logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Harapan Tokoh Perempuan Terhadap Elite Politik dan Para Pengambil Keputusan

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR–Tokoh Perempuan lintas agama Sulsel, Ariella Hana Sinjaya kembali menyelesaikan kuliahnya di Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) Makassar. Padahal wanita ini meraih pendidikan di tingkat Master dan Doktor dari Regent University di Virginia Beach, USA. Namun dia terus memiliki semangat belajar yang tinggi.

Sehingga 13 Agustus 2019, ia berhasil menyelesaikan kuliah dengan predikat Cum Laude. Judul tesisnya “Tinjauan Kriminologi Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Perempuan di Makassar”.

“Saya sudah tidak muda lagi, namun saya menyadari pentingnya untuk terus belajar agar lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang banyak,” katanya.

Kata dia, pendidikan merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Siapa saja yang berinvestasi melalui pendidikan, akan memetik manfaatnya di kemudian hari. Kerinduan Hana sapaan akrabnya-untuk belajar di bidang hukum berawal dari keinginan membela hak-hak orang yang terpinggirkan.

“Saya sangat prihatin terhadap keberadaan perempuan dan anak yang sering kali, baik disengaja ataupun tidak, menjadi korban diskriminasi di tengah budaya patriarki, yakni sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti,” tuturnya.

Berangkat dari kerinduannya berjuang bagi perempuan, tidaklah mengherankan bila dalam penulisan tesisnya mengambil judul “Tinjauan Kriminoligi Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Perempuan di Kota Makassar”.

“Saya sadar bahwa yang bisa menjadi korban dalam kekerasan rumah tangga itu tidak selalu hanya perempuan/istri, karena ada juga suami/laki-laki yang menjadi korban. Namun bila ditelaah lebih jauh, tetap saja masih perempuan yang kebanyakan menjadi korban kekerasan, baik secara fisik dan emosional/psikis, juga kekerasan sexual dan penelantaran,” sebut Hana.

Selain itu, Hana menyadari bahwa perempuan sebagai warga negara merupakan aset dan potensi bagi bangsa Indonesia yang harus dilibatkan dalam pembangunan masa depan bangsa.

“Bila negara ini tidak ingin mengalami ketimpangan, karena jumlah populasinya perempuan juga relatif lebih banyak dari populasi kaum pria, maka masyarakat pun perlu mengubah pola pikir yang lebih mengutamakan laki-laki sebagai penggerak pembangunan,” katanya.

Hana menyampaikan pesan kepada semua perempuan (tua dan muda) agar semangat membekali dirinya dengan hal-hal yang bermanfaat, karena bukan hanya laki-laki yang bisa berhasil dan menjadi pemimpin di masyarakat dan pemerintahan.

“Perempuan juga memiliki potensi yang besar, dan potensi itu bisa berdampak dahsyat. Oleh sebab itu, kita harus gunakan hidup kita secara efektif untuk hal-hal yang positif, dan jangan takut bermimpi besar,” kata Hana menginspirasi.

Hana juga menyampaikan harapan kepada para tokoh masyarakat, tokoh agama, para birokrat, para elite politik, dan para pengambil keputusan agar menolak pandangan yang menganggap perempuan itu rendah, bodoh, dan bisa dimanfaatkan.

“Bila kita mau melihat negara kita maju dan menjadi unggul, maka mohon lindungi hak-hak yang perempuan juga bisa miliki, jangan biarkan perempuan terbully dan hanya dipakai untuk memenuhi quota atau dimanfaatkan untuk mencapai tujuan pribadi/kelompok tertentu baik dalam keluarga, masyarakat dan dunia pemerintahan serta dunia politik praktis,” tegas dia.

Hana berharap upaya Perlindungan Perempuan dan Anak bukan hanya sekadar Undang-undang yang tertulis atau slogan yang dikumandangkan.

“Namun menjadi gaya hidup bersama, dimana laki-laki dan perempuan saling menghormati dan menghargai haknya, sebagaimana kita mengenali dan memiliki nilai Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Hana. (rls)

All rights and copyright belongs to author:
Themes
ICO