logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Mengenal Lebih Dalam Franka Franklin Lewat Bisnis Perhiasannya

Suara.com - Nama Franka Franklin masih menjadi topik seru untuk dibicarakan sejak terpilihnya sang suami, Nadiem Makarim, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI di Kabinet Indonesia Maju era Pemerintahan Jokowi jilid dua.

Maklum, sebelum menjadi menteri, Nadiem Makarim adalah pebisnis start up sukses di dalam negeri, GoJek. Banyak inovasi dan terobosan baru yang dilakukan pebisnis muda itu. Jadi, wajar saja jika sosok sang istri membuat publik penasaran dan ingin mengenal lebih dalam.

Meski di muka publik nama Franka Franklin masih baru, tetapi tidak dalam dunia bisnis. Perempuan 35 tahun ini pernah menjejakkan karier di bisnis e-commerce dan retail. Franka sempat menjabat sebagai vice president Merchandising & Business Development di Berrybenka.com selama tiga tahun.

Perempuan di Balik Tutola. (Instagram/@tutoladesigns)
Perempuan di Balik Tutola. (Instagram/@tutoladesigns)

Nah, untuk saat ini, Franka lebih fokus mengelola bisnis perhiasan yang dijalani bersama dua sahabatnya, Sri Luce Rusna dan Happy Salma, yang diberi nama Tutola Jewelry. Franca Franklin menceritakan, bahwa bisnis perhiasan yang dikelolanya ini lahir dari kecintaan terhadap Tanah Air.

"Kekuatan bisnis perhiasan bukan saja dari kecantikan tetapi juga kualitas. Brand perhiasan ini lahir dari ide, gagasan, cita-cita, dan harapan yang diyakini mampu bersatu dalam perkawinan antara seni, kekuatan tangan pengerajin, intergritas, dan kualitas, yang dapat menciptakan suatu produk yang berpotensi untuk menggerakan roda ekonomi bangsa," ungkap Franca kala berbincang dengan Suara.com.belum lama ini di Jakarta.

Kekaguman akan budaya Indonesia yang kaya raya serta kerinduan masa lalu dan masa lampau menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan menjadi semangat bisnis perhiasan ini dalam berkarya. Dikatakan oleh Franca, produk brand perhiasan yang berpusat di Bali ini dibuat secara terbatas, baik koleksi artwear maupun signature.

"Membahas soal kualitas, Tulola dibuat dari campuran perak murni alloy, sterling silver 92,5%. Sepuhan yang digunakan adalah emas 18 K untuk perhiasan warna gold, sedangkan warna perak sepuhan yang digunakan adalah white platinum," sambungnya.

Salah Satu Model Perhiasan Tutola. (Instagram/@tutoladesigns)
Salah Satu Model Perhiasan Tutola. (Instagram/@tutoladesigns)

Peran Franca sendiri di dalam tim ialah sebagai Strategic Business Development, ia memiliki tugas untuk membangun pengembangan bisnis perhiasan ini. Bersama kedua rekannya, mereka saling berbagi tugas memajukan bisnis ini.

"Kalau Sri bertugas membuat desain, konten, visualisasi yang menarik. Pokoknya semua yang berkaitan dengan produksi dia yang bertanggung jawab. Sedangkan Happy meng-handle seputar konsep, kreatif, dan tentang ke arah mana brand perhiasan kami akan dibawa. Kalau saya sendiri lebih ke operasional sehari-hari, seperti bussiness planning. Saya juga membantu proses krearif dan konsep rancangan lewat permintaan dan aspirasi klien," terang lulusan fashion marketing di Raffles Design Institute Singapura dan Northumbria University, Inggris ini.

Dalam menciptakan karya, bagi Franca yang terpenting ialah tentang bagaimana produk itu dihasilkan melalui cerita yang datang dari inspirasi mendalam agar bisa bertahan dan dihargai pembeli.

"Semua karya yang dihasilkan harus ada cerita dari inspirasi cerita yang memang sangat mendalam. Itulah yang menjadi kekuatan kami dalam menciptakan produk. Selanjutnya adalah story selling, dan kualitas. Sebab kami sangat menjaga level kualitas agar costumer tidak merasa terkecoh saat melihat gambar dan produk asli," tukasnya.

Themes
ICO