per hektare, selama ini, kopi rakyat Sumowono jamak menyuplai ke beberapa kafe di Kabupaten Semarang, Purwodai (Kabupaten Grobogan), Kota Magelang, bahkan Kota Yogyakarta.

Sedangkan penjualan secara daring, jamak melayani distributor yang ada di Sumatera hingga Kalimantan. “Kalau kami bisa mengolah dari hulu hingga hilir, bukan tidak mungkin kopi Sumowono bakal semakin populer lagi di luar Kabupaten Semarang,” ujarnya.

Apa yang digagas ASKAS ini, diapresiasi Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Pangan  Kabupaten Semarang, Wigati Sunu. Ia pun meminta, para pengusaha kopi Sumowono untuk membentuk korporasi guna membuka pasar yang lebih luas.

Dia mencontohkan, produk kopi Gunung Kelir Kecamatan Jambu yang telah mampu menembus pasar ekspor hingga Timur Tengah dan Eropa. “Kabupaten Semarang adalah salah satu sentra kopi terbaik di Jawa Tengah. Perlu kerja sama antara petani dan pengusaha lokal agar bisa berkomunikasi bisnis dengan para eksportir,” katanya. 

Ia juga menyebut bisnis kopi saat ini, juga menjadi trending bagi beragam kalangan, terutama usia muda. Terbukti dengan adanya pelaku usaha dan marak munculnya barista atau penyaji kopi dari kalangan anak muda.

Menurutnya, kondisi ini, menjadi peluang pasar tersendiri untuk menghasilkan produk kopi unggulan. “Satu hal lagi, semangat untuk ‘membangunkan’ kembali kejayaan kopi lokal Sumowono ini kami apresiasi,” tandas Sunu.