logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Lama Menunggu Judul

MENIT demi menit berlalu, mata mencari ”judul” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) susunan Poerwadarminta. Tiada.

Kamus itu sederhana, belum dianggap lengkap. ”Judul” tak ada. Pembaca mungkin kecewa.

Pada masa 1940-an dan 1950-an, Poerwadarminta mungkin belum pernah bertemu ”judul” di koran, majalah, atau buku.

Dia mungkin tak pernah mendengar orang mengucap ”judul”. Kita menduga ”judul” masih kata asing pada masa 1950-an, belum diakrabi para penulis dan pembaca.

Di halaman 812, ada titel mengandung arti ”kepala karangan” atau ”nama buku”. Orang-orang dari masa lalu pasti mengingat ”kepala karangan”.

Pada suatu masa, kita menganggap ”kepala karangan” itu sinonim judul. Kapan kita menemukan judul di kamus-kamus? Titel berasal dari bahasa Belanda. Kata itu masuk pula dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1954) susunan Sutan Mohammad Zain. Pengertian titel: gelar, nama pangkat, nama (kepala) karangan. Pada dua kamus tebal, kita tak mendapatkan ”judul”.

Kita berlanjut membaca pengertian ”kepala karangan” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. Kita diajak mengimajinasikan posisi. ”Kepala karangan” adalah ”perkataan jang di atas karangan, menjatakan hal jang diuraikan dalam karangan itu.”

Kepala berasal dari bahasa Sanskerta. Semula, kita menemukan ”titel” dan ”kepala karangan”. Kita menunggu lama untuk menemukan judul dalam kamus-kamus.

Pada 1994, J.S. Badudu menambahi entri dan perbaikan untuk Kamus Moderen Bahasa Indonesia menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia. Di sampul, dua nama dicantumkan: J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain.

Judul berarti ”titel atau nama karangan, buku, tulisan (makalah, skripsi, disertasi, artikel di koran)”. Penantian lama bagi pembaca ingin mengerti judul.

Kejutan justru ada di Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) susunan Poerwadarminta dengan pengolahan kembali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Di halaman 424, judul mendapat tanda salib.

Judul diartikan ”kepala karangan (cerita, pekabaran)”. Tanda salib menerangkan: disangsikan, jarang dipakai, sudah usang atau mati, hanya hidup beberapa lamanya lalu tenggelam. Pemberian tanda itu salah.

Kita membuktikan dengan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988). Judul masih hidup. Judul mendapat tambahan pengertian. Judul adalah ”nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan secara pendek isi buku atau bab itu”. Tanda salib tak ada lagi. Pembaca atau pengguna kamus belum mengetahui asal kata judul. Apakah berasal dari bahasa asing atau daerah? Kata itu seperti tiba-tiba muncul di kamus dan laris digunakan oleh para penulis.

Ajip Rosidi (1979) memberi keterangan singkat mengenai judul. Sejak remaja, Ajip Rosidi rajin menulis puisi, cerita pendek, dan novel. Dia juga rajin membuat penelitian mengenai sastra Sunda.

Sejak masa 1950-an, Ajip Rosidi menempuhi dua jalan: sastra berbahasa Indonesia dan sastra berbahasa Sunda. Dia kadang menerjemahkan sastra berbahasa Sunda ke bahasa Indonesia. Pengaruh bahasa Sunda tentu kuat saat Ajip Rosidi menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Pengakuan Ajip Rosidi, ”Bukan saja saya banyak memasukkan kata-kata bahasa Sunda untuk memperkaya bahasa Indonesia, tetapi juga struktur kalimat dan pikiran bahasa Sunda. Beberapa kata Sunda saya masukkan secara sadar, terutama untuk menjelmakan pengertian atau maksud, yang kata padanannya tak terdapat dalam khazanah kata Indonesia ataupun Melayu, atau karena ada rasa yang tak dapat terwakili oleh padanan yang tersedia.”

Beberapa kata kemudian ternyata diterima secara umum dan menjadi kata yang telah diterima sebagai kata Indonesia, misalnya kata ”judul” untuk menggantikan pengertian yang pada waktu itu selalu diistilahkan dengan kepala karangan yang terasa agak terlalu panjang. Apakah Ajip Rosidi bisa dianggap ”pengusul” judul agar masuk dalam kamus-kamus? Pada masa 1980-an, judul cenderung dipilih ketimbang kepala karangan. Judul sudah lazim.

Kita masih harus mencari lagi keterangan mengenai judul. Kita membuka Kamus Istilah Sastera Indonesia (2018) susunan Ajip Rosidi. Di halaman 103, kita menemukan entri judul diartikan ”kepala karangan atau nama buku”.

Ajip Rosidi menjelaskan, judul diambil dari bahasa Sunda. Judul mulai digunakan dalam bahasa Indonesia pada akhir 1950-an. Penjelasan singkat itu mengejutkan. Pada masa 1950-an, Ajip Rosidi sering mengirim puisi dan cerita pendek ke majalah-majalah. Dia pasti memberi judul untuk setiap tulisan. Pada masa 1960-an, Ajip Rosidi mulai bekerja di penerbitan majalah. Judul tentu semakin memiliki arti dalam perkembangan sastra, pers, dan penerbitan buku di Indonesia. Kita mungkin masih kebingungan menduga dalih pemberian tanda salib untuk judul dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976).

Kata itu lestari. Eko Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) memuat, judul sama arti dengan ”kepala karangan, kop, tajuk, titel”. Pada abad XXI, kita memastikan judul laris digunakan dalam penulisan resensi buku, artikel, atau berita. ”Kepala karangan” mulai ditinggalkan dan basi. Usaha melestarikan ”kepala karangan” terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018).

Di halaman 800, ”kepala karangan” adalah ”kata atau gabungan kata atau frasa yang tercantum di atas sebuah karangan (artikel) yang menyatakan suatu hal yang dibicarakan dalam karangan”. Kita mulai memilih judul, tak perlu lagi mewarisi ”kepala karangan”, berdalih itu kuno atau kedaluwarsa. Begitu. (*)

*) Kuncen Bilik Literasi, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Themes
ICO