Jakarta (ANTARA) - Vietnam mendadak mengusulkan SEA Games yang semestinya digelar di Hanoi di negeri itu dari 21 November sampai 2 Desember 2021 ditunda ke tahun depan. Alasannya, kasus COVID-19 tengah menanjak di negeri itu.

Indonesia, Brunei, Kamboja, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand langsung menolaknya. Alasannya, penundaan akan membuat kalender olahraga makin padat sehingga atlet tidak bisa tampil maksimal.

Indonesia, seperti disebut Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia Raja Sapta Oktohari, menambahkan alasan lain, yakni soal anggaran yang terlanjur dialokasikan.

Baca juga: Vietnam berencana tunda SEA Games hingga tahun depan

Hanya Myanmar yang mendukung usul Vietnam, sedangkan Laos dan Timor Leste akan mengikuti apa pun keputusan bersama ASEAN.

Indonesia dan negara-negara yang menentang penundaan sangat benar menolak usul itu. Namun menganggap sepi faktor yang mendorong Vietnam mengusulkan SEA Games ditunda adalah salah besar.

Selama ini tak begitu terekspos bahwa Vietnam sebenarnya sedang gundah gulana sejak akhir April lalu ketika kasus infeksi COVID-19 tiba-tiba membludak.

Bagi negara yang disebut BBC dalam laporan 15 Mei 2020 sebagai “over-reaktif” menanggapi pandemi tapi justru sikap ini membuat Vietnam bisa menjinakkan pandemi yang sudah satu seperempat tahun ini tak kunjung sirna, penambahan kasus ribuan saja sudah amat membuat gelisah para pemimpin dan rakyat Vietnam.

Sampai 10 Juni 2021, Vietnam “hanya” mencatat 9.222 kasus infeksi dan 55 kematian. Angka ini sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia yang sampai tanggal yang sama mencatat 1,87 juta kasus COVID-19 dan 51.992 nyawa terenggut oleh penyakit ini.

Bahkan angka Vietnam itu jauh lebih rendah dibandingkan Singapura yang sampai tanggal yang sama total menghimpun 62.219 kasus dan 34 kematian.

Sampai 9 Juni ada tambahan 6.500 kasus baru atau sekitar dua per tiga jumlah infeksi Vietnam selama pandemi. Angka ini pun amat rendah jika dibandingkan dengan 6.295 kasus yang dicatat Indonesia hanya dalam satu hari pada 6 Juni.

Tetapi jangan samakan Vietnam dengan negara lain. Sejak awal pandemi, Vietnam, seperti disebut BBC, sangat antisipatif sampai kemudian menjadi contoh sukses bagaimana semestinya dunia mengendalikan COVID-19.

Vietnam tak pernah menyepelekan COVID-19 atau berhalusinasi mengenai perang biologi. Padahal Vietnam memiliki alasan untuk curiga karena bertetangga dan berbatasan langsung dengan China yang pernah terlibat perang pada 1979, tak pernah benar-benar baik hubungannya dengan tetangganya yang raksasa itu dan mungkin negara ASEAN yang paling sengit menentang China.

Baca juga: Indonesia tolak usulan penundaan SEA Games 2021

Varian baru

Pada masa awal pandemi saja, Vietnam sudah sangat antisipatif. Ketika Wuhan menjadi episentrum pandemi global, Vietnam mencermatinya lekat-lekat untuk kemudian menyiapkan langkah darurat kalau-kalau wabah Wuhan menyebar ke Vietnam.

Dan begitu kasus virus terkonfirmasi pertama muncul pada 23 Januari 2020, rencana darurat Vietnam langsung beraksi. Tetapi sikap over-reaktif ini justru membuat negara berpenduduk 100 juta orang itu berhasil mengendalikan pandemi dengan “hanya” 55 orang yang kehilangan nyawa.

Dan sikap ultra-waspada itu terungkap kembali manakala Vietnam menemukan pergerakan tak biasa dalam grafik infeksi, apalagi setelah mereka menemukan varian baru yang jauh lebih menular.

Negara yang pernah beberapa kali terimbas wabah yang kebanyakan bermuasal dari China itu, termasuk flu burung, tak sekalipun meremehkan COVID-19 yang terus saja bermutasi.

Pada 29 Mei 2021, pemerintah Vietnam mengungkapkan telah menemukan varian baru yang “amat berbahaya” yang merupakan gabungan varian India dan varian Inggris yang menyebar cepat lewat udara.

Menteri Kesehatan Vietnam Nguyen Thanh Long menyebutkan data genom menunjukkan varian baru ini jauh lebih menular ketimbang varian-varian sebelumnya.

Varian baru ini mereplikasi diri dengan cepat sekali sehingga menjelaskan alasan mengapa belakangan ini mendadak muncul banyak kasus baru di beberapa bagian Vietnam.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sudah mengidentifikasi empat varian baru yang muncul di Inggris, India, Afrika Selatan dan Brazil, tengah menyelidiki temuan Vietnam itu.

Abhishek Rimal, Koordinator Kesehatan Darurat Regional pada Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), menyebutkan dari bukti di lapangan, varian baru ini memang bisa jauh lebih menular dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya.

