Indonesia

Neraca Perdagangan Agustus 2018 Diprediksi Defisit hingga USD1,5 miliar

JAKARTA - Neraca perdagangan pada bulan Agustus 2018 diprediksi akan mengalami defisit. Defisit diperkirakan akan mencapai USD820 juta hingga USD1,5 miliar.

Pengamat Ekonomi Bank Permata Josua Pardede mengatakan, laju ekspor diperkirakan terkontraksi 2,1% yoy, sementara laju impor diperkirakan tumbuh 9,7% yoy.

"Neraca perdagangan Agustus diperkirakan mengalami defisit USD820 juta dibandingkan defisit USD2,03miliar pada bulan sebelumnya," ujarnya kepada Okezone, Senin (17/9/2018).

Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh tren penurunan harga komoditas ekspor Indonesia sepanjang bulan Agustus. Di mana laju harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) tercatat -16%yoy dari bulan sebelumnya -14%yoy.

"Sedangkan harga batubara juga melambat dari 26% yoy pada bulan sebelumnya menjadi 24% yoy pada bulan Agustus," lanjutnya.

Selain penurunan harga komoditas, perlambatan laju ekspor juga dipengaruhi oleh penurunan volume ekspor, terindikasi dari Baltic Dry Index (DBI) yang melambat pada bulan Agustus. Sedangkan laju impor diperkirakan tetap tinggi yakni sekitar 23,23% yoy, dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 31,56% yoy.

"Masih tinggi impor Indonesia dipengaruhi oleh pemintaan domestik dan dikonfirmasi oleh indeks aktivitas manufaktur domestik yang meningkat juga sepanjang bulan Agusutus. Impor diperkirakan masih akan didominasi oleh impor bahan baku dan barang modal," papar Josua.

Sementara Ekonomi Indef Bhima Yudhistira memproyeksi defisit perdagangan bulan Agustus 2018 diperkirakan sebesar USD1,1-USD1,5 miliar.  Hal ini dipengaruhi efek perang dagang yang mulai berdampak negatif bagi neraca perdagangan Indonesia.

"Ekspor CPO loyo dihantam tarif 54% bea masuk oleh India. Ekspor manufaktur bergerak lambat karena permintaan global khususnya dari negara tujuan ekspor utama belum pulih," jelasnya.

Di mana jika permintaan turun, maka harga ekspor pun ikut turun. Menururnya hal ini terlihat dari harga agregat ekspor produk non migas pada bulan Juli yang anjlok -2,2% yoy.

Disisi lain dalam kondisi perang dagang, China terus melempar ekses produksinya ke Indonesia, paska produknya dihambat masuk AS. Total impor dari China ke Indonesia naik 32% periode Januari-Juli 2018, dengan nilai USD24,8 miliar usd atau 27,3% dari total impor non migas.

"Sebagai pasar yang besar di Asean dengan 260 juta penduduk, Indonesia adalah sasaran empuk dari eksportir negara lain," katanya.

Sementara harga minyak mentah dunia masih bergerak naik, ditambah pelemahan kurs Rupiah yang membuat impor migas akan terus melebar. Januari-Juli defisit sektor migas sebesar USD6,6 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu USD4,6 miliar USD.

"Ini sudah lampu merah. Defisit perdagangan yang terus melebar bisa memperlebar defisit transaksi berjalan. Pada akhirnya permintaan Dolar dan Rupiah tidak seimbang, hal ini mengakibatkan pelemahan kurs karena permintaan Dolar untuk impor jauh lebih besar," jelas dia.

(Feb)

(rhs)

Football news:

Andujar Oliver on deletions: Fati went too far in the foot, and the foul on the Peak was even more dangerous, perhaps
Atalanta extended the winning streak to 11 matches, beating Sampdoria-2:0
Milner played his 536th game in the Premier League and was ranked in the top 5 of the League in games played
Barca midfielder Fati is removed in the Derby with Espanyol. He spent 5 minutes on the field
Suarez scored 195 goals for Barcelona and finished third in the club's top scorer list
Daniele de Rossi: People call Messi cowardly, but they are afraid to ask their wives for a remote control from the TV
Daniele de Rossi: Ronaldo is comparable to Messi in goals and trophies, but Leo's game is more fun