logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Polisi Guatemala Akhirnya Biarkan Migran Honduras ke AS

JawaPos.com - Ratusan migran Honduras yang datang ke perbatasan Guatemala terus melonjak di bawah terik matahari. Dilansir dari ABC news beberapa waktu yang lalu, para migran bermimpi mendapatkan kehidupan baru di Amerika Serikat jauh dari kemiskinan dan kekerasan di negara asal mereka.

Polisi menghentikan para migran di sebuah penghadang jalan di luar Esquipulas selama beberapa jam di sore hari, tetapi mereka menolak untuk kembali ke perbatasan dan akhirnya diizinkan untuk lewat. Mereka nekat jalan kaki menuju AS.

Mereka tiba di kota ketika malam tiba, kelelahan karena panasnya hari, tertatih-tatih di atas kaki yang melepuh. Beberapa membawa makanan dan beberapa penduduk setempat mulai mengatur untuk membantu memberi mereka makan. Beberapa migran meminta uang, yang lain yang melewati toko roti diberi roti.

migran honduras, migran, AS, trump, migran jalan kaki,
Karavan dimulai sekitar 160 orang yang pertama kali berkumpul Jumat pagi untuk berangkat dari San Pedro Sula, salah satu tempat paling berbahaya di Honduras (Reuters)

Sebelumnya para migran tiba di perbatasan Guatemala menyanyikan lagu kebangsaan Honduras. Mereka berdoa dan melantunkan nyanyian, "Ya, kita bisa." Mereka juga berteriak, "Kami punya hak."

Keilin Umana, 21 tahun, yang tengah hamil dua bulan, mengatakan, ia tergerak untuk bermigrasi menyelamatkan dirinya dan bayinya yang belum lahir setelah dia diancam dengan kematian. Umana, seorang perawat, mengatakan, dia telah berjalan selama empat hari. "Kami bukan kriminal, kami adalah migran," katanya.

Banyak di antara mereka berangkat hanya dengan dengan bekal tas ransel dan botol air. Beberapa membawa balita di kereta bayi atau membawa mereka di pundak mereka.

Carlos Cortez, seorang petani, 32 tahun, melakukan perjalanan dengan putranya yang berusia 7 tahun. Ia mengatakan,  kemiskinan di kampung halamannya membuat mustahil untuk membina sebuah keluarga. "Setiap hari saya menghasilkan sekitar USD 5. Itu tidak cukup untuk memberi makan keluargaku," ujarnya.

Karavan dan para migran bertemu di perbatasan. Terdapat sekitar 100 petugas polisi Guatemala. Setelah kebuntuan sekitar dua jam, para migran mulai berjalan lagi sebab polisi akhirnya membiarkan mereka pergi.

Polisi tidak melakukan apa pun untuk menghentikan mereka. Bahkan polisi menemani mereka beberapa kilometer ke wilayah Guatemala.

Petugas kemudian mengatur blokade jalan sekitar satu mil (2 kilometer) di luar Kota Esquipulas, di mana para migran telah merencanakan untuk bermalam. Para migran terjebak selama sekitar tiga jam.

Sekitar 250 polisi mencegah mereka untuk maju dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus kembali ke perbatasan untuk melewati imigrasi. Para migran menolak untuk mengalah dan tampaknya mereka kemungkinan akan tidur di jalan raya. Tetapi akhirnya polisi membiarkan mereka lewat.

Beberapa polisi dan warga sipil Guatemala menawarkan air kepada para migran, dan beberapa penduduk setempat mengantar warga Honduras. Pekerja Palang Merah memberikan bantuan medis kepada beberapa migran yang pingsan karena panas.

Karavan dimulai sekitar 160 orang yang pertama kali berkumpul Jumat pagi untuk berangkat dari San Pedro Sula, salah satu tempat paling berbahaya di Honduras, menganggap bahwa bepergian sebagai kelompok akan membuat mereka kurang rentan terhadap perampokan, penyerangan, dan bahaya lain yang biasa terjadi di jalur migrasi melalui Amerika Tengah dan Meksiko.

Karavan migran terbentuk sehari setelah Wakil Presiden AS Mike Pence mendesak Presiden Honduras,  El Salvador, dan Guatemala untuk membujuk warga mereka agar tetap tinggal di rumah dan tidak membahayakan keluarga mereka dengan melakukan perjalanan berisiko ke Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump mengancam menghentikan bantuan bagi Honduras dan negara-negara lain yang membiarkan migran pergi ke AS. 

Sejarawan juga seorang ahli HAM dan kebijakan AS di Honduras, Dana Frank mengatakan, migran bisa memiliki implikasi politik di Amerika Serikat. "Apapun asal migran dan karavan itu akan membangkitkan peringatan tentang invasi migran yang diduga berbahaya, dan menggunakannya untuk mencoba mempengaruhi pemilihan AS mendatang," kata Frank.

"Orang lain akan melihat para migran ini dengan belas kasih dan sebagai bukti lebih lanjut perlunya reformasi imigrasi komprehensif," lanjutnya.

Menurut Frank, semakin banyaknya migran menunjukkan betapa putus asanya rakyat Honduras. Sebagian dari mereka berada di Meksiko mulai menuju ke AS.

(ina/JPC)

Themes
ICO