“Jika terkonfirmasi, kita bisa menyaksikan lonjakan besar kasus COVID-19 di Vietnam dan bahkan menyebar ke penjuru Asia Tenggara,” kata Rimal seperti dikutip The Telegraph.

Jadi, amat beralasan jika Vietnam jatuh khawatir. Selama ini mereka memang aman-aman saja lewat pendekatan super-keras dalam membendung COVID-10, termasuk penelusuran kontak yang amat agresif, tes COVID-19 yang amat ekstensif, dan penerapan protokol kesehatan tanpa pandang bulu di seluruh penjuru negeri.

Tapi varian baru belakangan ini mengekspos kerentanan Vietnam dalam menghadapi situasi baru yang sebelum ini mungkin terlalu asing untuk sistem kesehatannya yang selama satu seperempat tahun terakhir relatif steril dari transmisi COVID-19.

Fakta bahwa mereka menunjuk melonggarnya pintu keluar masuk negeri itu sebagai penyebab infeksi melonjak lagi dan varian baru merembes ke negeri itu, menunjukkan Vietnam mengkhawatirkan lalu lintas sosial lintas perbatasan, termasuk perbatasan daratnya yang panjang dengan China.

Tak heran jika Vietnam mengkhawatirkan terbuka lebarnya lalu lintas manusia ketika puluhan ribu kontestan SEA Games masuk ke negeri itu.

Tidak hanya itu, apa yang mereka sebut “varian baru” malah mungkin bisa kian cepat menyebar ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, jika SEA Games digelar ketika varian baru masih merajalela.

Baca juga: Atlet SEA Games 2021 wajib karantina 14 hari

ASEAN mesti sigap

Dari perspektif ini, suara hati Vietnam terkait SEA Games seharusnya tidak cuma dilihat dari kacamata olahraga, sebaliknya bisa dianggap alarm bagi ASEAN bahwa ada potensi bahaya dari varian baru COVID-19.

Apalagi saat bersamaan pintu-pintu perbatasan sebagian negara ASEAN, termasuk Indonesia, tak pernah benar-benar terjaga rapat, padahal kasus baru dan varian baru berawal dari interaksi sosial lintas wilayah. Gelombang ketiga India adalah contohnya.

Jika pun SEA Games jalan terus, maka Asia Tenggara harus bersiap jika misalnya Vietnam mengajukan syarat SEA Games tanpa penonton asing dan berlakunya protokol kesehatan yang amat ketat yang mungkin seketat Australia saat menyelenggarakan turnamen tenis Australian Open atau Jepang nanti saat menyelenggarakan Olimpiade Tokyo yang salah satunya akan terus memantau atlet, ofisial dan bahkan wartawan lewat GPS.

Ingat, salah satu keberhasilan Vietnam dalam membendung pandemi sebelum ini adalah penelusuran kontak yang agresif dan kebijakan karantina tanpa kompromi terhadap mereka yang terpapar beserta kontak-kontaknya.

Tapi ASEAN juga bisa mempertimbangkan opsi seperti ditawarkan Lim Teck Yin, EO of Sport Singapore, bahwa SEA Games 31 ini bisa dituanrumahi juga oleh negara ASEAN selain Vietnam. Lim sendiri memastikan Singapura siap berbagi dengan Vietnam menyelenggarakan SEA Games.

“Kami siap mengorganisasikan acara itu akhir tahun ini, jika terpaksa,” kata Lim seperti dikutip Strait Times.

Dari sudut non olahraga, usul Vietnam menunda SEA Games bisa dianggap wake up call kepada Indonesia dan negara ASEAN lain mengenai potensi situasi lebih buruk akibat varian baru COVID-19.

Satu hal lagi, di balik kisah suksesnya dalam menekan pandemi, Vietnam ternyata tak cukup siap mempersiapkan langkah lain yang menyedot anggaran besar seperti dilakukan banyak negara kaya saat ini, yakni vaksinasi.

Menurut Our World In Data, sampai 7 Juni lalu baru 1,3 persen dari total 100 juta penduduk Vietnam yang divaksinasi.

Vietnam juga ternyata tak cukup anggaran dalam mengadakan vaksin sampai-sampai harus memobilisasi masyarakat untuk gotong royong memenuhi kecukupan anggaran vaksin.

Mengutip AFP, tahun ini Vietnam berusaha mendapatkan 150 juta dosis vaksin untuk 70 persen penduduknya.

Untuk itu Vietnam membutuhkan 1,1 miliar dolar AS, padahal anggaran nasionalnya hanya mengalokasikan 630 juta dolar AS. Tidak itu saja, Vietnam kesulitan mencapai akses vaksin global.

Untuk itu usul Vietnam menunda SEA Games sungguh menyingkapkan masalah yang ternyata kompleks yang lebih dari soal kesiapan menyelenggarakan turnamen olahraga.

Yang justru tersirat adalah Vietnam sedang memerlukan pengertian atau mungkin uluran tangan kawan-kawan seiring di ASEAN, termasuk Indonesia.

Dan sebelum segalanya terlambat, Indonesia dan ASEAN mesti sigap menanggapi alarm dari Vietnam ini.

Baca juga: Vietnam akan beli 20 juta dosis vaksin Sputnik V tahun ini
Baca juga: Vietnam deteksi varian hibrida COVID-19 India dan Inggris

Oleh Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2021