Indonesia

Novel Baswedan: Saya Khawatir Ini Persekongkolan

Bagaimana tanggapan Anda atas hasil kerja tim gabungan dan rencana pembentukan tim teknis?

Saya katakan sangat mengecewakan. Tapi, saya nggak kaget. Sejak awal pembentukannya saya sudah ragu dengan tim itu. Kalau belajar dari pengalaman yang lalu, kita selalu bicaranya tim pencari fakta (TPF) atau tim gabungan pencari fakta (TGPF).

Kita tahu sebetulnya apa yang dihasilkan, peluang, atau potensi yang diperoleh dari TPF. Tentunya mengungkap fakta-fakta yang tidak diungkap atau sulit diungkap penyidik. Tapi, sekarang ada tim pakar, ada tim teknis. Ini kan aneh. Ini istilah baru.

Selama menjadi penyidik, istilah tim pakar dan tim teknis itu baru Anda dengar sekarang?

Ya. Karena memang belum per­nah ada di sejarah investigasi Indonesia. Saya heran kenapa ada tim teknis lagi. Apakah penyidik itu kerjanya nggak teknis? Ini saya pikir muter-muter. Saya khawatir ini mengulurulur waktu.

Tentu saya berterima kasih kepada Bapak Presiden yang mau merespons kasus ini. Namun, pemberian waktu kepada Polri ini untuk apa lagi? Apalagi ada tim teknis. Kenapa? Karena tim teknis ini sama dengan kerja penyidik. Dan perlu diingat, tim gabungan ini isinya adalah tim pakar dan tim teknis. Kok dipisah lagi itu ada apa? Jadi, saya kira, kita nggak boleh terjebak bahwa seolah-olah tim gabungan itu isinya tim pakar semua. Ini saya kira aneh.

Menurut Anda, apa bedanya tim teknis dan tim pakar?

Dalam tim gabungan (bentukan Polri) itu ada tim teknisnya juga. Harusnya mereka ini bekerja mencari fakta dan melakukan pendalaman. Perlu disadari dan digarisbawahi, serangan kepada saya terjadi di area publik. Di situ banyak saksi. Ada bukti-bukti. Ada sidik jari yang belakangan hilang. Ada CCTV yang belakangan diketahui tidak diambil. Ada bukti IT dan lain-lain. Yang mana itu mestinya jadi satu kesatuan atau di antaranya itu digunakan untuk alat bukti dalam rangka membuat terang sebuah perkara.

Penyidik senior KPK Novel Baswedan. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Bukti-bukti itu Anda ketahui dari mana?

Saya mengetahui bukti-bukti itu setelah kembali dari Singapura. Saya bicara dengan tetangga-tetangga. Mereka banyak yang menceritakan bahwa saksi-saksi kunci justru malah terintimidasi. Saya dapat info, waktu saya di Singapura, sidik jarinya hilang atau dihilangkan. Yang di cangkir dan harusnya ada lagi di botol. Terus CCTVnya tidak diambil.

Info itu sudah Anda laporkan?

Perilaku-perilaku seperti itu kan tidak boleh dianggap sepele. Masak iya ada keteledoran? Masak perkara yang terekspos dengan besar begini terus kemudian penyidiknya abai? Saya curiga. Karena itu, saya lapor ke Komnas HAM. Laporan ke Komnas HAM itu ditindaklanjuti. Di antara temuannya mengatakan, ada abuse of process dalam penyidikannya.

Itu yang membuat Anda terbebani pembuktian?

Ya. Saya disuruh membuktikan (info-info terkait perkara). Ini kan aneh. Sejak kapan ada korban dibebani pembuktian? Harusnya tanpa keterangan saya pun, dengan alat bukti yang sedemikian banyak, tidak ada kendala dalam pembuktian perkara ini. Ini bukan perkara sulit. Jadi, jangan memberikan informasi kepada Bapak Presiden seolah-olah ini perkara sulit.

Dalam manajemen kepolisian, peraturan Kapolri tentang manajemen penyidikan (yang dimaksud peraturan Kapolri tentang manajemen penyidikan tindak pidana, Red) itu dikatakan apa saja perkara yang disebut sulit. Ada indikator-indikatornya. Di antaranya, saksinya tidak ada, alat buktinya sulit ditemukan, dan lain-lain. Lha ini kan semuanya ada. Indikator-indikator tentang sulit itu tidak masuk. Karena itu mestinya bukan perkara sulit.

Penyidik KPK Novel Baswedan. (Imam Husein/Jawa Pos)

Tim pakar sempat mengaitkan motif pelaku yang berkaitan dengan enam kasus besar yang Anda tangani dan Anda disebut menyalahgunakan wewenang?

Menurut saya begini. Masak iya, investigasi dilakukan dengan cara menebak isi hati pelakunya dulu, baru kemudian nyari pelakunya. Harusnya menemukan pelakunya dulu, baru kemudian mencari tahu aktor intelektualnya dan korelasinya seperti apa.

Anda tetap ingin presiden membentuk tim gabungan pencari fakta independen?

Memang perlu dibentuk tim gabungan yang independen. Serangan kepada saya ini adalah bagian dari serangan kepada semua pegawai KPK. Yang semuanya tidak ada yang diungkap. Kalau penyerangan kepada saya saja sebegini panjang berlarut-larutnya, bagaimana yang lain? Saya mengusulkan, seandainya Bapak Presiden berkenan, tentunya sangat tepat apabila Bapak Presiden mau membentuk tim pencari fakta independen untuk mengungkap semua serangan kepada semua pegawai KPK, termasuk saya.

Bisa Anda sampaikan beberapa kata yang menggambarkan situasi pengungkapan kasus ini?

Saya khawatir ini adalah suatu persekongkolan dan kemudian sengaja tidak diungkap. Dan ini akan menjadi ancaman buat KPK.

Football news:

Mikel Arteta: Mourinho was invited to make Tottenham the winning team
Failure of the VAR in the last English tour: on Thursday, all three decisions on penalties were recognized as mistakes
Zlatan Ibrahimovic: This is not my Milan. The club's ambitions are not what they used to be
Liverpool will only try to buy Tiago if one of the key players leaves
Jurgen Klopp: Salah has crazy statistics
Collina called on the judges to review the replays of disputed moments themselves
Pavel Nedved: real and city are contenders to win the Champions League, but Juve first have to pass Lyon