Indonesia

Serupa SARS, Tingkat Risiko Corona Lebih Rendah

Kematian akibat corona tidak setinggi ketika SARS melanda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum IDI, Daeng M Faqih beranggapan, virus corona 2019-nCov memang memiliki beberapa persamaan gejala dan penularan dengan SARS-CoV. Namun demikian, menurut dia tingkat kefatalan SARS jauh lebih mematikan daripada virus baru yang berasal dari Wuhan itu.

“Virus corona ini tingkatnya lebih rendah. Para ahli juga mengatakan begitu,” ujar dia, Jumat (24/1).

Daeng tak menampik, virus corona mampu menyebabkan kematian layaknya SARS, akan tetapi jumlahnya lebih rendah. Sebab, ia mengacu pada SARS yang menyebabkan kematian mencapai 60 persen, sedangkan corona hanya sekitar lima persen dari pengidapnya saja.

Merujuk pada para ahli, dia menegaskan, hal itu disebabkan kecepatan dari penyebaran gejala yang lebih ekstrim dari SARS dibanding corona. Sambungnya, dugaan itu muncul karena, pasien dari corona di Wuhan hingga kini hanya 800-an, dengan kematian yang berjumlah 25 orang.

Artinya virus corona baru tersebut berbeda dengan SARS yang menyebabkan ribuan orang terdampak. Bahkan ribuan orang pula yang meninggal.

“Artinya keparahan dalam menimbulkan kematian itu beda. jadi virus sekarang ini, kefatalannya rendah. Dan itu pun kematiannya tidak tunggal karena virus ini, tetapi karena ada penyakit yang menyertai,” katanya.

Dia menyebut, gejala yang timbul dari kedua penyakit itu sama, di mulai dari pilek, batuk, nyeri otot dan sesak. Tetapi, keparahan kedua penyakit yang berasal dari hewan itu berbeda.

Sambung dia, kematian yang disebabkan oleh corona yang berjumlah hanya lima persen itu, juga tak sepenuhnya karena virus tersebut. Melainkan ada kormobid (penyakit penyerta) selain dari virus tersebut. Daeng mencontohkan dari kematian yang terjadi, bisa berasal dari gagal ginjal atau mengidap diabetes.

“Jadi tidak tunggal hanya oleh corona,” ungkap dia. Oleh sebab itu, pihaknya meminta masyarakat agar tidak panik berlebih. Meskipun tetap saja harus waspada.