Indonesia

Risma Mengucapkan Belasan Terima Kasih sampai Pingsan

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Chandra Oratmangun dimakamkan Rabu (15/7). Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam. Kenangan-kenangan terhadap sosoknya diceritakan orang-orang terdekat.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Surabaya

Langit di atas kompleks makam Keputih mendung kelabu saat mobil jenazah yang mengantarkan Kepala DP5A Surabaya Chandra Oratmangun mendekati tempat peristirahatan terakhirnya. Seolah cuaca kemarin mewakili perasaan ratusan pelayat yang terdiri atas para pejabat pemkot, termasuk Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan keluarga besar warga Maluku di Surabaya.

Risma terlihat menangis. Dia berada agak jauh dari kerumunan pelayat. Risma duduk di kursi plastik sambil menundukkan kepala. Tangisannya terdengar cukup keras. Tiba saatnya diminta untuk memberikan sambutan, Risma sampai dituntun.

Yang terucap dari mulut Risma yang tertutup masker dua lapis dan face shield itu terima kasih berkali-kali. ”Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih Bu Chandra. Terima kasih. Terima kasih… Maafkan saya,” ucap Risma sambil menangis tersedu-sedu. Suaranya parau. Sedetik kemudian, Risma lunglai. Beberapa orang membopongnya masuk ke mobil dinasnya. Mobil tersebut meninggalkan area pemakaman, diikuti beberapa mobil dinas lain.

***

Nama lengkapnya Chandra Ratna Maria D.E. Rosario Oratmangun. Biasa dipanggil Chandra. Dia lahir di Saumlaki, 6 Oktober 1960.

Chandra memiliki tiga anak. Yakni, Destia Akelyaman, Ageng Puja Dewantara, dan Fika Nandya Arisyenan. Chandra juga meninggalkan dua cucu.

Chandra awalnya dirawat di Rumah Sakit Husada Utama karena terpapar Covid-19. Dia pun sempat mendapatkan perawatan intensif, bahkan sampai menggunakan ventilator. Tetapi, dua kali hasil tes swab dinyatakan negatif. Chandra meninggal pada Senin (13/7) pukul 17.30.

Dia diketahui sedang berjuang melawan pneumonia. Ada radang paru karena infeksi bakteri. Dalam dunia kedokteran disebut dengan istilah methicillin resistant staphylococcus aureus (MRSA). Hal tersebut sesuai keterangan dari Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita. Namun, Tuhan berkehendak lain. Candra akhirnya menyerah.

Pemakaman Chandra pun dilakukan dengan ritual keagamaan. Jenazah Chandra sempat disemayamkan di Adi Jasa pada Selasa (14/7) sebelum diberangkatkan ke pemakaman kemarin.

BERDUKA: Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dituntun saat hendak memberikan sambutan singkat di upacara pemakaman Chandra Oratmangun. (Frizal/Jawa Pos)

Chandra pernah berdinas di Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Surabaya. Badan tersebut kini menjadi badan penanggulangan bencana dan perlindungan masyarakat.

Kemudian, dia menjabat kepala Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Surabaya. Pada saat itulah, nama Chandra menjadi buah bibir. Karena menjadi kepala dinas perempuan di dunia yang identik dengan laki-laki. Dia memopulerkan Srikandi Barunawati. Satu tim yang terdiri atas para perempuan yang ikut serta dalam pemadaman kebakaran.

Nanang Pudjo Bintoro, suami Chandra, menuturkan bahwa sejak kecil Chandra memang cukup lekat dengan penanganan bencana. ”Kalau tak salah, dia lahir pada saat ada gempa di Saumlaki. Sehingga dia tumbuh dewasa akrab dengan kegiatan sosial, gempa, dan banjir,” kata Nanang. Dia sambil terisak menjelaskan sosok Chandra.

