logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Di Balik Pesan Semar dan Raksasa, Hingga Surat Prabowo ke Amien Rais

JawaPos.com – Banyak makna dan pesan simbolik dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo di FX Sudirman, Jakarta. Salah satunya adalah barisan punakawan dan raksasa. Tokoh-tokoh wayang itu muncul dalam lukisan di tempat makan Sate Khas Senayan, tempat kedua tokoh itu makan siang.

Ada tujuh tokoh wayang yang ada di lukisan tersebut. Tiga di kiri, empat di kanan. Dua kelompok wayang ini dipisahkan oleh sebuah gunungan. Dalam pewayangan, gunungan biasanya digunakan sebagai pembuka atau penutup sebuah babak.

Tokoh wayang yang ada di sebelah kanan adalah para punakawan. Mereka adalah Semar dan tiga anaknya yaitu Petruk, Gareng dan Bagong (paling belakang sendiri). Di sebelah kiri ada Togog dan sobatnya, Bilung. Sementara paling belakang sendiri adalah figur raksasa.

Diketahui, dalam dunia pewayangan, Punakawan bertugas menjadi pendamping para ksatria berwatak baik. Mereka adalah penghibur para ksatria. Sedangkan Togog dan kawanannya adalah pendamping abdi dalem raksasa yang berwatak jahat.

Lalu, adakah pesan khusus di balik latar belakang lukisan di tempat kedua kontestan pilpres 2019 itu bertemu dan makan siang? Menjawab pertanyaan tersebut, Sudjiwo Tedjo yang dikenal sebagai dalang wayang nyentrik mencoba menyoroti lukisan punakawan dan raksasa itu.

Tedjo pun menyoroti karakter tokoh-tokoh pewayangan itu.  Salah satunya sosok Togog yang punya nama lain Tejo Mantri. Kata dia, Togog adalah kakaknya Semar. 

“Big Bang dalam wayang adalah telur yang pecah, kulitnya jadi Togog, putihnya jadi Semar dan kuningnya jadi Bathara Guru,” cuit Sudjiwo Tedjo.

Tak cuma lukisan itu yang disorot. Sudjiwo Tedjo juga mengulas soal Jokowi dan Prabowo yang bertemu di jalan. Menurut dia, pertemuan tersebut mengandung kode tersendiri. Karena tak saling bertamu.

“Khas teater Jawa Timur-an yang urakan. Saya bangga,” ungkapnya.

Sementara itu, Peneliti cerita rakyat dari Universitas Indonesia (UI) Suni Wasono mengatakan, lukisan wayang yang latar belakang itu memang mendatangkan banyak tafsir. Dalam lukisan itu, ada tokoh Semar dan Togog.

Menurut Suni, dalam kisah pewayangan, tugas Semar bukan hanya sebagai pendamping para ksatria. Semar adalah jelmaan Dewa Ismaya yang menjelma dalam wujud manusia. Namun, bisa saja dalam konteks politik, Punakawan itu adalah representasi rakyat. 


“Dengan adanya lukisan itu bisa ditafsirkan kalau pimpinan yang didukung sudah rukun, rakyatnya pun rukun. Kalau pimpinan mereka sudah berekonsilisasi, rakyatnya pun bersatu,” katanya.

Pertemuan itu pun mendapat apresiasi dan pujian banyak tokoh. Salah satunya adalah  Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang menilai, peristiwa bertemunya Jokowi dan Prabowo menjadi momentum yang sangat penting dan bagus untuk merawat kerukunan. Utamanya dalam kehidupan politik kebangsaan.

“Jokowi dan Prabowo memberi contoh kenegarawanan yang sangat tinggi bahwa kontestasi politik itu tidak menyebabkan retak sesama tokoh  bangsa,” kata Haedar di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta. 

Bahkan, ia merasa, dalam konteks kehidupan nasional pertemuan itu akan merekat kembali suasana kehidupan kebangsaan. Tentu saja harapannya elemenelemen bangsa jadi lebih bersatu. Kedua, lanjutnya, pertemuan itu memberikan masyarakat penguatan untuk kepentingan kohesi sosial atau orang secara umum sering menyebut sebagai rekonsiliasi politik dalam makna yang longgar.

“Jokowi dan Prabowo menutup dengan silaturahim. Sehingga, rekonsiliasi nasional atau kohesi sosial kebangsaan itu memperoleh legitimasi yang kuat dari kedua tokoh dan  elite puncak yang berkontestasi dalam pilpres yang lalu,” ujar Haedar.

Haedar merasa, pertemuan yang dilakukan di Stasiun MRT Jakarta memberi isyarat tempat itu jadi satu simbol kemajuan Jakarta. Artinya, Indonesia boleh berbeda politik tapi begitu selesai kita menatap ke depan. Tujuannya, tidak lain membangun Indonesia berkemajuan. Ia yakin, masyarakat dan segenap komponen bangsa akan bersatu dan membangun negeri tercinta ini jadi Indonesia yang  maju, adil, makmur, bermartabat  dan berdaulat.

“Sebagai negara yang modern di tengah persaingan global yang semakin penuh dengan tantangan,” ujar Haedar.

Ia berharap, Allah SWT senantiasa meridhai Indonesia sebagai bangsa yang tetap utuh dalam perbedaan dan menjadi bangsa yang penuh perdamaian dansemakin maju.

Sementara eks Ketua MK Mahfud MD mengungkapkan, pertemuan Jokowi-Prabowo bisa menghentikan pertikaian politik. “Pesan simbolik pertemuan Pak Prabowo dan Pak Jokowi hari ini  cukup bagus. Bisa menghilangkan spekulasi atau dorongan-dorongan orang untuk memecah terus kedua tokoh ini,” tutur Mahfud di Yogyakarta, kemarin. 

Namun, tak semua pihak gembira dengan pertemuan Prabowo-Jokowi. Dedengkot PAN Amien Rais merespons pertemuan ini dengan sindiran yang bernada sinis. Ia mengatakan, tidak diberitahu soal pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo.

Amien Rais justru bertanya-tanya tentang pertemuan Prabowo dan Jokowi di Jakarta kemarin. Saat menanggapi pertemuan itu, Amien malah bicara soal adanya Semar, Gareng dan Petruk di layar. 

“Tadi di MRT sudah dengan Pak Jokowi sudah pelukan, sudah makan bersama, di gambar layarnya ada Semar, Gareng, Petruk dan lain-lain, itu nanti kita lihat,” ujar Amien Rais saat ditemui wartawan di rumahnya, Condongcatur, Depok, Sleman, DIY, (13/7). 

Namun, Amien Rais saat itu tak menjelaskan lebih jauh soal pernyataan tersebut. Dia tak mau lagi bicara banyak sebelum dia membaca surat yang dikirimkan Prabowo kepadanya pada Sabtu (13/7) siang.  Surat tersebut kini berada di rumahnya di Gandaria, Jakarta Selatan. 

“Saya diberi tahu ajudan saya, Pak Ismail bahwa Pak Prabowo mengirim surat amplop tertutup, sepertinya agak tebal, mungkin dua lembar,” kata Amien

“Isinya apa dibaca saja sekarang supaya saya tahu’, ‘Enggak pak, ada di rumah di Gandaria’. Sementara Ismail ajudan saya ada di Pondok Bambu,” sambung Amien menirukan dialog dengan ajudannya.

Amien Rais juga menegaskan tak mengetahui jika Prabowo akan menemui Jokowi. “Sama sekali belum tahu. Makanya itu, mengapa kok tiba-tiba nylonong?” pungkas Amien Rais.

All rights and copyright belongs to author:
Themes
ICO