logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Penyair, Pensyair, dan Lapis Wacana dalam Kata

PADA 5 Juli 2019, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan (BPBP) melalui dinding Facebook-nya mengunggah bahan tayang yang apabila diparafrasa kira-kira berbunyi: Manakah penulisan yang baku, penyair atau pensyair?.

Kata “penyair” diberi tanda silang merah yang berarti “salah” atau “keliru”, sedangkan kata “pensyair” diberi tanda kotak hijau yang berarti “benar” atau “tepat”.

Unggahan itu memantik berbagai komentar dari warganet. Bahkan, di beberapa grup WA komunitas penulis, dosen, dan sejenisnya, bahan tayang itu beredar viral.

Tak sedikit yang merasa heran dan berkomentar sinis. Anehnya, beberapa jam setelah itu, unggahan tersebut tidak ada lagi di dinding Facebook lembaga yang darinya bahasa Indonesia terstandardisasi tersebut.

Lalu, apa yang bisa dipelajari dari insiden, katakanlah demikian, “penyair” dan “pensyair” berikut diskusi warganet yang ditutup dengan raibnya unggahan tersebut?

Reaksi itu muncul boleh jadi karena minimnya penjelasan yang disediakan oleh BPBP. Dalam konteks “penyair” dan “pensyair”, penjelasan teknisnya mungkin sederhana. Konsonan KTSP yang mendapat imbuhan pe- pada umumnya memang lebur, kecuali bila bertemu bentuk asal yang dua huruf awalnya konsonan. Contohnya pengkhotbah (bukan penghotbah) dan pengkhianat (bukan penghianat).

Sangat mungkin BPBP hendak konsisten dengan asas tersebut sehingga bentuk baku penyebutan pencipta “syair” disebut “pensyair”. Penjelasan itu dalam tahap-tahap tertentu bisa diterima, tapi sesungguhnya masih sangat kurang. Terlebih pada kosakata baru yang merupakan padanan dari kata dan istilah dari bahasa asing.

Jika dicermati, sebagian besar bahan tayang yang diunggah BPBP di Facebook memang lebih bersifat informatif dan normatif, alih-alih edukatif dan substantif. Informatif dalam arti BPBP termasuk rajin mengunggah padanan kata untuk istilah serapan dari bahasa asing secara rutin.

Contoh padanan kata tersebut, di antaranya, rekam cadang (backup), jenama (brand), galat (error), lokapasar (marketplace), diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion), dan masih banyak lagi. Kerja yang sangat positif dan perlu diapresiasi, sebenarnya.

Namun, sangat sedikit rilis yang disertai dengan penjelasan memadai. Barangkali akan lebih edukatif apabila publik diberi paparan secara etimologis dan, bila perlu, filosofi dasar pemadanan yang dipakai.

Mengapa “langir krim”, misalnya, adalah padanan baku creambath? Apakah “langir” bersumber dari bahasa daerah? Bila iya, dari bahasa daerah mana? Mengapa bahasa daerah tersebut yang dipilih dan bukan bahasa daerah lain? Penjelasan secara etimologis akan memberi wawasan baru bagi pengguna yang sejalan dengan moto BPBP, yakni Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.

Namun, harus dikatakan juga, penjelasan secara etimologis pun akan kurang lengkap tatkala pembahasan tiba pada kata yang “sensitif” seperti “penyair” dan “pensyair”. Disebut sensitif karena kata “penyair” tidak hanya telanjur jamak digunakan dalam ragam cakapan maupun tulisan, di buku-buku dan bahkan karya-karya akademik yang menerapkan standar kebakuan ejaan secara ketat, tapi juga sangat dekat dengan para pencinta dan “pencipta” bahasa: sastrawan. Reaksi warganet yang teramat kritis merupakan indikasi paling mudah betapa sensitif dan pentingnya kata “penyair” yang saat itu disebut bentuk tidak baku dari “pensyair”.

Ada lapisan-lapisan wacana dan nuansa-nuansa yang senantiasa hadir dalam satu kata, yang itu tidak bisa hanya dijelaskan secara teknis belaka. Dalam konteks “penyair” dan “pensyair”, beberapa warganet kemudian berpendapat alangkah baiknya bila dua kata tersebut dianggap sama-sama baku untuk membedakan orang yang memang tekun mencipta syair serta diakui ketekunan dan kualitasnya dengan yang “sekadar” pernah atau sedang mencipta syair. (*)

*) Staf pengajar di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Airlangga

All rights and copyright belongs to author:
Themes
ICO