SOLOPOS.COM - Pengunjung mencuci tangan sebelum masuk Perpustakaan Daerah Sragen, Jumat (27/11/2020). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Setelah memarkir sepeda motornya, dua pengunjung bergegas menuju pintu masuk Perpustakaan Daerah atau Perpusda Sragen di Jl. Raya Sukowati, Sine, Jumat (27/11/2020).

Seorang petugas langsung mengarahkan dua pengunjung itu mencuci tangan dengan sabun pada wastafel yang tersedia di depan pintu masuk Perpusda Sragen.

Mencuci tangan menjadi ritual awal yang wajib dijalani semua pengunjung sebelum masuk Perpusda Sragen. Sebelum memasuki pintu, semua pengunjung wajib memakai masker. Suhu tubuh mereka juga diukur menggunakan thermo gun.

Detik-Detik Maling Bobol Kotak Amal Masjid di Sragen Terekam CCTV

"Bila ada pengunjung yang suhu tubuhnya di atas 37 derajat Celcius, kami minta istirahat dulu sebentar. Biasanya karena pengaruh suhu udara dalam perjalanan, suhu tubuh jadi meningkat. Setelah istirahat, dia kami persilakan dicek suhunya lagi. Kalau suhunya turun di bawah 37 derajat Celcius kami persilakan masuk. Kalau masih di atas 37 derajat Celcius, mohon maaf tidak kami izinkan masuk," papar Kasi Layanan dan Informasi, Marwiyati, dan diamini Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Sragen, Giyadi, saat ditemui Solopos.com.

Sebagai fasilitas umum, Perpusda Sragen menjadi rujukan warga yang ingin berburu buku. Keberadaan 60.000 judul buku yang tersimpan di perpustakaan ini menjadi daya tarik pengunjung.

Sebagai langkah antisipasi penularan virus corona, Dinas Arpusda Sragen memperketat protokol kesehatan.

Ponpes di Sragen Wajib Miliki Surat Keterangan Aman dari Covid-19

Bila sebelumnya jam operasional perpustakaan Sragen dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB, kini dikurangi menjadi pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB pada Senin-Kamis dan hingga pukul 11.00 WIB pada Jumat.

"Demi mencegah terjadinya kerumunan, jumlah pengunjung kami batasi 16 orang. Kalau kebetulan di dalam sudah ada 16 orang dan ada yang antre, biasanya waktunya kami batasi satu jam. Kalau jumlahnya pengunjung di bawah 16 orang, kami persilakan sepuasnya di perpustakaan sampai jam layanan selesai," terang Giyadi.

Menjangkau Sekolah dan Masyarakat Umum

Sebelum terjadi pandemi Covid-19, Dinas Arpusda menyiagakan sejumlah perpustakaan keliling untuk menjangkau sekolah, warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Sragen hingga masyarakat umum di arena car free day (CFD).

Sejak terjadi pandemi, layanan perpustakaan keliling itu dihentikan karena hal itu bisa memicu kerumunan warga. Selama pandemi, layanan pojok baca yang beralaskan karpet dan layanan anak TK dan PAUD untuk sementara ditutup.

"Penggunaan warnet kami batasi untuk dua orang. Sementara untuk pengakses Ruang Referensi kami batasi empat orang. Umumnya mereka adalah para mahasiswa yang mengikuti belajar daring," papar Giyadi.