Indonesia

Psikolog Ini Ungkap Fakta di Balik Hebohnya Antrean Pembeli BTS Meal

JAKARTA - Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta Psikolog menilai demam BTS Meal di Tanah Air tidak bisa dikategorikan sebagai bentuk penjajahan budaya. Hal itu hanya sebagai bentuk dari kemudahaan kemajuan teknologi.

“Pada dasarnya fans itu ada di mana-mana, dan fans itu akan mencari apapun yang berhubungan dengan idolanya. Nah kesempatan ini memang ditangkap oleh gerai McD untuk mempromosikan produknya,” ujarnya, Jumat (11/6/2021).

Baca juga: Buntut Kerumunan BTS Meal, Wagub DKI: 32 Gerai McD Ditutup Sementara 1 x 24 Jam

Menurut dia, fenomena antrean yang terjadi kemarin merupakan bukti teknik marketing yang baik. Dulu sebelum teknologi berkembang sangat pesat seperti sekarang, untuk bertemu idola atau mendapat merchandise adalah sesuatu yang sulit didapat. Sekarang, hal itu menjadi sangat mudah.


“Apalagi di Indonesia bisa meminta jasa layanan antarmakanan online sehingga pembeli tidak berpikir panjang untuk memesan karena memang mudah (didapat),” ungkapnya.

Hal yang harus diperhatikan, kata dia, manajemen McD memang seharusnya mengatur sehingga tidak terjadi antrean atau pembeli yang membludak. "Secara marketing memang prinsip orang berjualan kan memang ingin laku sehingga yang dilakukan McD adalah dengan menggandeng artis terkenal. Hal ini bukan hal baru untuk membuat produk menjadi laku," katanya.

Seperti diketahui bahwa ARMY ini cukup banyak jumlahnya di Indonesia. Di sisi lain, McD juga makanan yang biasa dikonsumsi remaja termasuk ARMY.

Baca juga: Sayang Anak, Menteri Erick Berburu BTS Meal Sampai Keringetan

“Remaja juga memiliki konformitas yang tinggi dengan sebayanya, sehingga keinginan untuk ‘sama’ dengan yang lain menjadi kuat. Bisa mendapatkan merchandise idola- di sini adalah BTS Meal menjadi kebanggaan tersendiri. Isi dari makanannya sendiri tidak jadi penting. Jadi ini sebenarnya fenomena biasa. Kemudahan teknologi, banyaknya ARMY, dan kurangnya antisipasi dari McD sendiri yang membuat keadaan menjadi tidak terkendali,” paparnya.

Promo tentang BTS ini dibuat heboh di seluruh dunia karena hanya 50 negara. Bahkan ARMY yang negaranya tidak termasuk dalam list protes keras. Jadi, memang secara marketing emosi para ARMY ini dimanfaatkan untuk mendapat keuntungan. Kesulitan untuk mendapatkan sesuatu akan membuat seuatu itu lebih ‘berharga’ daripada yang bisa beli kapan dan dimana saja.

Baca juga: Peluncuran BTS Meal Timbulkan Kerumunan, McDonald's Sampaikan Terima Kasih

“Ya memang bukan konten dan kemasannya yang biasa aja (nugget dan saos korea bergambar anggota BTS), tapi cara mendaptkannya, kehebohannya, kecintaan pada idola, membuat para fans menjadi ‘buta’ dan rela melakukan apa saja,” ungkapnya.

Terkait pendapat bahwa McD melakukan ‘tormenting’ pada pelanggan, Shinta berpendapat mungkin kalau tidak dalam kondisi pandemi bisa saja pelanggan rela antre langsung ke gerai. Namun karena kondisi maka pelanggan pun berfikir untuk melakukannya sehingga memilih untuk memesan melalui jasa kurir.

Lihat Juga: Semakin Terbebani, Anya Geraldine Merasa Pria Minder Padanya

(thm)

Football news:

Smertin recalls Euro 2004: he almost fought in the joints, defended against the young Cristiano and understood the excitement of the Bridge
Gareth Southgate: We shouldn't be football snobs. In matches with top teams, diversity is important
Leonid Slutsky: I am still sure that the Finnish national team is the outsider of our group. They were very lucky against Denmark
I'm not a racist! Arnautovic apologized for insulting the players of the national team of North Macedonia
Gary Lineker: Mbappe is a world-class star, he will replace Ronaldo, but not Messi. Leo does things that others are not capable of
The Spanish fan has been going to the matches of the national team since 1979. He came to the Euro with the famous drum (he could have lost it during the lockdown)
Ronaldo removed the sponsored Coca-Cola at a press conference. Cristiano is strongly against sugar - does not even advertise it