Bisa jadi sudah jalan Tuhan, menurut Nanang, Chandra masuk di bakesbangpol linmas. Salah satu tugas badan tersebut menangani urusan kebencanaan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Linmas Surabaya Irvan Widyanto yang pernah menjadi Plt kepala dinas PMK tahu betul sepak terjang Chandra. Dia tahu bahwa Chandra punya dedikasi yang tinggi. Hampir selalu hadir pada saat ada kebakaran dan kebencanaan. ”Bu Chandra itu mengajarkan kepada para baruna untuk bekerja dengan hati,” kata Irvan.

Bahkan, ada satu cerita yang selalu lekat dalam ingatan. ”Beliau tak mau makan sebelum anggotanya makan. Ketika makan pun selalu akan bersama kita semuanya. Itu betul-betul memberikan kesan yang baik,” ungkap Irvan.

Bukan hanya dedikasi kepada pekerjaan yang membuat nama Chandra dikenang banyak orang. Tetapi, rasa persaudaraan dengan sesama warga Maluku yang tinggal di Surabaya juga begitu kental.

Erick Reginald Tahalele, tokoh warga Maluku di Surabaya, ingat betul bagaimana kepedulian Chandra kepada saudara-saudara sesama Maluku. Pada saat itu, ada kejadian di sebuah kelab malam di Tegalsari. Pada saat kejadian tersebut, Erick ditelepon oleh Chandra untuk menanyakan kabar. ”Tengah malam Bu Chandra telepon saya, padahal itu setengah satu malam. Bu Chandra menanyakan kondisi anak-anak. Saat itu, Bu Chandra di kantor DP5A Tegalsari,” ujar Erick. Dia meminta agar Chandra tak perlu ke Polsek Tegalsari. Tetapi begitu Erick datang, Chandra juga datang.

Chandra, menurut cerita Erick, bisa meredam suasana menjadi lebih tenang. Para pemuda dari Maluku tersebut bisa mengendalikan diri. Dia menyebutkan, pada saat itu memang kondisinya cukup panas. Tetapi, sosok Chandra membuat suasana jadi tenang. ”Bagi saya, almarhum sosok sahabat yang punya perhatian mendalam kepada saudara,” tambah Erick.

Para pelayat kemarin siang memang terdiri atas ratusan orang yang mengenakan baju seragam Maluku Satu Rasa. Mereka memberikan penghormatan terakhir untuk Chandra.

***

Suatu pagi pada akhir Maret, Chandra Oratmangun sedang duduk lesehan bersama pejabat lain Pemkot Surabaya di tenda di halaman Taman Surya. Mereka sedang mengupas jahe untuk dijadikan wedang pokak. Chandra juga asyik dalam kegiatan tersebut. Dia sedikit berkeringat. ”Seperti sauna dengan aroma jahe,” kata Chandra saat itu.

Para kepala dinas memang sudah biasa bekerja bersama atau gotong royong seperti itu. Terutama dalam penanganan Covid-19 saat ini. Chandra mendapat tugas menyiapkan bantuan sembako untuk para warga yang terdampak pandemi. Chandra juga tangkas bertugas.

Maka, pada saat sedang berperang menghadapi Covid-19 dan salah satu srikandi berpulang, terasa kehilangan yang sangat dalam. Memang kematian orang-orang terdekat meninggalkan duka tak terperi. Selamat jalan Bu Chandra…

Football news:

Guillem Balage: Juventus wants to get rid of Ronaldo's salary. It was offered to everyone, including Barcelona
Mbappe thanked the PSG doctors: Don't tell me about the pain
Liverpool presented a turquoise away kit for the 2020/21 season
The President of PSG: Neymar and Mbappe will never go away. They are one of the best players in the world
Thomas Tuchel: If both legs were intact, you could have seen my 40-meter sprint
PSG saved Tuchel's pet: Choupo-moting got everyone for free, managed not to score from a centimetre, and now pulled Paris to the semi-finals of the Champions League
Gian Piero Gasperini: The worst part is that we were so close. I can only thank the guys