logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Picu Bunuh Diri, Kenali Gangguan Mental Impulsif Pada Remaja

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani

JawaPos.com – Galau dan labil adalah hal yang umum terjadi pada remaja. Mereka masih dalam tahapan mencari jati diri dan terkadang belum bisa menentukan sikap dengan bijaksana. Emosi yang meletup dan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa membuat remaja bisa bersikap impulsif. Apa itu?

Dilansir dari Very Well Mind, Minggu (14/7), sikap impulsif adalah sikap seseorang yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan dipengaruhi oleh luapan emosi. Mereka cepat meledak terhadap sesuatu kegagalan hingga berlebihan.

Impulsif dapat membahayakan diri sendiri dan orang-orang. Perilaku impulsif juga dapat menyebabkan kerugian finansial dan hukum jika dibiarkan tidak terkendali. Untungnya, ada perawatan yang dapat membantu mengendalikan sikap impulsif, termasuk psikoterapi, pelatihan mindfulness, dan obat-obatan farmasi.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Universitas Indonesia (UI), mengungkapkan, salah satu faktor bunuh diri para remaja adalah karena dipengaruhi sikap yang impulsif. Hal itu ia ungkapkan pada tesisnya yang berjudul ‘Deteksi Dini Faktor Risiko lde Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/ Sederajat di DKI Jakarta’.

“Sulit menyelamatkan remaja impulsif. Bisa mengalami stres, dan dalam waktu yang sangat cepat bisa terjadi bunuh diri. Seseorang dengan gangguan impulsivitas punya risiko bunuh diri 14 kali lebih tinggi,” kata dr. Nova dalam konferensi pers di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok baru-baru ini.

Menurutnya, sikap atau tindakan menantang bahaya yang dilakukan oleh para petualang atau pecinta alam juga termasuk sikap impulsif. Namun itu bukan gangguan, tetapi sebuah hobi atau kesenangan.

“Sedangkan, ada yang namanya impulsif disfungsional. Ada yang punya aspek gangguan di belakangnya. 48 persen yang mengalami gangguan itu mencoba bunuh diri,” paparnya.

Untuk itu, perlunya terus menanamkan pikiran yang sehat. Berpikir positif bisa membantu meredakan sikap impulsif. Pendampingan orang tua pun sangat diperlukan.  Sebab, Orang tua memiliki peran sentral yang bisa berkoordinasi dengan sekolah untuk mendeteksi dini ide bunuh diri. Untuk itu, dia meminta orang tua lebih peka untuk melihat adanya perubahan perilaku pada anaknya.

All rights and copyright belongs to author:
Themes
ICO