Indonesia

Tim Karawitan SMKN 12 Surabaya Gondol Emas Ketiga di FLS2N 2020

Menorehkan prestasi dalam ajang bergengsi Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) bukan hal baru bagi tim karawitan SMKN 12. Tiga tahun berturut-turut, mereka membawa pulang medali emas. Namun, menang lomba nasional di tengah merebaknya virus korona akhirnya menggulirkan cerita yang berbeda bagi mereka.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

”Awalnya, kami pesimistis. Karena penuh keterbatasan dalam situasi Covid. Belum lagi halangan di mana-mana. Pengorbanannya luar biasa,” ungkap Eko Jalu Pramono, guru pendamping tim karawitan SMKN 12, saat ditemui Jawa Pos awal Oktober lalu.

Dia mengatakan bahwa semestinya tim karawitan yang terdiri atas lima siswa kelas XI dan kelas XII jurusan karawitan sudah dipersiapkan untuk berangkat ke Padang.

Yang tahun ini menjadi lokasi perlombaan FLS2N.

Namun, rencana itu kandas. Panitia pusat mengganti sistem lomba dengan cara online. Tentu saja, hal tersebut menjadi hal baru bagi mereka. Sebab, setiap tahun siswa-siswa yang terpilih untuk berlaga dalam kompetisi itu menunjukkan performanya secara langsung. Di atas panggung, di hadapan dewan juri. Tapi, tahun ini harus lewat video.

Jalu mengatakan bahwa pihak sekolah sampai mendistribusikan alat-alat musik tradisional seperti gendang, gong, dan bonang ke rumah lima siswa. Dengan demikian, mereka bisa merekam video penampilan dari rumah masing-masing. ”Jadi, memang direkam satu per satu dari rumah mereka. Setelah itu, baru digabung menjadi satu kesatuan video utuh,’’ imbuh alumnus ISI Surakarta tersebut.

Pembimbing persiapan lomba Suparman menjelaskan, video karawitan yang dikirim ke panitia pusat merupakan live record. Bukan dubbing. Karena itu, perlu upaya dan ketekunan ekstra. Sebab, alat musik tradisi memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan alat musik modern. Dinamika sekaligus teknik cara bermainnya jauh lebih luas dan rumit.

”Betul-betul live record. Bukan bikin musiknya dulu, baru ditempeli sama video lain atau dubbing. Makanya, pengambilan video bisa mengulang beberapa kali. Setiap kali ada siswa yang salah, ngulang lagi,” paparnya. Hal itu dilakukan demi menghasilkan live record dengan harmoni yang utuh dan indah.

Tantangan yang dirasakan bukan hanya soal pengambilan video. Melainkan juga keterbatasan waktu dan tempat untuk latihan. Jalu maupun Suparman selaku pembimbing dan pendamping tidak bisa mengumpulkan lima anggota tim karawitan untuk latihan bareng di sekolah. Sebab, mereka wajib mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah untuk tidak berkumpul demi terlaksananya social distancing.

”Kami tidak bisa intens bertemu dan latihan bareng. Karena saat itu Surabaya masih zona merah,” kenang Jalu.

Dia dan Suparman pun membuat petunjuk melodi atau bentuk musikal yang lantas dibagikan kepada masing-masing anggota tim lomba. Proses itu dimulai pada Juli. Setiap anggota tim lantas mempelajari dan menghafalkan melodi serta lirik dari rumah.

Total alat musik yang dimainkan berjumlah 16 buah. Tidak mengherankan, masing-masing anggota tim bisa multifungsi. Sebut saja Caesar Prayoga, siswa jurusan karawitan kelas XII yang didapuk untuk memainkan bonang, gender penerus, siter, kluncing Banyuwangi, sekaligus terbang. Ya, lima alat musik tradisional sekaligus! Belum lagi ditambah sebagai vokalis.

”Paling sulit itu bonang. Temponya harus cepat. Perpindahan dari alat musik satu ke yang lain juga cukup susah. Butuh konsentrasi dan kecepatan,” ujar Caesar.

Hal serupa diungkapkan Five Prita Oktavia, satu-satunya siswa perempuan di dalam tim yang juga berperan sebagai vokalis utama. Menurut dia, memainkan alat musik tradisional sekaligus menyanyi dalam lirik bahasa Jawa betul-betul butuh konsentrasi tinggi.

Apalagi, dia memainkan tiga alat sekaligus. Yaitu, kenong, peking, dan kethuk. Masing-masing punya ciri khas ketukan yang berbeda. ’’Sambil nyanyi dan main alat musik, sambil sesekali melihat panduan rekaman irama sama notasi kepatihan biar enggak salah. Mengulang pengambilan video sampai kurang lebih tiga kali,’’ ungkapnya.

Semua perjuangan dan pengorbanan yang dibarengi tekad serta usaha keras itu membuahkan hasil yang membuat hati girang. Mereka diganjar sebagai juara I FLS2N Bidang Lomba Musik Tradisi Daerah Kategori Penyaji Inovatif. Prestasi emas itu dipertahankan sejak 2018. Tahun ini adalah kali ketiga tim karawitan SMKN 12 membawa pulang emas untuk Surabaya.

”Kemenangan tahun ini jauh lebih berkesan dan membekas karena dilakukan di tengah pandemi. Tapi, nyatanya kreativitas tetap bisa muncul demi kelestarian dan pengembangan seni budaya,’’ ujar Biwara Sakti Pracihara selaku kepala sekolah.

Video karawitan berdurasi 10 menit yang berhasil mencuri hati para juri tersebut bertajuk Harmoni Surabaya.

Ikon-ikon sekaligus keindahan Kota Pahlawan dituangkan dalam lirik yang dibuat oleh Jalu dan Suparman. Lirik tersebut lantas dileburkan ke dalam melodi alat-alat musik tradisional. Melalui harmoni yang kadang beradu dalam kecepatan tempo. Kadang pula melambat seiring suara vokalis utama yang mendayu-dayu.

Begini cuplikan lirik Harmoni Surabaya itu.

Yen Suroboyo kuncoro mrih ngremboko

Harmoni Suroboyo kang nyoto

Asri indah tatane kutho

Mujudake ayem ati bersih indah nan rapi

Taman indah penuh warna aman damai Suroboyoku

Kang nduweni patung Suro lan Boyo

Jembatan Mayangkara ing Wonokromo

Mampir tuku dawet nang Pasar Blauran

Ojok lali mlaku-mlaku Nang Tunjungan

Tuku Semanggi kan rujak cingur e

Iku ikon e….. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Football news:

Goodbye, Dad Buba Diop. Thanks to you, I lived the most memorable tournament of my childhood
Nuno about 2:1 with Arsenal: We played amazing, very proud. Jimenez recovered
Arsenal scored 13 points in 10 opening matches - the worst result in 39 years
West Brom can be bought by us investors. The Chinese owner of the club wants 150 million pounds
Lampard on Mourinho's words about ponies: You have Kane, Son, bale and alli. We are all fighting to win the Premier League
Mourinho on winning the Premier League: Tottenham are not in the race, because we are not a horse, but a pony
Laurent Blanc: I will return to football, but in children's. Now coaches are being asked to increase the cost of players, I don't like it