Indonesia

Totok Amin: Calon Mendikbud Profesional, Prioritas Kualitas SDM

SALAH satu prioritas pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin adalah mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Meningkatkan mutu pendidikan menjadi pilar utama untuk menyukseskan visi lima tahun mendatang. Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Agas Putra Hartanto bersama pakar pendidikan Universitas Paramadina Totok Amin Soefijanto kemarin (19/7).

Apa yang menjadi tantangan dunia pendidikan lima tahun mendatang bagi pemerintahan baru?

Menurut saya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan. Mulai kepala sekolah, guru, hingga tenaga kependidikan seperti petugas laboratorium, pustakawan, dan staf tata usaha. Sebab, mereka menentukan 80 persen mutu pendidikan. Sisanya didukung sarana-prasarana yang baik. Pada era milenial saat ini, mereka harus canggih dan tidak gaptek (gagap teknologi). Khusus guru, harus ada program pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan mutu tenaga kependidikan dari pemerintah pusat. Pelaksanaannya diserahkan kepada MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) daerah masing-masing. Tentu dengan bimbingan praktisi atau pakar yang ahli di bidangnya.

Apa pekerjaan rumah cabinet Jokowi – Ma’ruf di bidang pendidikan lima tahun mendatang?

Pemerintah harus lebih responsif dengan perubahan dan kemajuan global. Di pendidikan tinggi, masih banyak jurusan maupun mata kuliah yang bisa dibilang sudah ketinggalan zaman. Kontennya tidak kekinian. Akibatnya, kita terkesan lambat dalam mengikuti tren Revolusi Industri 4.0. Begitu pula di tingkat SMK (sekolah menengah kejuruan) yang lulusannya harus siap kerja. Namun, nyatanya skill-nya nanggung karena sarana-prasarana praktiknya terbatas. Pemerintah harus mendorong itu. Baik sekolah negeri maupun swasta. Kebutuhan siswa terhadap 30 persen teori dan 70 persen praktik harus terpenuhi. Menggandeng perusahaan swasta juga perlu. Profesional dipersilakan mengajar untuk berbagi ilmu sehingga siswa tahu apa yang dibutuhkan di dunia kerja.

Sosok yang layak untuk kursi menteri di bidang pendidikan dasar dan menengah maupun pendidikan tinggi?

Saya lebih setuju seorang profesional untuk menduduki jabatan tersebut. Kalau dari partai, meski dia seorang profesional, pasti akan lebih mengutamakan kepentingan partai (yang membesarkan namanya). Karena ada intervensi di situ. Tidak mungkin orang tersebut mengabaikan partainya. Yang lebih penting adalah adalah orang tersebut harus mengerti dan paham dengan dunia pendidikan. Harus bisa mewujudkan pidato visi Jokowi-Ma’ruf pada 14 Juli lalu yang menjadikan sebuah program berkelanjutan yang terimplementasikan sampai tingkat akar rumput. Visi tanpa aksi itu hanya akan menjadi sebuah sensasi. Begitu juga, aksi tanpa visi tidak lebih dari sekadar atraksi.

Posisi menteri bidang pendidikan lebih layak diisi kalangan muda atau tua?

Sama-sama ada plus minusnya. Kalau diisi menteri muda keuntungannya adalah lebih responsif. Tahu akan kebutuhan dan cepat dalam memutuskan kebijakan sesuai tuntutan perkembangan zaman. Minusnya adalah kurang berpengalaman dari sisi birokrasi. Karena tidak hanya memikirkan soal teknis. Tetapi juga harus berhadapan dengan birokrasi di DPR. Khususnya soal anggaran. Nah, aspek ini memang perlu jam terbang. Karena tidak mudah. Jika, dari kalangan senior, memang jelas berpengalaman, tapi ya itu tidak responsif. Lambat.

Football news:

Cadiz, who retired, will sign Negredo
Zaa from crystal Palace showed racist threats from the instagram account. The police detained a 12-year-old (!) schoolboy
Ole Gunnar Solskjaer: no One wins alone, unless you're Maradona
Ocampos on Messi: you Look at him as a God, but he is real. Leo helps the players
Solskjaer on the martial-Rashford-Greenwood trio: Nothing new for Manchester United. Remember Ronaldo, Rooney and Tevez?
Josep Bartomeu: Barcelona have won La Liga 8 times in 11 years. Historic achievement
Lineker on the CAS decision on Manchester City: it's Hard to know what will happen to the FFP rules after this