logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo logo
o
q
y
Nothing found
ICO
starBookmark: Tag Tag Tag Tag Tag
Indonesia

Wacana poros ketiga, serius atau hanya eksperimen politik para elite parpol?

Merdeka.com - Pendaftaran capres cawapres tinggal lima bulan lagi. Wacana terbentuknya berbagai poros buat mengusung capres cawapres pun mulai ramai belakangan. Salah satunya wacana poros ketiga.

Wacana pembentukan poros ketiga makin ramai setelah elite Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar pertemuan di salah satu mall di Jakarta, Kamis (8/3) lalu. Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan yang hadir dalam pertemuan mengatakan tiga partai tersebut membuka peluang yang luas terbentuknya poros baru selain poros Jokowi dan Prabowo. Menurutnya, semakin banyak calon di Pilpres semakin bagus.

"Dan terbuka untuk siapa saja. Kan poinnya makin banyak pilihan makin bagus dan masyarakat punya pilihan yang baik. Partainya siapa saja boleh toh. Hari ini baru tiga," katanya.

Namun, wacana poros ketiga kian hari kian meredup. Bahkan, belakangan para elite parpol yang hadir dalam pertemuan justru pesimis poros tersebut bisa terbentu. Ketum PAN Zulkifli Hasan menyebut meski secara matematis poros ketiga dimungkingkan terbentuk, tapi butuh keajaiban. Sementara Sekjen PKB Abdul Kadir Karding menegaskan peluang PKB bergabung poros ketiga sangat tipis.

Pengamat politik Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menilai, wacana poros ketiga adalah bagian dari manuver dan eksperimen para elite politik. Hal itu dilakukan untuk melihat respons publik dan para elite parpol lain.

"Elite-elite ini cuma doyan eksperimen. Kalau mereka serius (membentuk poros ketiga), mereka bertemu dan mencari titik tengah. Itu juga cara elite parpol buat melihat respons publik. Menurut saya ini (wacana pembentukan poros) harus dimatangkan betul di internal parpol, jangan uji coba-coba saja," katanya kepada merdeka.com, Rabu (14/3) malam.

Arya memprediksi buat beberapa waktu ke depan wujud koalisi buat mengusung capres cawapres akan cair. Menurutnya, akan sulit menebak apakah akan tercipta poros ketiga atau tidak.

Dia mengatakan perubahan peta politik akan mudah terjadi. Karenanya, semuanya masih mungkin jika belum ada sikap resmi dari masing-masing parpol tersebut.

"Karena gelagat elite parpol soal itu (pembentukan poros ketiga) enggak serius juga. Hari ini misalnya Zulkifli Hasan ketemu Mega," katanya.

Dia menilai peristiwa politik yakni pertemuan antar elite parpol yang terjadi belakangan belum cukup menggambarkan akhir dari peta politik koalisi. Termasuk juga pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyatakan siap mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

"Itu uji coba juga, semua elite melakukan eksperimen semua," katanya.

Arya memprediksi ke depan parpol-parpol akan melakukan eksperimen bongkar pasang capres cawapres dan koalisi. Hal itu dilakukan buat melihat reaksi publik.

Peta koalisi, menurutnya, akan mulai mengerucut setelah pilkada serentak 2018 selesai pada Juni mendatang.

"Awal Juni sudah mulai mengerucut. Dulu Jokowi juga deklarasi di detik-detik akhir, banyak di pilkada juga begitu deklarasi dan koalisi terbentuk di detik akhir. Deklarasi menit terakhir juga bisa mengecoh lawan, karena kalau di awal muncul, lawan bisa siapkan lawannya," katanya. [dan]