logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Hendropriyono Ingatkan Bahaya Political Assassination

Hendropriyono Ingatkan Bahaya Political Assassination Hendropriyono. ©2019 Liputan6.com/Putu Merta Surya Putra

Merdeka.com - Mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono, menyikapi peristiwa penyerangan terhadap Wiranto beberapa waktu lalu. Hendropriyono menilai penyerangan terhadap Wiranto adalah political assassination.

Hendropriyono menerangkan bahwa political assassination tersebut tak berhasil. Meskipun demikian, Hendropriyono mewanti-wanti agar peristiwa serupa tak lagi terjadi ke depannya.

"Jangan menganiaya tentara, jangan membunuh secara politik, seperti apa yang terjadi terhadap Wiranto, itu adalah political Assassination, cuma tidak berhasil. Kalau ini terjadi sebetulnya merupakan suatu hal yang menyedihkan dan berbahaya," ujar Hendropriyono, Minggu (10/11) malam.

Hendropriyono mengingatkan, penganiayaan terhadap sesama manusia merupakan suatu hal yang tak dibenarkan. Terlebih manusia yang dianiaya ini adalah anggota TNI.

"Kita sudah mengalami peristiwa ketika 7 Pahlawan Revolusi dibunuh. Kemudian tentara tidak terima, PKI dikejar habis-habisan. Begitupun ini bukan tidak mungkin," tegas Hendropriyono.

Hendropriyono mengingatkan agar peristiwa serupa tak lagi terjadi. Menurut Hendropriyono, pelaku penyerangan justru menggali lubang kuburnya sendiri jika menganiaya prajurit TNI.

"Kalau terjadi penganiayaan terhadap prajurit seperti itu, mati tidak mati, saya khawatir si pelaku ini menggali lubang kuburnya sendiri. Karena itu, sebagai orang tua saya ingin ingatkan jangan terjadi lagi," pungkas Hendropriyono.

1 dari 1 halaman

Penusuk Wiranto Diduga Terduga Teroris

Wiranto diserang secara tiba-tiba di Alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, usai meresmikan gedung kuliah Universitas Mathlaul Anwar pada pertengahan Oktober lalu.

Ia terkena dua tusukan di perut dan sempat dirawat di RSUD Berkah, Pandeglang, kemudian dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Ia harus menjalani operasi yang berlangsung sekitar tiga jam oleh tim dokter RSPAD Gatot Soebroto.

Saat itu juga pelaku Syahrial Alamsyah alias Abu Rara diamankan dan diperiksa saat diperiksa Densus 88 Anti Teror. Abu Rara juga berkomitmen melakukan amaliyah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, Abu Rara merasa takut dan tertekan setelah mendengar Abu Zee tertangkap.

"Kalau pimpinan tertangkap maka saya khawatir akan tertangkap," kata Dedi di Mabes Polri, Jumat (11/10/2019) saat menirukan suara Abu Rara.

Dedi mengatakan, SA alias Abu Rara bersama dengan istrinya, FA merencanakan teror. Kebetulan, Abu Rara mendengar bahwa ada pejabat yang akan berkunjung ke Alun-alun Menes, Pandeglang Banten.

[lia]
Themes
ICO