logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
star Bookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Saksi Tak Pernah Diperintah Wawan Urus Proyek

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Staf PT Bali Pacific Pragama (PT BPP), M Lutfi Ishaq mengaku tak ada perintah dari Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan untuk mengkondisikan proyek pekerjaan.

Lutfi bahkan menyebut Wawan tidak mengetahui soal pengkondisian proyek itu.

"Tidak ada (perintah dari Wawan)," ujar M Lutfi Ishaq saat bersaksi untuk terdakwa Wawan, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Menurut Lutfi, permintaan pengkondisian itu datang dari pengusaha Ita Rusdinar dan Dadang Prijatna. Lutfi menerima perintah dari Ita pada tahun 2008 dan Dadang pada tahun 2011.

"Saya baru nerima perintah dari Ita itu di tahun 2008, ya saya akui itu. Di tahun 2007 itu saya sifatnya membantu saja, jadi perintah langsung itu tahun 2008. Kemudian tahun 2011 saya dapat perintah langsung dari pak Dadang untuk mengondisikan proyek," ujar Lutfi.

Dikatakan Lutfi, Ita banyak memiliki perusahaan. Dari sejumlah perusahaan milik Ita, ada yang berbentuk CV dan PT. Perusahaan berbadan hukum CV biasanya digunakan untuk menggarap proyek berskala kecil. Sementara PT untuk menggarap proyek dengan nilai cukup besar.

"Dia punya perusahaan CV Bilqis Sakinah, Azahra, CV Aji Banten, PT Alwan Pratama," tutur dia.

"Yang menengah PT Alwan Pratama," ditambahkan Lutfi.

Kategori menengah, sambung Lutfi, biasanya dipakai untuk menggarap nilai proyek mulai dari Rp 5 miliar hingga Rp 10 miliar. Sementara kategori kecil itu biasanya terkait nilai proyek berkisar Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar.

"Itu yang saya tau pak," kata Lutfi.[Ivs].

Themes
ICO