Selain dampak terhadap ekosistem laut, terdapat juga ancaman terhadap food security mengingat salah satu sumber pangan manusia berasal dari laut

London (ANTARA) - KBRI London bekerja sama dengan The One Ocean Hub (University of Strathclyde, Glasgow) mengadakan Seminar Series for the IMO’s Maritime Week bertema “Sustainable Shipping for A Sustainable Planet”. Seminar yang digelar dalam rangka  World Maritime DAY atau Hari MaritimDunia  yang jatuh pada Kamis (24/9) memfokuskan perhatian pada pentingnya pelayaran dan aktivitas maritim dan kinerja IMO dalam menghadapi isu-isu maritim yang berkembang.

Seminar dilakukan secara virtual menghadirkan rangkaian pembicara dari Indonesia dan luar negeri dari berbagai sektor, berusaha untuk mengumpulkan pandangan dari berbagai perspektif dalam isu-isu tekait Sustainable Shipping, Climate Change, dan Marine Pollution.

Seminar diselenggarakan selama tiga hari. Pada hari pertama membicarakan urgensi dan dampak sustainable shipping, khususnya dari segi perlindungan lingkungan laut serta dampak sosial bagi masyarakat adat yang masih bergantung pada laut secara tradisional.

Sementara pada hari kedua meliputi upaya internasional dalam rangka mengurangi emisi green House, gas dari aktivitas pelayaran, dampak perubahan iklim bagi masyarakat pantai dan keberlangsungan kehidupan sumber daya hayati kelautan, khususnya koral.

Pada hari ketiga, seminar memfokuskan pembahasan pada upaya kerja sama negara pantai dalam menanggulangi pencemaran laut di Selat Malaka, dan pencemaran plastik mikro di laut.

Asisten Deputi pada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Hendra Yusran Siry


mengatakan diskusi membahas upaya Indonesia dalam menghadapi isu-isu lingkungan yang diakui tergolong sulit, khususnya menyentuh aspek penegakan hukum.

Namun demikian, disampaikan terdapat tiga aspek yang dapat menjadi pijakan penegakan hukum terkait lingkungan, yakni penggunaan teknologi memadai, kerja sama antar-instansi, dan upaya penentuan TSS sebagai bagian dari upaya pengendalian pencemaran laut.

"Selain dampak terhadap ekosistem laut, terdapat juga ancaman terhadap food security mengingat salah satu sumber pangan manusia berasal dari laut," katanya.

Dalam kaitan ini, limbah dan cemaran aktivitas manusia yang dibuang ke laut, khususnya partikel plastik mikro ditengarai dapat masuk dan mengendap dalam tubuh ikan-ikan yang merupakan salah satu sumber konsumsi protein utama dunia.

Menurut dia, dampak terhadap food security ini perlu menjadi perhatian masyarakat luas dan perlu upaya bersama untuk menanggulangi dan mencegah pencemaran laut lebih lanjut.

Upaya bersama meliputi upaya pengaturan regulasi nasional, pembentukan norma internasional, kesadaran sektor industri swasta dan masyarakat, serta penelitian dan inovasi dari para akademisi.

Dengan kolaborasi dari berbagai sektor, diharapkan masyarakat dunia dapat memenuhi ambisi penurunan emisi global, khususnya dalam dekade terakhir upaya mencapai SDGs 2030.

Baca juga: KBRI imbau WNI agar patuhi aturan kebijakan COVID-19 Inggris

Baca juga: KBRI harapkan PPI perkuat peran diplomasi di Inggris

Baca juga: KBRI bersama universitas di Indonesia dan Inggris luncurkan UKICIS

Baca juga: KBRI London ajak Inggris investasi ekonomi digital di Indonesia

 

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020